Selamat datang di BLOGnya Pak Boedi

Sunday, 20 January 2013

CONTOH PROPOSAL SKRIPSI PENELITIAN TINDAKAN KELAS : MAHASISWA SEMESTER AKHIR PGMI


PROPOSAL

PENELITIAN TINDAKAN KELAS  (PTK)
UPAYA GURU DALAM MENGEFEKTIFKAN METODE BERTANYA DAN DISKUSI PADA PELAJARAN IPS TENTANG PERISTIWA PERANG DI PONOGORO DI KELAS V MIS AL – JIHADKECAMATAN CIATER   KABUPATEN SUBANG TAHUN 2011


KATA PENGANTAR 

Bismillaahirrohmaanirrohiim

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena semata-mata atas izin-Nya dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan laporan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang berjudul “UPAYA GURU DALAM MENGEFEKTIFKAN METODE BERTANYA DAN DISKUSI PADA PELAJARAN IPS TENTANG PERISTIWA PERANG DI PONOGORO DI KELAS V MI AL JIHAD KEC.CIATER KABUPATEN SUBANG TAHUN 2011”.

Kami menyadari sepenuhnya akan keterbatasab pengetahuan dan pengalaman kami sebagai timpenulis, sehingga tanpa bantuan dan dorongan dari berbagai pihak maka penelitian ini sulit dilaksanakan. Untuk itu kami sebagai tim penulis menyampaikan rasa terima kasih yang mendalalam atas bantuan dan kerjasamanya juga kepercayaan yang diberikan kepada penulis dalam melaksanakan penelitian ini.

Akhir kata, semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan karunia-Nya atas segala amal dari semua pihak yang membantu penulis dalam menyelesaikan penelitian ini.

Jalancagak, Januari 2011
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ………………………………………………………………………… i

DAFTAR ISI …………………………………………………………………………………….. ii

A.     JUDUL PENELITIAN  ……………………………………………………………….

B.     BIDANG KAJIAN  …………………………………………………………………….

BAB  I   PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah …………………………………………………….
Perumusan dan Pemecahan Masalah ……………………………………
Tujuan Penelitian ………………………………………………………………
Manfaat Penelitian …………………………………………………………….
BAB  II  KAJIAN PUSTAKA ……………………………………………………………..

BAB  III      DESAIN METODE PENELITIAN

Perencanaan ……………………………………………………………………..
Teknik Pengumnpulan Data ……………………………………………….
Personalia Penelitian ………………………………………………………….
Jadwal Penelitian ………………………………………………………………
Biaya Penelitian ………………………………………………………………..
BAB  IV      HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian………………………………………………………………….
Pembahasan ……………………………………………………………………..
BAB  V  KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

Kesimpulan ………………………………………………………………………
Rekomendasi ……………………………………………………………………
Saran ……………………………………………………………………………….
DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

PENELITIAN TINDAKAN KELAS





A.     JUDUL

UPAYA GURU DALAM MENGEFEKTIFKAN METODE BERTANYA DAN DISKUSI PADA PELAJARAN IPS TENTANG PERISTIWA PERANG DI PONOGORO DI KELAS V SDN SARIREJA I KECAMATAN JALANCAGAK KABUPATEN SUBANG TAHUN 2011.

B.     BIDANG KAJIAN

Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial dengan upaya mengefektifitaskan metode Bertanya dan Diskusi  dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

BAB I

PENDAHULUAN


A.  LATAR BELAKANG

Pendidikan mempunyai peranan penting dalam perkembangan dan kelangsungan hidup bangsa, dengan demikian pendidikan harus terlaksana dengan baik sesuai dengan perkembangn dan tuntutanyang menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas.

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang saat ini semakin banyak dibicarakan khususnya dunia pendidikan, yaitu sebagai upaya pemecahan masalah, melakukan perubahan dan perbaikan dalam proses pembelajaran, baik itu ide, cara berpikir, persepsi dan aktivitas siswa lebih aktif dan mandiri.

Dalam mengidentifikasi masalah tersebut, berdasarkan masalah yang dirasakan sehari-hari oleh guru didalam kelasnya sendiri melalui refleks semuanya berasal dari masalah siswa, daripada proses pembelajaran, karena aspek ini merupakan aspek yang stategis dan merupakan kunci keberhasilan pendidikan.

Mengkaji proses pembelajaran IPS dalam metode Diskusi dan Bertanya, ditunjukan untuk meningkatkan kemampuan siswa kelas V SDN Sarireja I Kecamatan Ciater. Berdasarkan hasil pengamatan, diketahui bahwa setiap tes nilai rata-rata IPS lebih rendah dibandingkan dengan mata pelaran yang lain, bahkan disetiap tingkatan kelas. Oleh karena itu, hal tersebut patut mendapatkan kepedulian yang sungguh-sungguh dalam memecahkan masalah tersebut.

Dengan mengkaji tingkatan kelas ini, sangan diharapkan dapat menanggulangi permasalahan tersebut. Adapun data yang dianalisis dengan cara “Learning Style” yakni secara berturut-turut, yang dilaksanakan dalam tiga siklus. Subyek penelitian dalam penelitian ini adalah siswa kelas V MIS Al – Jihad I Kecamatan Ciater semester II tahum ajaran 2011/2011 dengan kolaburasi guru dengan Kepala Sekolah SDN Sarireja I Kecamatan Jalancagak.

Dengan dilaksanakannya penelitian ini, diharapkan berhasil menggiring terjadinya inovasi pada diri guru dan meningkatkan kemampuan dan kualitas pendidikan bagi sisiwa.

B.  PERUMUSAN  MASALAH

Berdasarkan latar belakang masalah diatas dan hasil refleksi terhadap semua masalah yang berkaitan dengan rendahnya nilai rata-rata IPS yang dicaai dalam evaluasi akhir belajar terhadap proses pembelajaran IPS, maka rumusan permasalahan ini adalah :

Bagaimanakah bentuk kekurangan siswa yang dalam proses pembelajaran, sehingga banyak siswa mendapat nilai rendah ?
Upaya tindakan apakah untuk mengatasi rendahnya nilainya rat-rata siswa pada mata pelajaran IPS  dibandingkan dengan mata pelajaran yang lain ?
Bagaimanakah keberhasilan mengkaji tindakan terhadap berlangsungnya proses belajar, bisa berhasilkah ?
C.  TUJUAN PENELITIAN

Sesuai dengan perumusan masalah yang telah dikemukakan diketahui dan dianalisis maka :

Secara umum tujuan penelitian berfokus pada pada upaya mengatasi kesulitan siswa dalam tes akhir belajar sebagai dampak dan proses belajar pelajaran IPS.
Secara khusus orientasi penelitian ini adalah membantu guru dalam mengatasi kesulitan siswa, dengan mempraktekan strategi, alternative dalam pembelajaran IPS dengan menggunakan metode diskusi.
Secara praktik metode penelitian ini adalah menguji tindak model pembelajaran model IPS yang dapat mengatasi kesulitan siswa dalam menghadapi tes akhir pembelajaran.
Secara konseptual orientasi penelitian ini adalah membuktikan secara empiris teori yang ditunjuk dalam penelitian, bisa memecahkan masalah yang dihadapi siswa selama ini.
D.  MANFAAT PENELITIAN

Penelitian ini diharapkan dapat nermanfaat bagi :

Siswa
Sebagai bahan masukan bagi siswa untuk memanfaatkan METODE Bertanya dan Diskusi dalam rangka meningkatkan prestasi belajarnya.

Guru
Sebagai bahan masukan guru dalam meningkatkan mutu pendidikan di kelasnya.

Lembaga Pendidikan
Dengan hasil penelitian ini diharapkan SDN Sarireja I Kecamatan Jalancagak dapat lebih meningkatkan pemberdayaan pemberian metode bertanya kolaborasi diskusi agar prestasi belajar siswa lebih baik dan perlu dicoba untuk diterapkan pada pelajaran lain.

Melakukan perubahan dan perbaikan dalam proses pembelajaran yang dilaksanakan secara kolaburasi, dapat menghasilkan kerja yang tangguh, serta peduli terhadap kinerja sendiri. Mengamati konsekuensi menilai diri secara kritis dan memodifikasi rencana untuk melanjutkan perbaikan berdasarkan pada apa yang telah dilakukan.


























BAB II

KAJIAN PUSTAKA


Proses pembelajaran IPS di SD khususnya yang dilaksanakan pada siswa kelas V ditunjukan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam mengungkapkan segala gagasan atau suatu keinginan bahkan perasaan melalui metode diskusi. Siswa dituntut terampil berbicara mengungkapkan permasalahannya, keterampilan siswa itu, ditandai dengan penataan keadaan siswa terhadap suatu kompetensi. Guru sebagai pelaksana pembelajaran di kelas dituntut untuk meningkatakan kemampuan siswa berkenaan dengan pelaksanaan kurikulum yang baru yaitu KTSP yang berpola (PEKEM). Suatu kompetensi yang diartikan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak.

Pelaksanaan pembelajaran di SD dilaksanakan selama pandangan pembelajaran sesuai dengan tuntutan kurikulum untuk mengembangkan aspek sebagai berikut :

Mengembangkan pengetahuan dan keterampilan dasar yang berguna bagi dirinya dalam kehidupan sehari-hari.
Mengembangkan pemahaman tentang perkembangan masyarakat Indonesia.
Memiliki kebanggaan sebagai bangsa Indonesia yang Cinta Tanah Air.
Dengan demikian pelajaran IPS akan lebih efektif bila hasil proses pembelajaran di SD dapat membangun kompetensi siswa yang tercermin dalam performance.

Dalam kegiatan sehari-hari siswa SD di Kecamatan Jalancagak khususnya di SDN Sarireja I Kecamatan Jalancagak tampaknya tidak begitu menggembirakan dalam menghadapi pelajaran IPS.

Siswa lebih menganggap pelajaran IPS sebagai mat pelajaran yang di wajibkan dan hanya merupakan tugas rutin untuk mengikutinya, setelah berulang kali dikaji dan dicermati dapat disimpulkan bahwa motivasi para siswa untuk belajar IPS sangat rendah.

Gejala kurangnya motivasi siswa terhadap belajar IPS merupakan masalah perlu dikaji ulang agar tidak mentyebabkan siswa seperti ini,dengan cara memfokuskan perbaikan siswa, sistem mengajar dan bahan ajar agar dapat menungkatkan motivasi siswa belajar lebih senang dan menarik melalui diskusi.

Menurut Wrightman 1997 peran guru adalah :

“Terciptanya serangkaian tingkah laku yang sering berkaitan yang dilakukan dalam suatu situasi tertentu serta berhubungan dengan kemajuan perubahan tingkah laku dan perkembangan siswa yang menjadi tuannya”.

Demikian juga dalam proses pembelajaran IPS di Kecamatan Jalancagak, dimana siswa saling bertanya jawab tentang materi yang dibahas, dan dapat menggal materi baru.

Tentang rendahnya nilai prestasi siswa dalam belajar IPS setelah melakukan diagnosis, maka ditemukan bahwa faktorpenyebabnya antara lain :

Penyampaian materi yang kurang jelas bagi siswa.
Penggunaan istilah-istilah oleh guru yang sulit dimengerti siswa.
Penyampaian tidak disertai dengan contoh sebagai alat yang lebih konkrit sehingga siswa merasa jemu dan monoton.
Tidak menggunakan alat Bantu / media pembelajaran.
Beberapa pernyataan masalah segera diatasi dalam proses pembelajaran yang akan dilaksanakan, berdasarkan analisis tersebut, serta dengan mempertibangkan berbagai hal, maka dapat ditarik suatu titik masalah sebagai berikut :

Mengemas proses ppembelajaran dengan menggunakan metode diskusi yang dapat membangkitkan motivasi belajar siswa.
Menganalisis dengan mengklasifikasi dan mengidentifikasi bentuk-bentuk prestasi, baik tinggi maupun rendah terhadap siswa.
Mengkaji tindak.
Hasil yang diharapkan.
Dengan langkah-langkah diatas yang dikaji berdasarkan proses pembelajaran, siswa diharapkan memiliki keberanian dalam bertanya dala berdiskusi.

Guru berusaha untuk menggali pertanyaan siswa, jadi siswa ditantang rasa ingin tahu terhadap ovyek yang sedang dipelajari dengan cara mengajukan pertanyaan. Kemudian siswa melakukan penyelidikan atas pertanyaan mereka sendiri seperti kata Fatre dan Cosgrove (dalam Harlen, 1992).

Pengembangan pola piker dan daya piker tampak pada keingintahuan siswa terhadap obyek yangsedang dipelajari. Hal ini muncul dalam pertanyaan-partanyaan yang muncul dari siswa saat terjadi proses belajar menajar.
BAB III

DESAIN METODE PENELITIAN


A.  PERENCANAAN

Subyek dalam penelitian ini adalah sisw akelas V SDN Sarireja I Kecamatan Jalancagak Kabupaten Subang. Data penelitian diambil berdasarkan hasil belajar siswa, hasil pengamatan serata catatan lapangan selama kegiatan penelitian berlangsung.

Penelitian ini berupa tindakan kelas yang dicanangkan kurang lebih tiga siklus. Adapun proses rencana tinakan meliputi :

Pra Tindakan
Pada tahap ini mengadakan tes awal untuk mengetahui kemampuan siswa tentang hasil belajar siswa dalam IPS, kemudin diidentifikasi, dan difokuskan pada kesalahan kemudian dijadikan bahan acuan didaam rencana pembelajaran.

2. Perencanaan Penelitian
Kegiatan yang dilaksanakan aalah :

Membuat skenario pembelajaran dalam bentuk rencana pembelajaran.
Membuat lembaran observasi untuk merekam pelaksanaan kegiatan pembelajaran yang ditunjukan untuk meningkatkan prestasi siswa  dalam belajar IPS.
Membuat alat bantu untuk memudahkan pelaksanaan pembelajaran.
Mengemas bahan pelajaran yang dapat menjaring siswa lebih aktif dan kreatif dalam belajar IPS.
B.  TEHNIK PENGUMPULAN DATA

Kegiatan yang berlangsung selama tiga minggu di SDN Sarireja I Kecamatan Jalancagak Kabupaten Subang. Dalam proses pembelajaran, alat yang digunakan sebagai bahan analisis antara lain kualitatif dan kuantitatif (absensi dan perbuatan).

Tindakan
Kegiatan yang dilakukan dalam tahap ini adalah mengimplementasikan scenario pembelajaran yang telah direncanakan, untuk memberikan penjelasan tentang kegiatan pembelajaran, mata pelajaran, waktu, buku sumber, dan kelengkapan lainnya.

Observasi
Melaksanakan obervasi tentang pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan lembaran observasi tentang kejadian atau masalah-masalah yang ditemukan dalam pembelajaran, yang dapat mengganggu peningkatan belajar siswa dalam pelajaran IPS. Hasil observasi inilah yang akan digunakan untuk mengukur keberhasilan tindakan, oleh karena itu data yang dikumpulkan harus benar-benar data yang sebenarnya, tidak ditanbah dan tidak dikurangi.

Refleksi
Berdasarkan temuan data tersebut, dilakukan proses analisis, yang kemudian ditemukan solusi untuk direfleksikan hasilnya. Solusi tersebut dijadikan acuan untuk merencanakan siklus berikutnya dan seterusnya sampai siswa kreatif dan aktif dalam pembelajaran IPS dan sesuai dengan pola PAKEM.

C.  PERSONALIA PENELITIAN

Penelitian ini melibatkan Tim peneliti, identitas dari Tim tersebut adalah :

Nama                                 :  SAEPUNAJAH,S.Pd
NIP                                   :  -

Pekerjaan                           :  Guru MIS AL – JIHAD

Tugas dalam penelitian     :  Sebagai Peneliti

Nama                                 :  AHMAD BAKRI,S.Pd
NIP                                   :  -

Pekerjaan                           :  Guru MIS AL – JIHAD

Tugas dalam penelitian     :  Pengumpulan dan Anlisis Data

Nama                                 :  YAYAT NURDIN HIDAYAT,S.Pd
NIP                                   :  -

Pekerjaan                           :  Guru MIS Al Jihad

Tugas dalam penelitian     :  Observer


D.  JADWAL  KEGIATAN


MINGGU KE       KEGIATAN
I                
PERSIAPAN

Telaah Pustaka
Observasi dan Orientasi Lapangan
Menyususn Rencana Penelitian
Pengurusan Perizinan Penelitian
II              
PELAKSANAAN DILAPANGAN

Diskusi Masalah yang akan diteliti
Pegumpulan data
Perencanaan pembelajaran. Pelaksanaan Pembelajaran
Refleksi tindakan
Evaluasi keseluruhan
Menghasilkan model pembelajaran
III             
PENGOLAHAN DATA

Penyusunan konsep lapangan
Diskusi konsep lapangan
Revisi konsep lapangan
Pengetikan hasil penelitian
Penggandaan hasil penelitian
Pelaporan hasil penelitian

E.  BIAYA PENELITIAN

TAHAP PERSIAPAN

No          URAIAN KEBUTUHAN SISWA      BESAR UANG
1              Rapat    Rp 50.000,00
2              Penyusunan Proposal    Rp 100.000,00
3              Perizinan Penelitian        Rp 75.000,00
4              Penyusunan Instrumen Proposal              Rp 50.000,00
JUMLAH               Rp 275.000,00
TAHAP PELAKSANAAN

No          URAIAN KEBUTUHAN / KEGIATAN           BESAR UANG
1              Penjadwalan      RP 25.000,00
2              Pelaksanaan PTK              Rp 175.000,00
3              Pengumpulan Data         Rp 150.000,00
4              Melakukan Refleksi        Rp 75.000,00
5              Evaluasi                Rp 50.000,00
6              Lembaran Observasi       Rp 75.000,00
JUMLAH               Rp 550,000,00

LAPORAN HASIL PENELITIAN

No          URAIAN KEBUTUHAN / KEGIATAN           BESAR UANG
1              Analisis Data       Rp 50.000,00
2              Konsep Laporan Diskusi                Rp 100.000,00
3              Diskusi Hasil Temuan      Rp 75.000,00
4              Rapat Laporan   Rp 50.000,00
5              Pengetikan Laporan Akhir            Rp 200.000,00
6              Penggandaan Laporan Akhir       Rp 45.000,00
7              Penjilidan Laporan           Rp 70.000,00
8              Pengiriman Hasil Laporan             Rp 35.000,00
JUMLAH               Rp 675.000,00
Total keselruhan anggaran yang dibutuhkan Rp 1500.000,00












BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


A.  HASIL PENELITIAN

Pada bagian ini dijelaskan laporan hasil penelitian berdasarkan judul yang telah dilaksanakan secara garis besar, dimana pelaksanaannya telah ditentukan dalam tiga siklus. Pada siklus ke satu, telah bisa ditemukan adanya kemajuan, pada siklus ke dua lebih baik, dan pada siklus ke tiga ditemukan adanya peningkatan dari sebelumnya dengan perbandingan sebagai berikut :

No          Jumlah Siswa     Hasil       Persentase
1              24 Orang              15 Orang              62,50 %
2              24 Orang              18 Orang              75,00 %
3              24 Orang              21 Orang              87,50 %
C.  PEMBAHASAN

Kegiatan selanjutnya perlu lebih ditingkatkan supaya mendapatkan hasil yang optimal dengan nilai maksimum. Dengan menggunakan metode bertanya dan berdiskusi proses pembelajaran yang dialami siswa lebih baik, materi lebih jelas sehingga hasilnya lebih baik. Alat peraga yang digunaka sebagai hubungan dengan materi yang lebih konkrit, maka tercipta suasana belajar lebih menarik, siswa lebih responsive dan aktif.

Penggunaan metode bertanya dan diskusi ini, membuat penyampaiannya kepada siswa tidak jenuh karena siswa lebuh berkembang dan tertarik untuk melakukan tugas dari guru. Hal yang tidak kalah pentingnya dalam proses pembelajaran adalah mengfatur pemanfaatan waktu belajar. Gur sebagai pelaksana pendidikan tindakan kelas mendapat tambahan kegiatan harus mengadakan penelitian. Peserta didik harus dilatih pada proses berpikir yang lebih tinggi dari penerapan analisis sintesis dan bervikir evaluatif dalam proses pembelajaran dan menggunakan ranah keterampilan serta ranah afektif (nilai dan sikap). Hasil penelitian yang diharapkan adalah :

Secara teoritis dapat menghasilkan kerangka teori tentang proses pembelajaran IPS sebagai dampak rendah prestasi siswa.
Secara metodologis dapat menghasilkan suatu strategi alternative dan dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan pembelajaran IPS di SD, yang dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan pembelajaran IPS SD, dan dapat menjadikan peningkatan prestasi siswa.
Secara praktis dapat menghasilka suatu model pembelajaran yang dapat membantu guru dalam mengatasi pembelajaran untuk dikembangkan agar menjadi suatu upaya peningkatan prestasi siswa.
Proses pembelajaran dengan menggunakan metode bertanya dan diskusi melatih siswa berpikir kritis dan kreatif.

BAB V

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI


A.  KESIMPULAN

Dari paparan diatas penulis dapat menarik kesimpulan sebagai berikut :

Rendahmya prestasi siswa dalam belajar, dikarenakan proses pembelajaran yang tidak menarik,sehingga menyebabkan rendahnya minat siswa dalam belajar pengetahuan sosial.
Siswa merasa kesulitan dalam belajar jika dalam proses pembelajaran guru hanya menerangakan dan tidak ada umpan balik bagi siswa.
Dalam proses pembelajaran IPS metode bertanya dan diskusi akan membangkitkan belajar siswa.
Penggunaan alat peraga dengan jelas dan metode yan menarik maka siswa akan lebih paham dan responsive.
Dengan menggunakan metode bertanya dan diskusi dengan membentuk kelompok, maka kesulitan siswa akan mudah dipecahkan.
Bagi siswa yang lamban, ternyata metode bertanya dan diskusi lebih efektif, kreatif, serta meningkatakan kemampuan belajar siswa.
B.  REKOMENDASI

Salah satu wujud kepedulian guru terhadap kualitas hasil pembelajaran dituntut untuk melakukan inovasi-inovasi pendidikan dan pengajaran.
Untuk meningkatakan interaksi pembelajaran IPS sebaiknya guru mengefektifkan metode gertanya dan diskusi dengan merumuskan permasalahan dan memberi kesempatan kepada siswa untuk berpikir.
Kepala sekolah untuk mempersiapkan guru agar lebi terampil dalam melakukan metode bertanya dan diskusi.
Kreatifitas siswa dalam proses belajar mengajar ditunjang dengan keikutsertaan semua pihak khususnya dilingkunagn pendidikan untuk memotivasinya.
C.  SARAN

Salah satu permasalahan yang belum teratasi adalah rendahya nilai rat-rata prestasi siswa dalam pelajaran IPS di SDN Sarireja I Kecamatan Jalancagak, maka salah satu wujud kepedulian guru terhadap kualitas hasil pembelajaran adalah dengan melakukan inovasi-inovasi pend+

7idikan dan pengajaran.

Untuk meningkatakan interaksi pembelajaran IPS, sebaiknya guru megefektifkan metode bertanya dan diskusi dengan cara merumuskan permasalahan dan memberi kesempatan kepada siswa untuk berpikir. Kepala sekolah dan guru agar lebih terampil dalamelakukan metode bertanya dan diskusi.

Kualitas siswa dalam proses be;ajar mengajar ditunjang dengan keikutsertaan semua pihak khususnya dilingkungan pendidikan untuk memotivasinya.

DAFTAR PUSTAKA


Basuki Wibawa. 2003. Penelitian Tindakan Kelas. Depdiknas Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Kependidikan.

Gak Wardani. 2002. Penelitian Tindakan Kelas.

Hilsa Karil. 2002. Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta : Universitas Terbuka, Departemen Pendidikan Nasional.

LAMPIRAN – LAMPIRAN

Keterangan Tentang Peneliti
Surat izin Penelitian
Rencana Tindakan
Rencana Perbaikan Tindakan
Lembar Penilaian
Hasil Penelitian Siklus I
Hasil Penelitian Siklus II
Lembar Observasi
Data Observer

CONTOH PROPOSAL SKRIPSI PENELITIAN TINDAKAN KELAS : MAHASISWA SEMESTER AKHIR PGMI


PROPOSAL
PENELITIAN TINDAKAN KELAS
PENDEKATAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS AKTIVITAS UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR AQIDAH AKHLAK SlSWA KELAS VII SEMESTER I MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI 3 PONDOK PINANG JAKARTA SELATAN
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Fakta dilapangan menunjukkan bahwa banyak siswa kelas VII M.Ts Negeri 3 Pondok Pinang bersikap pasip ketika berlangsung pembelajaran dikelas. Selama pembelajaran berlangsung siswa menjadi pendengar yang baik. Ketika guru mejelaskan materi pelajaran kebanyakan mereka diam. Demikianpun ketika guru memberikan pertanyaan, sebagian besar siswa diam tanpa komentar. Apalagi ketika guru meminta agar siswa bertanya, merekapun diam. Fakta ini dilatar belakangi karena siswa kurang diberikan strategi pembelajaran yang memadai. Oleh sebab itu dalam proses pembelajaran di sekolah dibutuhkan kreativitas dan keaktifan seorang pengajar dalam membuat strategi belajar mengajar semenarik mungkin sehingga menimbulkan motivasi belajar siswa khususnya materi aqidah akhlak.
Sehagaimana dijelaskan diatas bahwa proses belajar yang menarik dan aktif adalah keinginan setiap praktisi pendidikan. Seorang guru dalam sebuah proses belajar mengajar dituntut untuk menggunakan berbagai metode yang menarik untuk menciptakan proses belajar yang kondusif. Salah satu metode yang menarik dalam proses belajar mengajar adalah metode pendekatan aktivitas, dimana dalam prosesnya lebih mengedepankan atau berpusat pada keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar (Student Center). Dengan pembelajaran yang lebih menekankan pada keaktifan siswa (Student Activity) diharapkan mampu meningkatkan motivasi belajar yang pada akhirnya juga diikuti dengan hasil atau prestasi belajar sesuai dengan tujuan pendidikan.
Fenomena di atas menunjukkan bahwa proses pembelajaran dengan menekankan pada aktivitas siswa perlu dilaksanakan secara terus menerus. Hal ini dapat dilakukan apabila pola interaksi antara guru dan siswa terjalin dengan baik. Namun hal lain yang juga sangat penting dalam melaksanakan kegiatan tersebut demi meningkatkan motivasi belajar dan aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar adalah kemampuan guru dalam merencanakan suatu proses kegitan belajar mengajar sehingga tercapai tujuan pembelajaran.
Berdasarkan uraian diatas, peneliti termotivasi untuk melakukan sebuah penelitian tindakan kelas dengan berfokus pada peningkatan motivasi belajar siswa dalam bidang aqidah akhlak melalui kegiatan pembelajaran berbasis aktivitas.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan pada latar belakang tersebut diatas, maka dalam penelitian ini penetiti dapat merumuskan beberapa focus penelitian sebagai berikut :
1. Apakah pendekatan berbasis aktivitas dapat menumbuhkan motivasi belajar aqidah akhlak pokok bahasan sifat-sifat Allah pada siswa MTs Negeri 3 Pondok Pinang kelas VII pada semester I tahun pelajaran 2009/2010 ?
2. Bagaimana dampak kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan pendekatan berbasis aktivitas pada mata pelajaran aqidah akhlak pokok bahasan sifat-sifat Allah pada siswa MTs Negeri 3 Pondok Pinang kelas VII- A pada semester I tahun pelajaran 2009/2010 ?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan pada rumusan masalah tersebut, maka penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan :
1. Tingkat Pendekatan berbasis aktivitas dalam menumbuhkan motivasi belajar aqidah akhlak pokak bahasan sifat-sifat Allah pada siswa MTs Negeri 3 Pondok Pinang kelas VII pada semester I tahun pelajaran 2009/2010.
2. Tingkat dampak kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan pendekatan berbasis aktivitas dalam pembelajaran bidang aqidah akhlak pokok bahasan sifat-sifat Allah pada siswa MTs Negeri 3 Pondok Pinang kelas VII pada semester I tahun pelajaran 2009/2010.
D. Manfaat Penelitian
Dari penelitian ini nantinya diharapkan dapat memberikan manfaat bagi khazanah keilmuan :
1) Secara teoritis, penelitian tindakan kelas ini diharapkan dapat menghasilkan temuan-temuan mengenai strategi pembelajaran dengan menggunakan pendekatan berbasis aktivitas pada mata pelajaran aqidah akhlak khususnya pada pokok bahasan sifat-sifat Allah pada siswa MTs Negeri 3 Pondok Pinang kelas VII pada semester I tahun pelajaran 2009/2010.
2) Secara praktis, penelitian tindakan kelas ini bisa bermanfaat bagi :
a. Guru Madrasah Tsanawiyah
Menambah wawasan dan pengetahuan dalam meningkatkan kualitas pendidikan bidang aqidah akhlak pada siswa kelas V1I semester I Madrasah Tsanawiyah Negeri 3 Pondok Pinang melalui implementasi strategi pembelajaran dengan menggunakan pendekatan berbasis aktivitas, dan pada MTs umumnya.
b. Siswa Madrasah Tsanawiyah
Untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa dengan menggunakan pendekatan berbasis aktivitas khususnya materi Aqidah Akhlak
c. Lembaga Madrasah Tsanawiyah
Sebagai satu masukan atau solusi untuk mengetahui hambatan dan kelemahan penyelenggaraan pembelajaran serta sebagai upaya untuk memperbaiki dan mengatasi masalah-masalah pembelajaran yang dihadapi di kelas, sehingga dapat meningkatkan motivasi belajar siswa dengan harapan akan diperoleh hasil prestasi yang optimal demi kemajuan lembaga sekolah.
d. Mapenda Dep. Agama Kota Jakarta Selatan
Sebagai masukan dalam pelaksanaan proses pembelajaran agar mengikuti, memperhatikan, dan menerapkan hasil yang diperoleh dari penelitian ini, sehingga kelemahan pelaksaan dalam proses belajar mengajar di lapangan pendidikan dapat diperbaiki sesuai dengan rekomendasi dari hasil - hasil penelitian tindakan kelas.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Motivasi Belajar Aqidah akhlak
1. Pengertian Motivasi
Istilah motivasi berasal dari kata latin "movere" yang artinya bergerak (Stresser, 144t). Adapun pengertian mengenai motivasi menurut para ahli, antara lain : menurut Teaven dan Smith (146) konstruksi yang mengaktifkcan dan mengarahkan prilaku dengan memberi dorongan atau daya pada organisme untuk melakukan suatu aktivitas. Menurut Chauhan (14?8) motivasi adalah suatu proses yang menimbulkan aktivitas pada organisme sehingga terjadi suatu prilaku. Wordworth (Petri, 1481; Franken, 1982) r-nengggunakan istiiah Drive rtau mativasi adalah suatu kanstruksi dengan tiga karakteristik yaitu intensitas, arah dan persisten. Artinya motfvasi dengan intensitas yang e,ukup akan memberikan arah kepada individu untuk melakukan sesuatu secara tekun dan secara terus menerus (Djalali, 2001). Menurutnya motivasi digelongkan menjadi tiga hagian, pertama, Orgcrraik needs (kebutuhan vital, seperti : makan, minum, dan lain­lain). Kedua, Emergency motives, ditirnbulkan karena suatu kebutuhan yang harus terpenuhi dan tergantung pula pada keadaan lingkungan. Ketiga, Objectives motives dan interest (L3akir, 1993).Menurut Eysenk dan kazvan­katuan motivasi dirumuskan sebagai suatu proses yang menentukan suatu tingkatan kegiatan, intensitas, konsistensi, serta arah umum dari tingkah laku manusia, merupakan konsep yang rumit dan berkaitan dengan konsep-konsep seperti minat, bakat, konsep diri, sikap dan sebagainya. Menurut Maslow (1943, 1970) motivasi suatu proses tingkah laku manusia yang dibangkitkan dan diarahkan oleh kebutuhan tertentu seperti harga diri diantaranya (Slameto, 2003). David McClelland, Abraham Maslow, Wan dan Brown seperti dikutip oleh Wahjosumidjo (1983), bahwa motivasi adalah suatu proses psikologis yang mencerminkan interaksi antara sikap, kebutuhan, persepsi dan kepuasan yang terjadi pada diri seseorang (Kosasih, 2004). Sedangkan menurut McDonald motivasi ialah suatu perubahan energi di dalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya afek-tif dan reaksi untuk mencapai tujuan. Dilihat dari komponennya motivasi memiliki dua komponen, yaitu : komponen dalam (Inner Component) dan komponen luar(Outer Component). Komponen dalam ialah perubahan di dalam diri seseorang, keadaan tidak puas, ketegangan atau kecemasan psikologis (Anxiety Of Psychology). Komponen luar adalah apa yag di inginkan seseorang, tujuan yang menjadi arah perbuatannya (Hamalik, 2002).
Serdasarkan beberapa pendapat dari para ahli diatas penulis menyimpulkan bahwa motivasi belajar aqidah akhlak adalah suatu kekuatan (Power), tenaga(Forces), serta daya (Energy), atau suatu keadaan yang sangat kompleks (A Complex State) dan kesiapsedian (Preparatory Set), dalam diri ir.dividu untuk bergerak (To A-love, Alotion, Motive) kearah tujuan tertentu, baik disadari atau tidak disadari dan dalam hal ini mengenai semua aspek dalam bidang aqidah akhlak. Motivasi tersebut timbul dan tumbuh dari dalam diri individu(Instrinsik) dan dari luar diri individu (Ekstrin,sik)
2. Jenis - Jenis Motivasi
Salah satu fungsi pengajaran adalah memberikan motivasi kepada siswa agar mereka bisa melaksanakan tugas - tugasnya dengan sebaik mungkin secara efektif dan produktif. Adapun mengenai motivasi terbagai menjadi dua macam, yaitu : motivasi instrinsik dan motivasi ekstrinsik.
a. Motivasi Instrinsik (Instrinsic Motivation)
Motivasi Instrinsik adalah motif - motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam diri individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu. Dengan kata lain motivasi intrinsik adalah motivasi atau dorongan yang timbul dari dalam diri siswa sendiri, misalnya keinginan untuk mendapatkan keterampilan tertentu, keinginan untuk beramal, keinginan untuk menguasai nilai - nilai yang terkandung dalam pelajaran yang diajarkan, bukan karena keinginan lain seperti mendapat pujian, hadiah, nilai yang tinggi, dan lain sebagainya.
b. Motivasi Ekstrinsik (Ekstrinsic Motivation)
Motivasi ekstrinsik merupakan kebalikan dari motivsi instrinsik. Motivsi ekstrinsik adalah dorongan yang aktif yang muncul karena adanya faktor perangsang dari luar, misalnya diakui, dipuji, diberi hadiah, dicela, dan sebagainya semuanya berpengaruh terhadap sikap dan prilaku siswa dalam proses belajar mengajar.
Bila seseorang telah memiliki motivasi instrinsik dalam dirinya, maka ia secara sadar akan melakukan suatu kegiatan yang tidak memerlukan motivsi dari luar dirinya. Dalam ak-tivitas belajar, motivasi instrinsik sangat dibutuhkan. Seseorang yang tidak memiliki motivasi instrinsik sulit sekali melakukan ak-tivits belajar secara terus menerus. Perlu ditegaskan, bahwa anak didik yang memiliki motivasi instrinsik cenderung akan menjadi orang yang terdidik, berpengetahuan, memiliki keahlian tertentu dan gemar belajar.
b. Motivasi Ekstrinsik (Ekstrinsic Motivation)
Motivasi ekstrinsik meraapakan kebalikan dari motivasi instrinsik. Motivsi ekstrinsik adalah dorongan yang aktif yang muncul karena adanya faktor perangsang dari luar, misalnya diakui, dipuji, diberi hadiah, dicela, dan sebagainya semuanya berpengaruh terhadap sikap dan prilaku siswa dalam proses belajar mengajar. Motivasi ekstrinsik bukan berarti motivsi
yang tidak diperlukan dan tidak baik dalam pendidikan. Motivsi ekstrinsik diperlukan agar anak didik mau belajar. Berbagai macam cara bisa dilakukan agar anak didik termotivasi untuk belajar. Guru yang berhasil adalah guru yang bisa membangkitkan minat siswa. Karena itu, guru harus bisa dan pandai menggunakan motivasi ekstrinsik ini dengan akurat dan benar dalam menunjang proses interaksi edukatif di kelas (Djamarah, 2QQ2).
3. Prinsip- Prinsip Motivasi
Beberapa prinsip motivasi yang dapat dijadikan pedoman dalam proses belajar mengajar, antara lain :
a. Prinsip Kompetisi
prinsip kompetisi adalah persaingan secara sehat, baik inter maupun antar pribadi. Kompetisi inter pribadi (Self Competition) adalah kompetisi dalam diri pribadi masing-masing dari tindakan atau unjuk kerja dalam dimensi tempat dan waktu. Sedangkan kompetisi antar pribadi adalah persaingan antara individu yang satu dengan yang lain. Dengan adanya persaingan yang sehat, dapat ditimbulkan motivasi untuk bertindak secara lebih baik. Salah satu bentuk misainya perlombaan karya tulis, lomba menjadi sisura teladan, lomba keterampilan dan lain sebagainya. Kompetisi juga dapat dilakukan antar sekolah untuk mendorong siswa melakukan berbagai upaya unjuk kerja belajar yang baik.
b. Prinsip Pemacu
Dorongan untuk melakukan berbagai tindakan akan terjadi apabila ada pemacu tertentu. Pemacu ini dapat berupa informasi, nasehat, amanat, percontohan, dan lain-lain. Dalam hal ini motif teratur untuk mendorong agar selalu melakukan berbagai tindakan dan unjuk kerja melalui konsultasi pribadi, nasehat atau amanat dalam upacara, ceramah keagamaan, bimbingan, pembinaan, dan lain sebagainya.
c. Prinsip ganjaran dan hukuman
Ganjaran yang diterima seseorang dapat meningkatkan motivasi untuk melakukan sesuatu yang menimbulkan ganjaran itu. Setiap unjuk kerja yang baik apabila diherikan sebuah reward yang memadai cenderung akan menimbulkan motivasi. Misalnya pemberian hadiah kepada siswa yang berprestasi. Selain prinsip ganjaran, prinsip hukuman juga dapat menimbulkan motivasi siswa untuk tidak lagi melakukan tindakan yang menyebabkan hukuman itu. Hal yang harus diterapkan secara proporsional dan benar-benar dapat memberikan motivasi.
d. Prinsip Kejelasan Dan Kedekatan Tujuan
Makin jelas dan makin dekat suatu tujuan, maka makin mendorong seseorang untuk melakukan tindakan. Sehubungan dengan prinsip ini, maka seyogyanya setiap siswa memahami tujuan belajarnya secara jelas.
Hal itu dapat dilakukan dengan memberikan penjelasan suatu tujuan dari tindakan yang diharapkan. Cara lain adalah dengan membuat tujuan-tujuan yang masih umum dan jauh menjadi tujuan yang khusus dan lebih dekat.
e. Pemahaman Hasil
Dalam uraian diatas, teiah dikemukakan bahwa hasil yang dicapai seseorang merupakan balikan dari apa yang telah dilakukannya, dan itu semua dapat memberikan motivasi untuk melakukan tindakan selanjutnya. Perasaan sukses yang ada pada diri seseorang akan mendorongnya untuk selalu memelihara dan meningkatkan kerja agar terus menjadi lebih baik lagi. Pengetahuan tentang balikan, memiliki kaitan erat dengan kepuasan yang dicapai. Sehubungan dengan hal tersebut, para pengajar seyogyanya selalu memberikan balikan kepada setiap unjuk kerja yang telah dihasilkan oleh setiap siswa. Misalnya mengembalikan tugas-tugas yang telah dibuat siswa dengan nilai dan komentarnya. Umpan balik (Feedback) seperti ini akan sangat bermanfaat untuk mengukur derajat hasil belajar yang telah dihasilkan untuk keperluan perbaikan dan peningkatan selanjutnya. Para siswa hendaknya selalu dipupuk untuk memiliki rasa sukses dan terhindar dari berkembangnya rasa gagal.
f. Pengernbangan Minat
Minat dapat diartikan sebagai rasa senang atau tidak senang dalam menghadapi suatu objek. Prinsip dasarnya adalah motivasi seseorang cenderung akan meningkat apabila yang bersangkutan memiliki minat yang besar dalam melakukan tindakannya. Dalam hubungan ini motivasi dapat dilakukan dengan jalan menimbulkan atau mengemhangkan minat siswa dalam melakukan kegiatan belajar. Dengan demikian siswa akan memperoleh kepuasan dan unjuk kerja yang baik. Pada akhimya dapat menumbuhkan motivasi belajar secara efektif dan produktif.
g. Lingkungan Yang Kondusif
Lingkungan kerja yang kondusif, baik lingkungan fisik, sosial, maupun psikologis, dapat menumbuhkan dan mengembangkan motif untuk bekerja dengan baik dan produktif. Untuk itu dapat diciptakan lingkungan fisik yang sebaik mungkin, misalnya kebersihan ruangan, tata letak, fasilitas, dan sebagainya. Demikian pula lingkungan sosial­psikalagis seperti hubugan antar pribadi, kehidupan kelompok, kepimimpinan, promosi, bimbingan, kesempatan untuk maju, kekeluargaan dan sebagainya.
h. Keteladanan
Prilaku guru secara langsung atau tidak langsung mempunyai pengaruh terhadap prilaku murid yang sifatnya positif maupun negatif. Prilaku guru dapat meningkatkan motivasi belajar. Sehubungan dengan itu, maka sangat diharapkan agar prilaku guru dapat menjadi sumber keteladanan bagi para siswanya. Dengan contoh-contoh yang dapat diteladani, para siswa dapat lebih meningkatkan produktivitas belajar mereka.
Sehubungan dengan hal diatas, ada beberapa prinsip belajar dan motivasi yang disampaikan oleh Hamalik (2002), agar mendapatkan perhatian dari pihak perencana pengajaran khususnya dalam merencanakan kegiatan belajar mengajar.
Prinsip tersebut dapat digunakan oleh pendidik dalam
peningkatan motivasi peserta didik dalam mengikuti belajar mengajar, sehingga didapatkan prestasi belajar yang optimal, diantaranya: 1) Kebermaknaan.Suatu bidang studi akan lebih bermakna bagi siswa apabila guru herusaha menghubungkannya dengan pengalaman yang mereka miliki sebelumnya (masa lampau). Sesuatu yang menarik minat dan bernilai tinggi bagi siswa berarti bermakna baginya. Oleh sebab itu guru hendaknya berusaha menyesuaikan pelajaran dengan minat para siswanya, dengan cara memberikan kesempatan kepada siswa berperan serta memilih. 2) Modelling. Siswa akan suka memperoleh tingkah laku baru bila disaksikan dan ditirunya. Pelajaran akan lebih mudah dihayati dan diterapkan oleh siswa jika guru mengupayakan
mengajarkan dalam bentuk tingkah laku model, bukan hanya dengan mencerahkan atau menceritakan secara lisan. Dengan model tingkah laku itu, siswa dapat mengamati dan menirukan apa yang diinginkan oleh guru. 3) Komunikasi Terbuka. Siswa lebih suka belajar apabila penyajian terstruktur supaya pesan-pesan guru terbuka terhadap pengawasan siswa. 4) Prasyarat.Apa yang telah dipelajari oleh siswa sebelumnya mungkin merupakan faktor penting yang dapat menentukan keberhasilan siswa dalam belajar. Karena itu hendaknya guru berusaha mengetahui atau mengenali prasyarat- prasyarat yang telah mereka miliki. Siswa yang berada dalam kelompok yang bersyarat akan mudah mengamati hubungan antara pengetahuan yang sederhana yang telah mereka miliki dengan pengetahuan yang kompleks yang akan dipelajari.5) Novelty. Siswa akan lebih senang belajar bila perhatiannya ditarik oleh penyajian-penyajian yang baru (Novelty) atau masih asing. 6) Latihan atau Praktik yang Aktif dan Bermanfaat. Praktik secara aktif berarti siswa mengerjakan sendiri, bukan mendengarkan ceramah dan mencatat pada buku tulis. 7) Latihan Terbagi. Siswa lebih senang belajar, jika latihan di bagi menjadi sejumlah kurun waktu yang pendek. Latihan yang demikian akan meningkatkan motivasi siswa dalam belajar dibandingkan dengan latihan yang dilakukan sekaligus dalam jangka waktu yang panjang. 8) Kurangi secara sistematis Paksaan belajar. Akan tetapi bagi siswa yang sudah mulai menguasai pelajaran, maka secara sistematis pemompaan itu dikurangi dan akhirnya siswa dapat belajar sendiri. 9) Kondisi yang menyenangkan. Siswa akan lebih senang melanjutkan belajarnya jika kondisi pengajarannya menyenangkan.
3. Prinsip- Prinsip Motivasi
Beberapa prinsip motivasi yang dapat dijadikan pedoman dalam proses belajar mengajar, antara lain :
a. Prinsip Kompetisi
Prinsip kompetisi adalah persaingan secara sehat, baik inter maupun antar pribadi. Kompetisi inter pribadi (Self Competition) adalah kompetisi dalam diri pribadi masing-masing dari tindakan atau unjuk kerja dalam dimensi tempat dan waktu. Sedangkan kompetisi antar pribadi adalah persaingan antara individu yang satu dengan yang lain. Dengan adanya persaingan yang sehat, dapat ditimbulkan motivasi untuk bertindak secara lebih baik.
b. Prinsip Pemacu
Dorongan untuk melakukan berbagai tindakan akan terjadi apabila ada pemacu tertentu. Pemacu ini dapat berupa informasi, nasehat, amanat, percontohan, dan lain-lain. Dalam hal ini motif teratur untuk mendorong
agar selalu melakukan berbagai tindakan dan unjuk kerja melalui konsultasi pribadi, nasehat atau amanat dalam upacara, ceramah keagamaan, bimbingan, pembinaan, dan lain sebagainya.
c. Prinsip ganjaran dan hukuman
Ganjaran yang diterima seseorang dapat meningkatkan motivasi untuk melakukan sesuatu yang menimbulkan ganjaran itu. Setiap unjuk kerja yang baik apabila diberikan sebuah reward yang memadai cenderung akan menimbulkan motivasi. Misalnya pemberian hadiah kepada siswa yang berprestasi. Selain prinsip ganjaran, prinsip hukuman juga dapat menimbulkan motivasi siswa untuk tidak lagi melakukan tindakan yang menyebabkan hukuman itu.
d. Prinsip Kejelasan Dan Kedekatan Tujuan
Makin jelas dan makin dekat suatu tujuan, maka makin mendorong seseorang untuk melakukan tindakan. Sehubungan dengan prinsip ini, maka seyogyanya setiap siswa memahami tujuan belajarnya secara jelas.
Hal itu dapat dilakukan dengan memberikan penjelasan suatu tujuan dari tindakan yang diharapkan.
e. Pemahaman Hasil
Dalam uraian diatas, telah dikemukakan bahwa hasil yang dicapai seseorang merupakan balikan dari apa yang telah dilakukannya, dan itu semua dapat memberikan motivasi untuk melakukan tindakan selanjutnya. Perasaan sukses yang ada pada diri seseorang akan mendorongnya untuk selalu memelihara dan meningkatkan kerja agar terus menjadi lebih baik
lagi. Pengetahuan tentang balikan, memiliki kaitan erat dengan kepuasan yang dicapai. Sehubungan dengan hal tersebut, para pengajar seyogyanya selalu memberikan balikan kepada setiap unjuk kerja yang telah dihasilkan oleh setiap siswa. Misalnya mengembalikan tugas-tugas yang telah dibuat siswa dengan nilai dan komentarnya. Umpan balik (Feedback) seperti ini akan sangat bermanfaat untuk mengukur derajat hasil belajar yang telah dihasilkan untuk keperluan perbaikan dan peningkatan selanjutnya.
f. Pengernbangan Minat
Minat dapat diartikan sebagai rasa senang atau tidak senang dalam menghadapi suatu objek. Prinsip dasarnya adalah motivasi seseorang cenderung akan meningkat apabila yang bersangkutan memiliki minat yang besar dalam melakukan tindakannya. Dalam hubungan ini motivasi dapat dilakukan dengan jalan menimbulkan atau mengemhangkan minat siswa dalam melakukan kegiatan belajar. Dengan demikian siswa akan memperoleh kepuasan dan unjuk kerja yang baik. Pada akhimya dapat menumbuhkan motivasi belajar secara efektif dan produktif.
g. Lingkungan Yang Kondusif
Lingkungan kerja yang kondusif, baik lingkungan fisik, sosial, maupun psikologis, dapat menumbuhkan dan mengembangkan motif untuk bekerja dengan baik dan produktif. Untuk itu dapat diciptakan lingkungan fisik yang sebaik mungkin, misalnya kebersihan ruangan, tata letak, fasilitas, dan sebagainya. Demikian pula lingkungan sosial­psikalagis seperti hubugan antar pribadi, kehidupan kelompok, kepimimpinan, promosi, bimbingan, kesempatan untuk maju, kekeluargaan dan sebagainya.
h. Keteladanan
Prilaku guru secara langsung atau tidak langsung mempunyai pengaruh terhadap prilaku murid yang sifatnya positif maupun negatif. Prilaku guru dapat meningkatkan motivasi belajar. Sehubungan dengan itu, maka sangat diharapkan agar diharapkan agar prilaku guru dapat menjadi sumber keteladanan bagi para siswanya. Dengan contoh-contoh yang dapat diteladani, para siswa dapat lebih meningkatkan produktivitas belajar mereka.
Sehubungan dengan hal diatas, ada beberapa prinsip belajar dan motivasi yang disampaikan oleh Hamalik (2002), agar mendapatkan perhatian dari pihak perencana pengajaran khususnya dalam merencanakan kegiatan belajar mengajar.
Prinsip tersebut dapat digunakan oleh pendidik dalam peningkatan motivasi peserta didik dalam mengikuti belajar mengajar, sehingga didapatkan prestasi belajar yang optimal, diantaranya: 1) Kebermaknaan. Suatu bidang studi akan lebih bermakna bagi siswa apabila guru herusaha menghubungkannya dengan pengalaman yang mereka miliki sebelumnya (masa lampau). Sesuatu yang menarik minat dan bernilai tinggi bagi siswa berarti bermakna baginya. Oleh sebab itu guru hendaknya berusaha menyesuaikan pelajaran dengan minat para siswanya, dengan cara memberikan kesempatan kepada siswa berperan serta memilih. 2) Modelling. Siswa akan suka memperoleh tingkah laku baru bila disaksikan dan ditirunya. Pelajaran akan lebih mudah dihayati dan diterapkan oleh siswa jika guru mengupayakan mengajarkan dalam bentuk tingkah laku model, bukan hanya dengan mencerahkan atau menceritakan secara lisan. Dengan model tingkah laku itu, siswa dapat mengamati dan menirukan apa yang diinginkan oleh guru. 3) Komunikasi Terbuka. Siswa lebih suka belajar apabila penyajian terstruktur supaya pesan-pesan guru terbuka terhadap pengawasan siswa. 4) Prasyarat. Apa yang telah dipelajari oleh siswa sebelumnya mungkin merupakan faktor penting yang dapat menentukan keberhasilan siswa dalam belajar. Karena itu hendaknya guru berusaha mengetahui atau mengenali prasyarat- prasyarat yang telah mereka miiiki. 5) Novelty. Siswa akan lebih senang belajar bila perhatiannya ditarik oleh penyajian-penyajian yang baru (Novelty) atau masih asing. 6) Latihan atau Praktik yang Aktif dan Bermanfaat. Praktik secara aktif berarti siswa mengerjakan sendiri, bukan mendengarkan ceramah dan mencatat pada buku tulis. 7) Latihan Terbagi. Siswa lebih senang belajar, jika latihan di bagi menjadi sejumlah kurun waktu yang pendek. Latihan yang demikian akan meningkatkan motivasi siswa dalam belajar dibandingkan dengan latihan yang dilakukan sekaligus dalam jangka waktu yang panjang. 8) Kurangi secara sistematis Paksaan belajar. Akan tetapi bagi siswa yang sudah mulai menguasai pelajaran, maka secara sistematis pemompaan itu dikurangi dan akhirnya siswa dapat belajar sendiri. 9) Kondisi yang merryenangkan. Siswa akan lebih senang melanjutkan belajarnya jika kondisi pengajarannya menyenangkan.
B. Aqidah akhlak
1. Pengertian Akhlak
Kata akhlak berasal dari kata jamak "Alkhuluku" atau "Al-khalku" yang bermakna "kejadian". Kedua kata tersebut berasal dari kata "Khalaka" yang mempunyai arti "menjadikan". Dari kata "Khalaka" inilah timbul bermacam­macam kata seperti : Al- khulku yang mempunyai makna "budi pekerti", Al­Khalik bermakna "Tuhan Pencipta Alam" (Masy'ari, 1980).
2. Jenis - Jenis Akhlak
Pada dasarnya perbuatan manusia ada yang baik dan ada buruk. Perbuatan yang baik disebut dengan akhlak yang baik dan identik dengan sifat para Nabi dan orang - orang shiddiq, sedangkan perbuatan yang buruk disebut dengan akhlak tereela atau buruk. Maka pada hakikafiya akhlak ada dua, yaitu akhlak yang baik atau terpuji (Al -Akhlaaqul Mahmuudah) dan akhlak yang buruk atau tercela (Al -Akhlaaqul Madzmuumah).
3. Pembelajaran Aqidah akhlak
Allah S WT sang pencipta dan pengatur alam semesta dengan kemahakuasaannya. Menciptakan manusia dari setetes air mani dengan kekuasaannya kita menjadi manusia yang sempurna, banyak sekali kenikmatan yang di berikan Allah SWT kepada manusia tetapi manusia kurang begitu mensyukuri apa yang telah diberikan-Nya. Manusia diberi akal untuk berfkir atas semua yang ada dimuka bumi, dilaut dan diluar angkasa, dimana semua itu ada yang mengatur dan menciptakannya tiada lain adalah Allah S WT dengan segala sifat-sifat-Nya.
Secara umum sifat-sifat Allah dapat dibagi kedalam tiga macam, yaitu:
a. Sifat Wajib Allah, merupakan sifat yang pasti dimiliki Allah Mw.
b. Sifat Mustahil Allah, merupakan sifat yang pasti tidak dimiliki Allah SWT.
c. Sifat Jaiz Allah, merupakan sifat kewenangan Allah, yaitu Allah SWT bebas untuk melakukan sesuatu ataupun tidak melakukan sesuatu.
C. Pendekatan Berbasis Aktivitas
Dalam aktivitas pembelajaran di sekolah, guru harus mengusahakan agar siswa dapat melakukan proses belajar secara efektif agar memperoleh hasil pembelajaran yang sebaik-baiknya. Dalam kemajuan metodologi proses belajar mengajar saat ini asas aktivitas (Student activity) lebih di tonjolkan melalui suatu program unit activity, sehingga kegiatan belajar siswa menjadi dasar untuk mencapai tujuan dan hasil belajar yang lebih memadai.
Dari beberapa macam aktivitas menunjukkan bahwa dalam kegiatan belajar mengajar, aktivitas siswa sangat diperlukan dalam memenuhi tujuan pengajaran. Sehingga dalam suatu kegiatan pengajaran, aktivitas siswa harus disesuaikan dengan materi pengajaran yang akan disampaikan oleh guru kepada siswa.
Menurut Hamalik (2001)
Ada beberapa jenis aktivitas yang disampaikan oleh para ahli, antara lain : (1) Kegiatan-kegiatan visual. (2) Kegiatan-kegiatan lisan. (3) Mendengarkan. (4) Menulis. (5) Menggambar. (6) Metrik. ('7) Mental. (8) Emosional. (9) Berpikir. (10) Mengingat Adapun penjelasannya sebagai berikut :
1. Kegiatan Visual. Yang termasuk kegiatan ini adalah membaea, meiihat gambar-gambar, mengamati eksperimen, demonstrasi, pameran, dan mengamati orang lain bekerja atau bermain.
2. Kegiatan-kegiatan Lisan. Kegiatan mengemukakan suatu fakta atau prinsip, menghubungkan suatu kejadian, mengajukan pertanyaan, memberi saran, mengemukakan pendapat, wawancara, diskusi, dan instrupsi adalah implementasi dari kegiatan lisan.
3. Kegiatan Mendengarkan. Dalam proses belajar mendengarkan adalah salah satu hal yang dilakukan, karena melalui aktivitas ini seorang siswa dapat memahami bahan pelajaran yang diajarkan.
4. Kegiatan Menulis, misalnya: menulis cerita, laporan, mengarang, membuat rangkuman, mengerjakan tes dan mengisi angket.
S. Kegiatan Menggambar, seperti membuat grafik, chart, diagram, dan lain sebagainya.
6. Kegiatan Metrik. Kegiatan dalam bidang metrik antara lain melakukan percobaan, memilih alat-alat, melaksanakan pameran, membuat model, menyelenggarakan permainan, menari dan berkebun.
7. Kegiatan mental, meliputi memecahkan masalah, mengingat, menganalisis, melihat hubungan - hubungan dan membuat keputusan.
8. Kegiatan Emosional. Kegiatan- kegiatan daiam kelompok ini terdapat dalam semua jenis kegiatan dan overlap satu sama lain. Dari kegiatan ini diharapkan bisa menimbulkan minat, berani, tcnang, dan lain- lain.
9. Berpikir. Berpikir termasuk aktivitas belajar. Dengan berpikir orang memperoleh penemuan baru, setidak-tidaknya orang menjadi tahu tentang hubungan antar sesuatu.
10. Mengingat. Mengingat yang didasari atas kebutuhan serta kesadaran untuk mencapai tujuan belajar lebih lanjut adalah termasuk aktivitas belajar, apalagi mengingat itu berhubungan dengan aktivitas-aktivitas balajar lainnya (Ahamadi dan Supriyono, 1991).
Dari beberapa macam aktivitas diatas menunjukkan bahwa dalam kegiatan belajar mengajar, aktivitas siswa sangat diperlukan dalam memenuhi tujuan pengajaran. Sehingga dalam suatu kegiatan pengajaran, aktivitas siswa harus disesuaikan dengan materi pengajaran yang akan disampaikan oleh guru kepada siswa.
D. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan pada permasalahan dalam penelitian tindakan yang berjudul "Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Aktivitas Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Aqidah Akhlak Pokok Bahasan Sifat-Sifat Allah Siswa Kelas VII Semester I Madrasah Tsanawiyah Negeri 3 Pondok Pinang" yang dilakukan oleh peneliti, dapat dirumuskan hipotesis tindakan sebagai berikut : Jika strategi pembelajaran yang selama ini digunakan oleh guru Madrasah Tsanawiyah dalam kegiatan belajar mengajar siswa kelas VII semester I MTs Negeri 3 Pondok Pinang, diganti dengan strategi pembelajaran berbasis aktivitas, maka dimungkinkan akan berpengaruh terhadap peningkatan motivasi belajar dan diikuti dengan prestasi belajar aqidah akhlak pokok bahasan sifat-sifat Allah.



BAB III
METODE PENELITIAN
A. Setting Penelitian
Lokasi penelitian tindakan ini adalah Madrasah Tsanawiyah Negeri 3 Pondok Pinang Jakarta Selatan, kelas VII smester I terdiri dari 20 siswa dan 16 siswi. Kondisi kelas ukuran ruangan 7mX8m, dengan fentilasi pencahayaan ruangan cukup standardLama penelitian kurang lebih tiga bulan dimulai dari bulan Agustus sampai Desember 2009, sedangkan subjek dalam penelitian ini ditentukan berdasarkan faktor perbedaan kemampuan belajar antar siswa, dan kondisi lingkungan lokasi penelitian.
B. Prosedur Penelitian
Subyek penelitian ini adalah siswa kelas VII M.Ts Negeri 3 Pondok Pinang Jakarta Selatan pada tahun pelajaran 2009/2010. Penelitian ini termasuk jenis penelitian tindakan kelas yang ingin mengungkap seberapa tinggi Tingkat efektifitas Pendekatan berbasis aktivitas dalam menumbuhkan motivasi belajar aqidah akhlak pokak bahasan sifat-sifat Allah pada siswa kelas VII. Penelitian ini dilakukan dua siklus, masing-masing siklus terdiri dari tiga tatap muka clip_image002(pertemuan).
Proses Penelitian Tindakan
Refleksi awal, kelas VII smester I materi Aqidah Akhlak sangat pasip, siswa hanya mendengar dan menyimak, bagaimana guru dapat meningkatkan motivasi belajar agar siswa aktip?
1. Perencanaan
Meliputi penyampaian materi Aqidah Akhlak khususnya sifat-sifat Allah, latihan dengan mengerjakan beberapa soal, pembahasan latihan soal, keaktifan siswa dalam menjawab pertanyaan dan motivasi siswa.
2. Tindakan (action) kegiatan mencakup
a. Siklus I dimulai dari refleksi awal, kemudian dilanjutkan dengan perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi akhir.
b. Siklus II (sama dengan siklus I)
3. Observasi (pengamatan)
Pada tahap ini peneliti akan mengadakan pengamatan hasil belajar siswa dari keaktifan siswa yaitu :
1). Keaktifan siswa dalam diskusi
2). Banyaknya siswa yang bertanya
3). Banyaknya siswa yang menjawab pertanyaan guru/siswa lain
4). Memberikan pendapat
4. Refleksi
Pada kegiatan akhir tiap siklus perlu adanya pembahasan antara siklus-siklus tersebut untuk dapat menentukan kesimpulan atau hasil penelitian.
C. Metode Pengumpulan Data
Dalam penelitian tindakan ini peneliti menggunakan beberapa prosedur pengumpulan data agar memperoleh data yang objektif. Beberapa teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini, antara lain:
1. Observasi
Obsevasi diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap gejala yang tampak pada objek penelitian (Zuriah, 2003). Pengamatan dan pencatatan yang dilakukan terhadap objek ditempat terjadi atau berlangsungnya peristiwa.
Ada dua observasi yang dilakukan oleh peneliti dalam penelitian tindakan ini, diantaranya : (I) Obsevasi langsung, adalah pengamatan yang dilakukan dimana observer berada bersama dengan objek yang selidiki. Artinya peneliti ikut berpartisipasi secara langsung saat peristiwa terjadi. (2) Obsevasi tidak langsung, adalah observasi yang dilakukan dimana observer tidak berada bersama dengan objek yang selidiki. Tetapi, peneliti menggunakan daftar cek(Check List) dalam menggali atau mengumpulkan data ketika menggunakan terknik ini.
  1. Wawancara
Wawancara merupakan salah satu prosedur terpenting untuk mengumpulkan data dalam penelitian kualitatif, sebab banyak informasi yang diperoleh peneliti melalui wawancara. Wawancara dilakukan peneliti untuk memperoleh data sesuai dengan kenyataan pada saat peneliti melakukan wawancara. Wawancara dalam penelitian ini ditujukan kepada siswa kelas VII dan guru - guru kelas VII Madrasah Tsanawiyah Negeri 3 Pondok Pinang.
  1. Dokumentasi
Zuriah (2003), menjelaskan bahwa dokumentasi merupakan salah satu cara untuk mengumpulkan data melalui peninggalan tertulis, terutama berupa
arsip-arsip dan termasuk juga buku-buku tentang pendapat, teori, dalil, atau hukum -hukum lain yang berhubungan dengan masalah penelitian.
D. Indikator keberhasilan dalam penelitian ini adalah:
a. Sebanyak > 75% siswa dapat memahami materi sifat-sifat Allah
b. Ketuntasan belajar tercapai jika 85% siswa mendapat nilai > 65
c. Untuk kriteria keaktifan siswa mendapat nilai baik, dilihat dari hasil penilaian instrument.
DAFTAR PUSTAKA
Bogdan, R., & Biklen, S. 1982. qualitative research in education, Allyn & Bacon, Boston
Dakir, 1993. Dasar-Dasar Psikologi, Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Djalali, M. As'ad. 2001. Psikologi _Motivasi Minat Jabatan, Intelegensi, Bakat dan Motivasi Kerja, Wineka Media, Malang
Djamarah, S. B. 2002. Psik.ologi Belajar, PT. Rineka Cipta, Jakarta
Guba, E.G., & Lincoln, Y.S. 1981. Effective Evaluation, Jossey-Bass Publishers, Sanfransisco
Zuriah, N. 2003. Penelitian Tindakan Bidang Pendidikan Dan Sosial, edisi pertama, 13ayu Media Publishing, Malang
Hamalik, O. 2002. Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem, PT. Bumi Aksara, Jakarta
Hamalik, Oemar. 2002. Psikologi Belajar dan Mengajar, Penerbit Sinar Baru Algensindo, Bandung
Kosasih, Andreas. 2004. Peranan Motivasi terhadap Hasil Belajarnya Siswa,Tabularasa, Vol. 2, No. 3
Miles, M.B., & Huherman, A.M. 1984. .Analisis Data Kualitatif. Terjemahan oleh Tjejep Rohendi Rohidi, Universitas Indonesia, Jakarta
Moeleng, L.J. 1995. Metodologi Penelitian Kualitatif. PT. Remaja Rosdakarya, Bandung
Moeleng, L.J. 2000. Metodologi Penelitian Kualitatif. PT. Remaja Rosdakarya, Bandung
Nasution, S. 1998. Metode Penelitian .Naturalistic Kualitatif, Penerbit Tarsito, Bandung
Nurhadi, 2002. Pendekatan Kontekstual, Universitas Negeri Malang, Malang

AleXa Rank

pak-boedi.blogspot.com-Google pagerank,alexa rank,Competitor

IP Adrress....KaMu...

ip-location

Protected by News3Best

Get this widget

boedis@2012. Powered by Blogger.

Adsense

 
Support : Copyright © 2011. MAKALAH PENDIDIKAN INDONESIA - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger