Selamat datang di BLOGnya Pak Boedi

Sunday, 31 March 2013

SEJARAH PERADABAN ISLAM TENTANG PERANG SALIB

DISARIKAN DARI DISKUSI MATA KULIAH SEJARAH PERADABAN ISLAM 
Berikut adalah penyebab terjadinya perang salib menurut beberapa ahli :
  1. Adanya desakan dinasti Seljuk terhadap posisi dan kedudukan kekuasaan Byzantium Timur di Syam dan Byzantium Barat Asia Kecil. Byzantium merasa semakin terancam setelah Seljuk memenangkan pertempuran yang sangat menentukan di Muzikert pada tahun 1071. Sehingga tidak mengherankan jika Kaisar Byzantium meminta bantuan dari Eropa Barat, termasuk dari Paus yang memiliki kekuasaan besar.
  1. Faktor agama. Faktor ini cukup dominan dalam mendoktrinkan Perang Salib meskipun persoalannya sebenarnya cukup kompleks. Agama Kristen berkembang pesat di Eropa Barat terutama setelah Paus mengadakan reformasi. Sementara itu, Kristen mendapat saingan agama-agama lain, terutama Islam yang berhasil mengambil alih kekuasaan Byzantium di Timur yang juga menganut agama Kristen seperti Syria, Asia Kecil, dan Spanyol. Spanyol adalah benteng Eropa bagian barat dan Konstantinopel adalah benteng Eropa sebelah timur. Kedua pintu gerbang ini telah digempur kaum muslimin sejak Bani Umayyah, dilanjutkan oleh dinasti Islam 'Abbasyiah, kemudian pemerintahan Seljuk. Oleh karena itu, tidak Eropa pun merasa resah menghadapi perkembangan kekuasaaan Islam yang dianggapnya sebagai pesaing. Sementara itu, pada abad ke-11 kedudukan Paus mulai dianggap penting. Ia menjadi pemimpin semua aliran Kristen, baik di Barat maupun di Timur. Ia berambisi untuk menyatukan semua gereja. Pada waktu itu gereja telah terpecah menjadi gereja Barat dan gereja Timur, itu terjadi setelah Konferensi Rom pada tahun 869 M dan Konferensi Konstantinopel pada tahun 879 M. Paus berusaha menundukkan gereja Ortodox Timur, tetapi pertentangan antara gereja Barat dengan pemerintahan Byzantium menghalangi niat Paus ini. Kesempatan Paus untuk melaksanakan niatnya datang ketika ada permintaan bantuan dari Byzantium untuk menghadapi tekanan Salajiqah dari Parsi. Peluang emas ini dimanfaatkan juga agar Paus muncul sebagai pemimpin tunggal untuk semua penganut ajaran Kristen dalam berjuang melawan kaum muslimin, dan sekaligus bercita-cita menyatukan gereja Timur dan gereja Barat di Byzantium, serta mengembalikan tanah-tanah suci di Palestina.
  1. Faktor ekonomi. Faktor ini juga turut berperan dalam mendorong terjadinya Perang Salib. Ketika Eropa Barat (terutama Perancis) melancarkan propaganda Perang Salib, negaranya sedang menghadapi krisis ekonomi yang amat parah. Karena itu, sebagian besar golongan rakyat yang miskin dan nomaden menyambut baik seruan ini, bukan karena panggilan agama, tetapi karena kebutuhan pribadi. Buktinya, mereka merampok serta merampas makanan dan harta benda sesama orang Kristen dalam perjalanan menuju Konstantinopel ketika menyerang Jerusalem. Selain itu, saat itu muncul "tiga pelabuhan besar" (Venisia, Genoa, dan Pisa) yang berada di bawah pemerintahan Italiaa, yang terutama memberikan bantuan berupa armada laut. Pemerintah Italiaa bermaksud untuk menguasai dan menduduki pelabuhan-pelabuhan timur dan selatan Mediterania, seperti pelabuhan-pelabuhan di Syam, agar perdagangan Timur dan Barat dapat mereka kuasai. Kepentingan ekonomi ini nampak ketika Tentara Salib mengarahkan serangannya ke Mesir dalam Perang Salib IV.
  1. Faktor sosial-politik juga memainkan peranan yang dominan dalam konflik Perang Salib ini. Hal itu dapat dilihat dari gejala berikut:
    1. masyarakat Eropa pada abad pertengahan terbagi atas tiga golongan masyarakat:
i. kelompok agamawan yang terdiri dari orang-orang gereja dan bangsawan;
ii. kelompok kesatria yang terdiri dari para bangsawan dan penunggang kuda (knights); dan
iii. kelompok petani dan hamba sahaya.
Dua kelompok pertama merupakan kelompok kecil yang secara keseluruhan merupakan institusi yang berkuasa dan dipandang dari segi sosial-politik yang aristokratis, sedangkan kelompok ketiga merupakan golongan terbesar yang dikuasai oleh kelompok pertama dan kedua, yang harus bekerja keras terutama untuk memenuhi kepentingan kedua kelompok tersebut. Karena itu, kelompok ketiga ini secara spontan menyambut baik propaganda Perang Salib. Bagi mereka, kalau pun ditakdirkan mati, lebih baik mati suci daripada mati kelaparan dan hina. Kalau bernasib baik, selamat sampai ke Jerusalem, mereka mempunyai harapan baru: hidup yang lebih baik daripada di negeri sendiri.
    1. sistem masyarakat feodal, selain mengakibatkan timbulnya golongan tertindas, juga menimbulkan konflik sosial yang merujuk kepada kepentingan status sosial dan ekonomi, misalnya sebagai berikut :
  1. Sebagian bangsawan Eropa bercita-cita, dalam kesempatan perang Salib ini, mendapat tanah baru di Timur. Hal ini menarik mereka karena tanah-tanah di Timur subur, iklimnya baik, dan harapan mereka bahwa tanah itu lebih aman dibandingkan dengan di Eropa yang sering terlibat dalam perang saudara. Dalam proses perang Salib nampak bahwa dorongan ini merupakan faktor terlemah Tentara Salib karena timbul persaingan bahkan konflik sesama sendiri.
ii. Undang-undang masyarakat feodal mengenai warisan menyebabkan sebagian generasi muda menjadi miskin karena hak waris hanya dimiliki anak sulung. Dengan mengembara ke Timur, melalui perang Salib, anak-anak muda ini berharap akan memiliki tanah dan memperolehi kekayaan dari pampasan perang.
iii. Permusuhan yang terus-menerus antara para penguasa feodal telah melahirkan tentara-tentara yang kerjanya hanya berperang. Berperang adalah kesukaan mereka. Ketika propaganda Perang Salib dilancarkan, mereka bangkit untuk menunjukan kepahlawanan mereka.
iv. Besarnya kekuasaan Paus pada abad pertengahan yang begitu nyata dan kelemahan Raja itu sendiri adalah tidak berani untuk menolak permintaan Paus. Jika raja menolak, gereja akan mencemarkan wibawa raja di mata rakyat. Hal ini terbukti ketika Raja Frederic II terpaksa turut berperang dengan sedikit tentara, dan membelok ke Syam ketika ia seharusnya memberikan bantuan ke Mesir. Ia tidak bersemangat untuk berperang. Ia menghubungi Sultan al-Malik al-Kamil untuk menerangkan keadaannya bahwa ia tidak membawa misi suci (Perang Salib). Karena itu, ia memintanya untuk merahasiakan pernyataannya agar tidak diketahui oleh orang Jerman. Selanjutnya Frederic II mencapai perdamaian dengan Al-Kamil, suatu perdamaian yang mengecewakan Paus dan pimpinan gereja.
Hampir serupa, Al-Wakil menuliskan bahwa sebab-sebab yang mendorong orang-orang Kristen terjun ke medan perang selama bertahun-tahun adalah:
  1. Penyebab utama perang salib adalah kedengkian orang-orang Kristen kepada Islam dan umatnya. Umat Islam berhasil merebut wilayah-wilayah strategis yang sebelumnya mereka kuasai (terutama di Timur Tengah). Mereka menunggu kesempatan yang tepat untuk meraih apa yang hilang dari tangannya, balas dendam terhadap umat yang mengalahkannya. Kesempatan itu datang ketika umat Islam lemah dan kehilangan jati dirinya yang kuat yang sebelumnya meredam perpecahan dan menyatukan langkah. Para tokoh agamawan Kristen bangkit menyerukan pembersihan tanah-tanah suci di Palestina dari tangan-tangan kaum muslimin dan membangun gereja dan pemerintahan Eropa di dunia Timur. Perang mereka dinamakan perang salib karena tentara-tentara Kristen menjadikan salib sebagai simbol obsesi suci mereka dan meletakkannya di pundak masing-masing.
  2. Perasaan keagamaan yang kuat. Orang-orang Kristen meyakini kekuatan gereja dan kemampuannya untuk menghapus dosa walau setinggi langit.
  3. Perlakuan in-toleran orang-orang Saljuk terhadap orang-orang Kristen dan para peziarah Kristen yang menuju Yerusalem. Orang-orang Saljuk adalah penguasa wilayah Turki yang relatif belum lama memeluk Islam dan belum begitu memahami syariat Islam dalam memperlakukan agama lain.
  4. Ambisi Sri Paus yang ingin menggabungkan gereja Timur (ortodoks) dengan gereja Katolik Roma. Paus ingin menjadikan dunia Kristen seluruhnya menjadi satu negara agama yang dipimpin langsung Sri Paus.
  5. Kegemaran tokoh-tokoh dan tentara Kristen untuk berpetualang ke negara lain dan mendirikan pemerintahan boneka di sana.

Bagi para pemimpin Kristen, kondisi waktu itu sangat tepat untuk memulai serangan ke dunia Islam, karena:
  1. Ada kelemahan dinasti Saljuk, sehingga “front” terdepan dunia Islam terpecah belah.
  2. Tidak adanya orang kuat yang menyatukan perpecahan umat Islam. Khilafah de facto terbagi sedikitnya menjadi tiga negara: Abbasiyah di Bagdad, Umayah di Cordoba dan Fathimiyah di Kairo.
  3. Beberapa kabilah pesisir telah masuk agama Kristen seperti Genoa dan Venezia, dan ini memuluskan jalan antara Eropa dan negara-negara Timur.
  4. Kemenangan Sri Paus atas raja sehingga Sri Paus memiliki kekuatan mengendalikan para raja dan gubernur di Eropa.4
Fakta-fakta Perang Salib
Sampai abad ke-11 M, di bawah pemerintahan kaum Muslimin, Palestina merupakan kawasan yang tertib dan damai. Orang-orang Yahudi, Nasrani, dan Islam hidup bersama. Jerusalem merupakan kota Suci bagi ketiga agama samawi yakni Islam, Yahudi dan Kristen. Di dalam kota inilah letaknya Masjid Al-Aqsa yang dibangun oleh Nabi Sulaiman dan menjadi Kiblat pertama umat Islam sebelum beralih ke Kabah di Mekah. Ketika Nabi Muhammad SAW Isra', singgah dan solat di masjid ini sebelum Mi'raj ke langit. Nabi Isa AS juga dilahirkan di Baitullaham berdekatan kota Jerusalem ini.
Di masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab (13-23 H/ 634-644 M) Jerusalem dapat direbut oleh kaum Muslimin dari tangan Kekaisaran Byzantium (Romawi Timur) dalam suatu penyerahan kuasa secara damai. Khalifah Umar sendiri datang ke Jerusalem untuk menerima penyerahan kota Suci itu atas desakan dan persetujuan Bishop Agung Sophronius. Berabad-abad lamanya kota itu berada di bawah kekuasaan Islam, tapi penduduknya bebas memeluk agama dan melaksanakan ajaran agamanya masing-masing tanpa ada gangguan. Orang-orang Kristen dari seluruh dunia juga bebas datang untuk melaksanakan ziarah di Kota Suci Jerusalem itu dan menjalankan upacara keagamaannya. Orang-orang Kristen dari segenap pelosok Eropa datang berziarah dalam jumlah rombongan yang besar dengan membawa obor dan pedang seperti tentara hendak berperang. Sebagian dari mereka mempermainkan pedang dengan dikelilingi pasukan gendang dan seruling serta diiringi oleh pasukan bersenjata lengkap.
Sebelum Jerusalem dikuasai Kekaisaran Turki Seljuk pada tahun 1070, upacara seperti itu dibiarkan saja oleh umat Islam, karena dasar toleransi dan menghormati kebebasan beragama. Namun ketika Kekaisaran Turki Seljuk memerintah, upacara seperti itu tidak diperbolehkan lagi, dengan alasan keselamatan. Kemungkinan karena upacara tersebut semakin berbahaya. Terlebih lagi kelompok-kelompok yang turut andil dalam upacara itu sering menimbulkan kegaduhan dan huruhara. Disebutkan bahwa pada tahun 1064 Bishop memimpin pasukan sejumlah 7000 orang penziarah yang terdiri dari kumpulan bangsawan (baron) dan para pahlawan yang telah menyerang orang-orang Arab dan Turki.
Hal tersebut membuat Kekaisaran Turki Seljuk melakukan pertimbangan dengan menjadikan larangan tersebut demi keselamatan penziarah Kristen itu sendiri. Namun ternyata tindakan ini mendapat tanggapan yang salah dari orang-orang Eropa. Para pemimpin agama mereka telah mendapat kesan bahwa kebebasan agamanya telah dinodai oleh orang-orang Islam dan menyerukan agar Tanah Suci itu dibebaskan dari genggaman umat Islam.
Kedamaian di kota itupun seolah lenyap ditelan bumi begitu Tentara Salib datang melakukan invasi. Secara keseluruhan perang salib berlangsung selama hampir dua abad, dengan momen-momen penting sebagai berikut:
Bermula ketika orang-orang Seljuk (orang-orang Turki yang baru saja memeluk Islam) dari kekhalifahan Turki Utsmani melakukan ekspansi ke wilayah sekitar yang mengundang kegelisahan Kekaisaran Byzantium, tetangganya. Terlebih lagi setelah mereka berhasil merebut Anatolia (Asia Kecil, sekarang termasuk wilayah Turki) dari tangan Spanyol dan negeri-negeri milik Byzantium Kristen dari kekuasaan sang Kaisar, Alexius I. Petinggi kaum Kristen itu dan para raja Eropa lainnya segera minta tolong kepada Paus Urbanus II (1088-1099) guna merebut kembali wilayah mereka dari cengkeraman kaum yang mereka sebut “orang kafir”, pada bulan Maret 1095, saat Paus sedang mengadakan persidangan kepausannya di Piacenza yang dihadiri oleh duta besar dari Konstantinopel. Ditambah lagi dengan kondisi pada awal abad ke-13, dimana Gereja Katolik Roma berada pada situasi yang tidak menentu. Di satu sisi institusi ini terancam oleh banyaknya korupsi di dalam strukturnya. Di sisi lain dihadapkan dengan menurunnya popularitas pengajaran Paulicia. Perhatiannya kemudian terbagi dan tercurah pada keterlibatannya dalam Perang Salib. Tindakan utamanya adalah menghentikan pertumbuhan pesat Islam dan merebut kembali Jerusalem: para pemimpin Vatikan melihat banyak kemiripan antara Islam dan Unitarianisme yang diajarkan oleh Arius. Keduanya percaya pada satu Tuhan. Keduanya mengakui Jesus (Isa) sebagai Nabi yang masih merupakan manusia. Keduanya percaya pada Maria sang Perawan (Siti Maryam) dan pada konsep kesempurnaan Jesus dan Jiwa Suci (Holy Spirit) namun menolak keTuhanan yang ditujukan kepadanya. Sehingga kebencian terhadap orang-orang Aria diarahkan kepada kaum Muslim. Melihat Perang Salib melalui perspektif ini mereka tidak lagi melihatnya sebagai fenomena tertutup dari sejarah Gereja, namun meluas menjadi pembantaian kaum Aria oleh gereja Pauline.5
Paus Urbanus II segera memutuskan untuk mengadakan ekspedisi besar-besaran yang ambisius (25 November 1095). Tekad itu makin membara setelah Paus menerima laporan bahwa Khalifah Abdul Hakim—yang menguasai Palestina saat itu—menaikkanpajak ziarah ke Palestina bagi orang-orang Kristen Eropa. “Ini perampokan! Oleh karena itu, tanah suci Palestina harus direbut kembali,” kata Paus.
Perang melawan kaum Muslimin diumumkan secara resmi pada tahun 1096 oleh Takhta Suci Roma. Paus juga mengirim surat ke semua raja di seluruh Eropa untuk ikut serta. Mereka dijanjikan kejayaan, kesejahteraan, emas, dan tanah di Palestina, serta surga bagi para ksatria yang mau berperang. Mereka juga dijanjikan diampuni dosanya walaupun sangat berat. Praktek pemberian dispensasi dosa ini telah diterapkan sejak abad kelima oleh Gereja Katolik. Dengan imbalan sejumlah uang Paus akan menjamin lisensi untuk mengijinkan tindakan yang sebetulnya ilegal.
Paus juga meminta anggota Konsili Clermont di Prancis Selatan—terdiri atas para uskup, kepala biara, bangsawan, ksatria, dan rakyat sipil—untuk memberikan bantuan. Paus menyerukan agar bangsa Eropa yang bertikai segera bersatu padu untuk mengambil alih tanah suci Palestina. Hadirin menjawab dengan antusias, “Deus Vult!” (Tuhan menghendakinya!)6
Dari pertemuan terbuka itu ditetapkan juga bahwa mereka akan pergi perang dengan memakai salib di pundak dan baju. Dari sinilah bermula sebutan Perang Salib (Crusade). Paus sendiri menyatakan ekspedisi ini sebagai “Perang Demi Salib” untuk merebut tanah suci. Dalam khotbahnya: "Christ himself will be your leader.. Wear his cross as your badge. If you are killed your sins will be pardoned.. Let those who have been fighting against their own brothers and kinsfolk now fight lawfully against the barbarians." Seruan Paus adalah yang paling berpengaruh, hal ini karena di Eropa kekuasaan Paus di atas para Raja. Peran kepemimpinan para pendeta juga besar, karena sebagai bawahan Paus, merekalah yang menggerakkan kegiatan Paus. Sambutan ini juga memberi kesempatan bagi Paus untuk merebut kembali Jerusalem di pantai timur Laut Mediterania, yang merupakan tanah suci bagi kaum Kristen, Yahudi, dan Muslim, namun pada tahun 1095 dikuasai oleh Muslim.7 Selain itu Paus memang berinisiatif mempersatukan dunia Kristen (yang saat itu terbelah antara Romawi Barat di Roma dan Romawi Timur atau Byzantium di Konstantinopel).
Sasaran jangka pendek terhadap penyerangan umat Muslim ini adalah pembebasan tempat-tempat suci Kristen di bumi Islam, termasuk Baitul Maqdis. Adapun sasaran jangka panjangnya adalah melumat umat Islam. Pasukan salib tidak berencana membunuh Khalifah. Yang mereka rencanakan adalah membunuh Islam, menghapus khilafah dan menghancurkan umat yang melindunginya dan hidup untuknya. “Apa artinya seorang Khalifah jika lembaga Khilafah tak ada lagi? Apa yang bisa dikerjakan Khalifah jika umat yang dipimpinnya tewas semua?” (Qs. Ali-Imran [3]: 169).
Pada awalnya Paus Urban II menyatakan 15 Oktober 1095 sebagai keberangkatan Tentara Salib menuju Timur Tengah, tapi kalangan awam sudah tidak sabar menunggu lebih lama lagi setelah dijanjikan dengan berbagai kebebasan, kemewahan dan lainnya. Mereka mendesak Pendeta Ermite (Peter the Hermit) sebagai pelaksana kepemimpinan agar berangkat memimpin mereka.
Maka dilancarkanlah serangan salib pertama (1096) untuk merebut Yerusalem. Pendeta Ermite (Peter the Hermit) pun berangkat dengan 60,000 orang pasukan (1096), kemudian diikuti oleh kaum petani dan miskin yang dipimpin oleh Walter dari Jerman sejumlah 20.000 orang yang berangkat dari Cologne pada bulan Mei dan mencapai Konstatinopel pada bulan Juli, dan datang lagi 200,000 orang yang menjadikan jumlah keseluruhannya 300,000 orang.8 Sepanjang perjalanan, mereka diizinkan merompak, memperkosa, berzina dan mabuk-mabukan. Setiap penduduk negeri yang dilaluinya, akan mengelu-elukan dan memberikan bantuan seperlunya. Anak-anak muda, bangsawan, petani, kaya dan miskin memenuhi panggilan Paus. Di Jerman izin melakukan Perang Salib digunakan untuk melakukan pembantaian terhadap kaum Yahudi lokal, mereka menganggap bahwa sebelum menyerang Muslim yang telah melanggar kekuasaan Jesus di Jerusalem, lebih dahulu menghukum yang terdekat, kaum Yahudi yang para leluhurnya bertanggung jawab atas kematian Jesus. Di Spier pada awal Mei, di Worms dan Mainz bulan berikutnya, dan di Cologne, Trier dan Metz pada bulan Juni, komunitas Yahudi dibantai oleh pasukan Perang Salib saat hendak ke Timur.
Sementara itu, tentara yang berjumlah 300.000 itu, ketika sampai di Hungaria dan Bulgaria, sambutan sangat dingin, menyebabkan pasukan Tentara Salib yang sudah kekurangan makanan ini marah dan merampas harta benda penduduk setempat. Pasukan Jerman juga membantai komunitas Yahudi di Prague saat mereka tiba disana pada bulan Juni. Penduduk asli di dua negara ini tidak tinggal diam. Walau pun mereka sama-sama beragama Kristen, mereka tidak senang dan membalas. Terjadilah pertempuran sengit dan pembunuhan yang mengerikan. Raja Hungaria, Kálmán, berusaha melindungi kaum Yahudi. Pasukan ini juga dihadang oleh kaum Paulicia yang leluhurnya telah diusir ke utara dari Thrace oleh Kaisar Theodora dan anak buahnya; terjadi pertempuran besar dan yang selamat hanya sepertiga pasukan yang kemudian mengungsi ke pegunungan di Semenanjung Thrace (Albania). 3000 pasukan diselamatkan oleh Paus dan dikembalikan ke Konstantinopel, namun ketika sampai disana mereka malah tertarik dengan kemegahan kota dan berniat menjarahnya, akibatnya Kaisar mengirim mereka ke Bosphorus. 7000 pasukan lainnya melanjutkan perjalanan ke Anatolia. Sesampai di Anatolia, pantai Asia Kecil (Turki), pasukan kaum Muslimin yang di pimpin oleh Sultan Kalij Arselan dari Kekaisaran Turki Seljuk telah menyambut mereka dengan hayunan pedang. Maka terjadilah pertempuran sengit antara Tentara Salib dengan pasukan Islam yang berakhir dengan kekalahan di pihak pasukan Tentara Salib itu. Mereka gagal mencapai Baitul Maqdis (Yerusalem).
Setelah Tentara Salib yang dipimpin oleh para Rahib Orthodox yang tidak memiliki strategi perang itu hancur, muncullah Tentara Salib yang terdiri dari pasukan Prancis, Jerman, dan Normandia (Prancis Selatan). Mereka dikomandani oleh Raja Godfrey dari Lorraine Perancis, Bohemund dan Tancred dari Normandy (Utara Perancis), Raymond dari Toulouse (Perancis), dan Robert Baldwin dari Flanders (Belgia). Mereka berkumpul di Konstantinopel dengan kekuatan 150,000 laskar, kemudian menyeberang Selat Bhospuros (bergabung dengan pasukan sebelumnya) dan memenuhi wilayah Islam bagaikan air bah. Pasukan Tentara Muslimin yang hanya berkekuatan 50,000 orang bertahan sekuat tenaga di bawah pimpinan Sultan Kalij Arselan.
Satu persatu kota dan benteng Tentara Muslim jatuh ke tangan Tentera Salib, memaksa Sultan Kalij Arselan berpindah dari satu benteng ke benteng yang lain sambil menyusun kekuatan dan taktik baru. Bala bantuan Tentara Salib datang bertubi-tubi dari negara-negara Eropa. Sedangkan Sultan Kalij Arselan tidak mengharapkan bantuan dari wilayah-wilayah Islam yang lain, kerana mereka sibuk dengan masalah internal masing-masing. Ini menandakan bahwa Byzantium telah merebut kembali apa yang telah dikuasai dari Antioch (barat daya Turki) selama enam tahun. 
Tentara Salib terus mengarah ke selatan Turki. Pertempuran di Darylaeum (Eski-Shar) meluas ke tenggara Nicaea sampai akhir 1097. Tentara Salib meraih kemenangan karena Seljuk dalam keadaan lemah. Mereka berhasil memasuki selatan Anatolia (tenggara Turki) dan Torres. Di bawah pimpinan Baldwin, mereka mengepung Edessa, yang penduduk Armenia-nya beragama Kristen. Rajanya, Turus, telah melantik Baldwin untuk menggantikannya setelah ia wafat, sehingga Baldwin dapat menaklukan Ruha di Eddessa pada tahun 1098.
Bohemond menaklukan kaum Muslimin di medan perang Antakiyah (Syria), ibu kota lama Byzantium, pada tanggal 3 Jun 1098 setelah susah payah mengepungnya selama sembilan bulan. Antakiyah termasuk benteng yang sangat kuat karena secara geografs letaknya kedua paling strategis--setelah Konstatinople-- dengan gunung-gunungnya yang mengelilingi sebelah utara dan timur, dan sungai yang membatasinya. Jatuhnya Antakiyah dari Yagi Sian (Seljuk) disebabkan oleh perpecahan dimana saat itu Islam sendiri masih sering bertikai, terutama antara Syiah Fatimiyah di Mesir, Sunni Abbasiyah, dan Turki Seljuk di Syria; sehingga pada tahun 1098, Fatimiyah mengambil keuntungan dari kekalahan Seljuk di Antakiyah dengan merebut Jerusalem untuk mereka sendiri, setelah membayar garnisun Seljuk untuk meninggalkan kota.
Selain karena perpecahan internal, kekalahan juga disebabkan oleh lambatnya bantuan dari Salajiqoh Persia (Karbugha) dan terjadinya pengkhianatan di dalam Antakiyah sendiri oleh bangsa Armenia yang sudah tentu memihak kepada Tentera Salib Kristen. Bantuan logistik dan perlengkapan dari Inggris dan armada laut Genoa yang tiba di pelabuhan Suwaida semakin memperkuat Tentera Salib. Di tambah pula kehadiran para ahli ‘peralatan blokade’ perang. Serbuan ini seperti balasan terhadap kaum barbar yang telah menghancurkan Kekaisaran Romawi di Eropa. Mereka dipenuhi perasaan benar sendiri yang menjadi ciri Barat sesudahnya dalam berurusan dengan Timur. Tindakan ini menunjukkan gairah keagamaan dengan merangkak keluar dari abad Kegelapan.
Bahemond telah menunjukan keberaniannya yang luar biasa. Ketika Tentara Salib mengalami krisis dalam pengepungan Antakiyah ini, ia pura-pura bersedia pulang ke Italia. Para tentaranya lalu memintanya untuk tidak ditinggalkan oleh sang pemimpin, terutama pada saat yang sangat kritis, ketika mendapat serangan dari Tentara Seljuk. Ia menuduh panglima Byzantium, Titikios, telah mengkhianati Tentara Salib karena melakukan hubungan rahasia dengan penguasa Seljuk-Turki untuk menghancurkan Tentara Salib. Hal ini menyebabkan kemarahan Tentara Salib. Akhirnya, Tatikios dengan tentaranya melarikan diri melalui pelabuhan Suwaida ke Pulau Cyprus karena takut dibunuh Tentara Salib. Nampaknya kali ini Bahemond berhasil menempatkan dirinya sebagai satu-satunya panglima-- setelah mendapat pengalaman menghadapi Tentara Kaisar di Nicaea- sehingga ada alasan untuk tidak menyerahkan Antakiyah kepada Kaisar Byzantium. Di sini nampak persaingan kekuasaan antara Byzantium dan raja Eropa.
Setelah penaklukan Antakiyah (Antioch), Bohemond dapat menguasai daerah-daerah sekitarnya. Ketika Raymond menguasai sebelah barat daya Antakiyah dan tidak mau menyerahkannya kepada Bohemond, hal ini disebabkan karena dia pun mempunyai cita-cita menguasai seluruh Antakiyah. Krisis ini dapat diselesaikan jika Raymond ditugaskan oleh Paus untuk menyerang Jerusalem. Akhirnya, Antakiyah berada di bawah kekuasaan Kristen selama seperempat abad.
Sepanjang perjalanan menuju Palestina, Tentara Salib ini membantai orang-orang Islam. Tentara Jerman juga membunuhi orang-orang Yahudi. Dalam perjalanan ke Jerusalem, Raymond mengadakan hubungan kerja sama dengan amir-amir Arab, antara lain dengan Muwaranah yang memberikan bantuan kepada Tentara Salib. Pemerintah Tripoli dan Beirut (Lebanon) juga memberikan bantuan kepada Tentara Salib, mungkin karena solidaritas agamanya lebih diutamakan daripada tanah airnya, atau tidak suka akan Tentara Seljuk Turki. Rombongan besar ini akhirnya sampai di Baitul Maqdis pada tahun 1099. Mereka langsung melancarkan pengepungan, dan tak lupa melakukan pembantaian. Sekitar lima minggu kemudian, tepatnya 15 Juli 1099, mereka berhasil merebut Baitul Maqdis dari tangan kaum Muslimin. Kota ini akhirnya dijadikan ibukota Kerajaan Katolik yang terbentang dari Palestina hingga Antakiyah. Mereka mendirikan negara-negara salib, yakni negara-negara boneka di wilayah-wilayah yang diduduki Tentara Salib. Namun karena kelemahan Byzantium dan perpecahan di kalangan Muslim sendiri, negara-negara boneka ini berkembang sebagai negara-negara Latin yang feodalistis dan tirani, yang menghabisi hampir seluruh penduduk Yahudi dan Muslim.
Kekalahan kaum muslimin Pemerintahan Fatimiyah yang menguasai Jerusalem sudah dapat diramalkan dalam Perang Salib I, karena kota-kota penting yang merupakan pintu gerbang satu-satunya telah berhasil ditawan. Jumlah Tentara Salib jauh lebih banyak daripada Tentara Fatimiyah, yaitu 40.000 orang (20.000 orang merupakan tentara terlatih).
Penaklukan Jerusalem oleh Tentara Salib diwarnai dengan pembantaian yang tidak berperikemanusian, mulai dari para lelaki, perempuan hingga anak-anak Muslim. Mereka juga membantai orang-orang Yahudi dan orang-orang Kristen yang enggan bergabung dengan Tentara Salib. Keganasan Tentara Salib Kristen ini dikutuk dan dikecam oleh para saksi dan penulis sejarah yang terdiri dari berbagai agama dan bangsa.
Akhirnya misi Tentara Salib tercapai, yaitu merebut Jerusalem dan berhasil mendirikan pemerintahan masing-masing, Baldwin memegang tampuk kekuasaan di Edessa (1098), Bohemond menguasai pemerintahan di Antakiyah, dan Godfrey menjadi penguasa di Jerusalem, karena Raymond tidak terpilih menjadi penguasa di sana. Godfrey meninggal dunia dan digantikan saudaranya, Baldwin I, tanpa ada yang menyaingi karena Bohemond ditawan Raja Al-Ghazi Kamusytakin Turki. Walaupun Jerusalem telah dikuasai oleh Tentara Salib sepenuhnya, peperangan di Syam (selatan Palestina) masih berlanjut. Raja Jerusalem menyerahkan kepemimpinan kepada Raymond (1101) untuk menaklukan Tripoli di Syam.
Kaum muslimin di Tripoli dapat mempertahankan pengepungan Tentara Salib selama delapan tahun. Pada tahun 1109, Tripoli akhirnya jatuh ke tangan Tentara Salib, tetapi Raymond tidak sempat menyaksikan kejatuhan kota itu karena meninggal dunia (1105) ketika pengepungan Tripoli mencapai puncaknya. Ia digantikan oleh Wiliam Jordan, yang meninggal dunia pada tahun 1108. William kemudian diganti oleh Bertrand. Pada zaman Bertrand, Tripoli telah berhasil ditaklukan. Kota-kota penting lain yang ditaklukan ialah Arqah (ditaklukan pada tahun 1104) dan Sur (ditaklukan pada tahun 1124).
Selama Perang Salib sudah terlihat kelemahan di pihak Tentara Salib, yaitu perselisihan dan persaingan antara para raja dengan Kaisar Alexius (Byzantium) dan persaingan antar raja itu sendiri, apalagi ketika musuh bersama mereka (Tentara Muslim) sudah tidak berdaya lagi. Kelemahan itu bertambah dengan kembalinya sebagian besar Tentara Salib ke Eropa.
Di pihak lain, kaum muslimin yang menyadari kelemahannya mulai meminta bantuan. Dari selatan, Tentara Salib didesak oleh Angkatan Perang Mesir sehingga Ar-Ramlah berhasil ditaklukan pada tahun 1102 melalui pertempuran yang hebat. Dari utara mereka mendapat serangan dari kerajaan-kerajaan Atabek yang didirikan di atas reruntuhan dinasti Seljuk, antara lain Atabek al-Mausal yang dipimpin oleh Imadiddim Zangi pada tahun 1127.
Ia mampu menahan perluasan kekuatan Tentara Salib, bahkan mampu menyerang wilayah-wilayah yang dikuasai Kristen satu per satu, sehingga Edessa dapat ditaklukan lagi pada tahun 1144. Edessa dianggap oleh penganut Kristen sebagai salah sebuah kota suci. Oleh sebab itu, di sana didirikan sebuah biara yang besar. Ketika Imaduddin dan Tentaranya memasuki daerah itu, mereka tidak menghukum atau bertindak kejam terhadap semua orang Kristen, kecuali yang ikut berperang dan membantu Tentara Salib Jerman. Imaduddin dibunuh oleh Tentaranya sendiri ketika sedang melakukan operasi di Kalat-Jabir.
Puteranya, Nuruddin Zangi, kemudian menggantikannya dan menjadikan Aleppo (kini Tel Aviv) sebagai pusat pemerintahannya.
Pada perang salib kedua (1147-1149) pasukan salib berusaha merebut wilayah-wilayah di sepanjang pantai laut tengah, baik yang dikuasai muslim maupun bukan, seperti misalnya wilayah Athena, Korinthia dan beberapa pulau-pulau Yunani.
Perang Salib II terjadi pada masa Nuruddin memimpin. Pada masa ini, Paus Eugenius III memilih seorang dari pendeta, Pendeta Bernand dari Clairvaux, untuk membakar semangat orang-orang Eropa untuk mengangkat pedang membantu Tentara-Tentara Perang Salib Pertama di Timur setelah jatuhnya Edessa ke tangan Muslim pada tahun 1144. Pendeta ini berhasil mempengaruhi Louis VII (raja Perancis), dan Conrand III (raja Jerman), untuk memimpin serangan baru menyelamatkan wilayah Kristen di Syam itu. Baron-baron dari kedua negara itu turut serta mengikuti jejak raja-raja mereka.
Tentara Jerman lebih dahulu bergerak menyeberangi Sungai Danube (selatan Jerman) menuju Konstatinopel. Di sana mereka disambut Kaisar Manual (Byzantium) yang memiliki semangat tanpa perhitungan matang dan tidak sepandai Kaisar Alexius. Sesampainya Tentara Jerman di Asia Kecil, dengan mudah Tentara Islam menggempurnya hingga sebagian besar Tentara Jerman ini terbunuh. Demikian pula nasib Tentara Perancis yang sampai ke Konstatinopel, mereka mengalami nasib yang sama seperti tentara Jerman--selain banyak yang mati karena wabah penyakit. Rata-rata dari mereka yang gagal menembus gerbang masuk kota mati kelaparan karena hanya diberi makan seadanya. Dengan sisa Tentara yang masih selamat mereka berangkat menuju Syria untuk menyerang Damaskus sebagai bentuk perluasan kekuasaan. Pemerintan dan Tentara Nuruddin Zangi dapat memerangi mereka dalam pertempuran yang hebat. Mereka pulang ke Eropa dengan kekalahan, Perang Salib II selesai. Akan tetapi Jerusalem masih lagi di kuasai oleh penguasa penguasa Kristen yang telah di lantik oleh pimpinan Gereja. Secara keseluruhan, kaum Kristen kalah, kemenangan terjadi pada saat perjalanan tentara Perang Salib Belanda dan Inggris untuk menyusul pasukan lainnya di tempat tujuan berhasil membantu Raja Alfonso dari Portugal untuk merebut kembali Lisbon dari tangan Muslim.
Penyebab kegagalan Tentara Salib dalam Perang Salib II adalah tidak adanya kerjasama yang baik antara mereka. Satu dengan yang lain tidak saling mempercayai karena masing-masing merasa khawatir bila kekuasaannya akan dilanggar, ditambah lagi wabah penyakit dan kelaparan yang terutama menimpa Tentara Perancis, disamping serangan yang tidak dilakukan secara serentak seperti pada Perang Salib I.
Sejak Pemeritntahan Islam, Dinasti Zangi memegang kembali kepemimpinan, perimbangan kekuatan berubah lagi. Kemenangan Nuruddin mempertinggi semangat untuk menaklukan lagi wilayah-wilayah yang dikuasai Kristen. Pada tahun 1149, ia menaklukan Antakiyah, pada tahun 1151 menaklukan Edessa, dan tahun 1164 menguasai Bohemond III dan Raymond III yang memerintah Tripoli. Kemudian, Nuruddin mengambil alih Damaskus dari Muiddin Umar yang dianggapnya lemah dalam menghadapi gerakan Tentara Salib, bahkan secara rahasia ia berusaha mengkhianati Nuruddin.
Yang penting pula Nuruddin mengirimkan seorang panglima yang gagah berani, Asaduddin Syirkuh, ke Mesir dalam rangka memperkuat sayap kiri menghadapi Tentara Salib. Syirkuh diterima baik oleh rakyat Mesir dan Khalifah Fatimiyyah. Ia diangkat sebagai perdana menteri, dan memegang kekuasaan pada tahun 1169. Namun, tidak lama kemudian ia wafat.
Kedudukannya lalu digantikan oleh Salahuddin al-Ayyubi. Kemenangan Tentara Muslim dibawah pimpinan Salahuddin berhasil mengembalikan kota suci Jerusalem (Peperangan Hittin). Kota suci itu tetap berada di tangan Muslim hingga Salahuddin menjadi Prajurit Hebat.
Perang salib ketiga (1189-1192) terjadi setelah Sholahuddin al Ayubi berhasil mempersatukan kembali wilayah-wilayah Islam di Mesir dan Syria. Perang ini merupakan Perang Salib yang terbesar, pada perang ini pihak Kristen dipimpin Phillip Augustus dari Prancis dan Richard Lionheart dari Inggris, sementara kaum Muslimin dipimpin Shalahuddin Al-Ayyubi. Pada masa itu, Kekhalifahan Islam terpecah menjadi dua, yaitu Dinasti Fathimiyah di Kairo (bermazhab Syi’ah) dan Dinasti Seljuk yang berpusat di Turki (bermazhab Sunni). Pada 1171 Sholahuddin berhasil menyingkirkan kekuasaan Fathimiyah di Mesir yang merupakan separatisme dari Khilafah di Bagdad, dan mendirikan pemerintahan Ayubiah yang loyal kepada Khalifah. Pada 1187 al-Ayubi berhasil merebut kembali Yerusalem. Hal ini setelah Salahuddin merekrut pasukan yang kemudian berperang melawan Pasukan Salib di Hattin (dekat Acre, kini dikuasai Israel). Orang-orang Kristen bahkan akhirnya terdesak dan terkurung di Baitul Maqdis. Kaum Muslimin meraih kemenangan (1187).
Serangan salib ketiga ini dipimpin oleh tokoh-tokoh Eropa yang paling terkenal: Friedrich I Barbarosa dari Jerman, Richard I Lionheart dari Inggris dan Phillip II dari Perancis. Namun di antara mereka ini sendiri terjadi perselisihan dan persaingan yang tidak sehat, sehingga Friedrich mati tenggelam, Richard tertawan (akhirnya dibebaskan setelah memberi tebusan yang mahal), sedang Phillip bergegas kembali ke Perancis untuk merebut Inggris justru selama Richard tertawan. Dua pemimpin tentara Perang Salib, Reynald dari Chatillon (Prancis) dan Raja Guy, dibawa ke hadapan Salahuddin. Reynald akhirnya dijatuhi hukuman mati karena terbukti memimpin pembantaian yang sangat keji kepada orang-orang Islam. Namun Raja Guy dibebaskan karena tidak melakukan kekejaman yang serupa. Tiga bulan setelah pertempuran Hattin, pada hari yang tepat sama ketika Nabi Muhammad diperjalankan dari Mekah ke Yerusalem dalam Isra’ Mi’raj, Salahuddin memasuki Baitul Maqdis. Kawasan ini akhirnya bisa direbut kembali setelah 88 tahun berada dalam cengkeraman musuh (2 Oktober 1187). Setelah Salahudin mengurangi intensitas ketegangan, Richard pun menawarkan damai dan berjanji akan menarik mundur pasukan Kristen pulang ke Eropa. Mereka pun menandatangani perjanjian damai (1197) yang isinya membebaskan orang Kristen untuk mengunjungi Palestina, asal tidak membawa senjata dan bermaksud damai. Selama delapan abad berikutnya, Palestina berada di bawah kendali kaum Muslimin.
Bila dibandingkan dengan Perang Salib I, pada Perang Salib I, Paus yang menjadi penggerak utama sekaligus dijadikan lambang dalam perang itu, sedangkan pada Perang Salib III, penggerak utamanya adalah intitusi politik, yaitu raja-raja Eropa Barat. Pada Perang Salib I, faktor agama menjadi pendorong yang penting, sedangkan pada Perang Salib III, faktor agama bukan lagi menjadi penyebab berkobarnya semangat. Pada Perang Salib III banyak orang Eropa yang turut berperang agar terbebas dari kewajiban membayar cukai.
Pada Perang Salib III, Raja Perancis Louis VII membebankan cukai 10% kepada rakyatnya yang tidak turut ke medan perang. Demikian pula Philip Augustus (Italia) dan Raja Inggris Richard the Lion Heart, ia menaikkan pajak yang disebut "Pungutan Pajak Salahuddin" yang diwajibkan kepada para pemimpin agama dan rakyat umum.
"I would sell the city of London, if only I had a buyer.", demikian diungkapkan oleh Raja Richard I Lion Heart. Pihak gereja (Paus) juga giat mengumpulkan "Dana Perang Salib" sambil mengeluarkan fatwa bahwa orang yang tidak mampu berperang harus memberikan dana, dan akan diampuni segala dosanya sebagaimana orang yang turut berperang. Kepada setiap penderma diberikan "Daftar Pengampunan". Akhirnya, gereja menjadi sumber dana yang penting dan terbesar dalam menjalankan misi untuk mengumpulkan semua bala Tentara Perang Salib III. Berbeda dengan Perang Salib I, yang dengan jumlah Tentara Salib cukup besar memiliki semangat dan bersatu dalam menghadapi Tentara Muslim Seljuk yang lemah dan berpecah belah, dalam Perang Salib III keadaan berbalik drastis.
Orang-orang yang memimpin Perang Salib III adalah raja-raja Eropa terkenal seperti:
1. Raja Jerman Frederic II Barbarosa
2. Raja Inggris Richard the Lion Heart
3. Raja Perancis Phillip Agustus.
Yang paling menonjol dan energetik adalah Frederic II yang memilih jalan darat menuju medan perang, menyeberangi sungai dekat Armenia, Ruha. Tetapi nasibnya malang, ia tenggelam dan meninggal ketika menyeberang sungai itu.
Tentara Inggris dan Perancis yang bergerak menuju jalan laut bertemu di Saqliah. Richard menuju Cyprus kemudian ke Palestina, sedangkan Phillip terus ke Palestina, dan mengepung Arqah dengan bantuan sisa-sisa Tentara Frederic.
Dalam pengepungan ini turut pula orang-orang Syam di bawah pimpinan Guys yang pernah mengadakan perjanjian damai dengan Salahuddin. Berkat dukungan tentara Richard dan angkatan lautnya, Arqah dapat direbut dan dikuasai. Tentara Salib melakukan pembunuhan besar-besaran meskipun setelah itu tidak ada lagi serangan ketentaraan. Perang Salib III ini diakhiri dengan perjanjian Ramallah (September 1192) setelah perang tiada henti selama 5 tahun. Perjanjian ini mengakui Salahuddin sebagai penguasa Palestina seluruhnya kecuali bandar Acra (satu jalur kecil dari Tyre ke Jaffa) yang berada di bawah pemerintahan Kristen.
Perang salib keempat (1202-1204) terjadi ketika pasukan salib dari Eropa Barat ingin mendirikan kerajaan Normandia (Eropa Barat) di atas puing-puing Yunani. Paus Innocentius III menyatakan pasukan salib telah murtad. Di Konstantinopel perampokan dan pemerasan Tentara Salib menimbulkan perlawanan rakyat, yang dibalas Tentara Salib dengan membakar kota itu serta mendudukkan kaisar dan padri Latin. Sebelumnya, kaisar dan padri Konstantinopel selalu berasal dari Yunani.
Tahun 1212, ribuan pemuda Perancis diberangkatkan dengan kapal untuk bergabung dengan pasukan Salib, namun oleh kapten kapal mereka justru dijual sebagai budak ke Afrika Utara. Reputasi pasukan salib sudah semakin pudar. Sebenarnya perang ini bukan antara Islam dan Kristen, melainkan antara Takhta Suci Katolik Roma dengan Takhta Kristen Ortodoks Romawi Timur di Konstantinopel (sekarang Istambul, Turki).
Pada masa Paus Innocent III, gereja membakar kembali semangat untuk meneruskan kembali Perang Salib. Dalam hal semangat dan kepemimpinan perang ini bercorak Perancis seperti Perang Salib I. Target perang ini diarahkan ke Mesir, yang disebabkan karena:
  1. Mesir adalah pangkalan segala kekuatan Tentara Islam dan semua kekuatan Tentara Islam sudah beralih ke Mesir, sehingga Mesir harus dikuasai lebih dahulu;
  2. Penaklukan Mesir akan membawa keuntungan perdagangan bagi para pedagang Italia. Jika serangan di arahkan dengan menguasai Jerusalem terlebih dahulu, orang Mesir akan melakukan tindakan pembalasan terhadap para pedagang di Delta Sungai Nil, Dimyat, dan Alexanderia.
Ketika Tentara Salib di Venisia (1202) bersiap hendak menuju Mesir, tiba-tiba semua pasukan perang diperintahkan untuk menyerang Konstatinopel pada bulan Juli 1203, dan berhasil menguasai kota itu pada bulan April 1204. Setelah itu, Baldwin VII diangkat sebagai Kaisar di Konstatinopel. Kekuatan ini berkuasa selama 60 tahun disana.
Serangan salib kelima (1218-1221) diumumkan oleh Paus Innocentius dan Konzil Lateran IV, yang juga menetapkan undang-undang inkuisisi dan berbagai aturan anti-Yahudi. Untuk mendapatkan kembali kontrol atas pasukan salib, jabatan raja Yerusalem digantikan oleh wakil Paus. Jabatan “raja Yerusalem” ini hanyalah “formalitas idealis”, tanpa kekuasaan sesungguhnya, karena de facto Yerusalem telah direbut kembali oleh al-Ayubi. Pada perang ini, orang-orang Kristen yang sudah bersatu berusaha menaklukkan Mesir yang merupakan pintu masuk ke Palestina. Tapi upaya ini gagal total. Sebelumnya pada tahun 1217 Leopold VI dari Austria dan Andrew II dari Hungaria berhasil merebut kota Damietta, namun setelah kekalahan mereka pada Pertempuran Al-Mansura mereka dipaksa mengembalikannya. Mereka sempat ditawari kekuasaan atas Jerusalem dan tempat-tempat suci Kristen di Palestina untuk ditukarkan dengan Damietta, namun Kardinal Pelagius menolaknya.9
Perang Salib ini merupakan rentetan dari Perang Salib I dan IV, dengan sasaran utamanya Mesir. Ketika itu Mesir berada di bawah Pemerintahan Al-Malik al-'Adil, yang meninggal dunia (1218) setelah Tentara Salib menguasai menara Al-Silsilah. Al-Malik kemudian digantikan oleh putranya Al-Malik al-Kamil (1218--1238). Al-Malik al-kamil menghadapi permasalahan internal, yaitu konspirasi yang dipimpin oleh seorang panglima yang berasal dari Kurdi, Ibn Masytub, yang hendak menggulingkannya. Ia lalu melarikan diri ke Yaman. Namun dengan bantuan adiknya, Al-Malik Mu'azzam dari Syam, ia kembali menduduki takhta Kesultanan Mesir. Tantangan dari luar--selain dari Tentara Salib, datang dari Tentara Mongol yang mulai menguasai dunia Islam bagian Timur, Khawarizami, negeri-negeri Transoxiana, dan sebagian negeri Parsi pada tahun 1220. Bahkan Baghdad pun turut di gempur oleh Tentara Mongol.
Kedudukan Tentara Salib cukup baik dengan jumlah Tentara yang besar atas seruan Paus Innocent III yang dilanjutkan oleh Paus Honorius III. Raja Juhanna de Brienne dan Wakil Paus, Plagius, memimpin pasukan ini. Kota Dimyat (Mesir) dengan mudah mereka kuasai pada tahun 1218. Serangan gempuran ke Kaherah tidak dapat diteruskan karena menunggu bantuan Frederic II dalam perjalanan untuk bantuan serangan selanjutnya.
Dengan situasi yang dramatis, sebagaimana digambarkan di atas, ditambah situasi ekonomi yang sulit, terutama karena surutnya Sungai Nil, Mesir terancam bahaya kelaparan. Al-Kamil pun mengajukan permintaan perdamaian. Ia menawarkan dengan menyerahkan Jerusalem dan hampir semua kota yang ditaklukkan Salahudin kepada Tentara Salib dengan syarat mereka (Tentara Salib) mundur dari Kota Dimyat.
Tawaran yang begitu menguntungkan pihak Tentara Salib itu ditolak, mereka malah ingin menguasai seluruh Mesir dan Syam. Penolakan ini mendapat persetujuan dari wakil Paus, Pelagius, karena kepentingan perdagangan Italia dan Barat terancam oleh kemajuan Pelabuhan Mesir.
Tidak ada pilihan bagi Al-Kamil: hancur atau menang. Munculah pemikiran untuk menghancurkan cabang-cabang sungai Nil yang menuju Kota Dimyat. Akhirnya banjir pun melanda seluruh Kota Dimyat, pemikiran ini kemudian direalisasikan olehnya. Banyak Tentara Salib yang meninggal akibat terancam bahaya kelaparan. Karena bantuan Frederic II yang diharapkan masih belum datang, Tentara Salib pun meninggalkan Kota Dimyat tanpa syarat.
Perang salib keenam (1228-1229) dipimpin oleh kaisar Suci Romawi Freidrich II dari Hohenstaufen, menjadi Raja Jerusalem melalui perkawinannya dengan Yolanda, puteri John dari Brienne.
Perang ini terjadi tanpa pertempuran yang berarti, disebabkan karena Frederick sebelumnya telah bersumpah untuk ikut dalam Perang Kelima namun gagal, sehingga merasa sangat wajib untuk ikut berperang kembali meskipun dia tidak menginginkannya. Ia lebih memilih berdialog dengan Sultan Mesir, Malik Al-Kamil, yang juga keponakan Shalahuddin. Dicapailah Kesepakatan Jaffa. Isinya, Baitul Maqdis tetap dikuasai oleh Muslim, tapi Betlehem (kota kelahiran Nabi Isa ‘alaihis-salaam) dan Nazareth (kota tempat Nabi Isa dibesarkan) dikuasai orang Eropa-Kristen. Sebagai “orang yang dimurtadkan” (excommuned) dia berhasil merebut kembali Jerusalem. Paus terpaksa mengakui dia sebagai raja Yerusalem. Sepuluh tahun kemudian Yerusalem berhasil direbut kembali oleh kaum muslimin.
Perang salib ketujuh (1248-1254) dipimpin oleh Louis IX (1215-1270) dari Perancis yang telah dinobatkan sebagai “orang suci” oleh Paus Bonifatius VIII. Meski di negerinya Ludwig dikenal sebagai penegak hukum yang baik, namun ia memimpin sebuah organisasi yang amburadul sehingga ketika pada tahun 1248 menyerbu Mesir untuk merebut kembali Damietta tapi justru gagal dan tertangkap di Mesir. Prancis perlu menebus dengan emas yang sangat banyak untuk membebaskannya. Tahun 1270 Louis mencoba membalas kekalahan itu dengan menyerang Tunisia. Namun pasukannya berhasil dikalahkan Sultan Dinasti Mamaluk, Bibars. Louis meninggal di medan perang.10
Perang Salib Kedelapan (1270) masih dipimpin oleh Raja Louis IX dari Perancis, dia berhasil mendarat di Afrika Utara untuk menaklukkan Kesultanan Tunisia menjadi Kristen, namun sudah terlanjur meninggal sebelum berhasil melaksanakannya.
Perang Salib Kesembilan (1271) dipimpin oleh Raja Edward I dari Inggris yang mencoba bergabung dengan Raja Louis di Tunisia, namun gagal karena Edward tiba setelah Louis meninggal. Sementara itu suku Baibar merebut Kastil Putih Tentara Templar, dan kemudian Krak des Chevaliers, pusat kesehatan yang utama. Dia kemudian melakukan perjanjian sepuluh tahun dengan Bohemond di Tripoli, kemudian ke Selatan dan merebut Montfort pada bulan Juni. Pada musim gugur itu, Raja Edward meminta Abaga mengirim 10.000 pasukan berkuda ke Syria; ini merupakan aliansi terkuat antara Mongolia dan kaum Kristen. Mereka menyerang Aleppo dan Apamea, namun tidak berhasil. Ketika Sultan Mamluk memimpin pasukan besar ke utara pada bulan November, Mongolia pergi dan tidak kembali.
Pada tahun 1272, dia menerima tawaran perjanjian sepuluh tahun dari Edward. Baibar telah merebut banyak kota dan benteng utama, sehingga merasa dapat menunda menyelesaikan pekerjaan tersebut. Namun dia juga tetap memikirkan ancaman dari Mongol. Pada bulan Juni, Sultan menyuruh Assassin untuk membunuh Raja Edward. Usaha ini hampir berhasil dimana Edward akhirnya sakit selama enam bulan, namun tidak lama setelah sembuh ia kembali ke Inggris setelah mengetahui ayahnya Henry III meninggal.
Mamluks menghabiskan tahun-tahun berikutnya menginvasi Sisilia dan Armenia. Kaum Seljuk berada di bawah kendali Mongol. Saat Baibar mengalahkan garnisun Mongol pada tahun 1277, Abaga melakukan balas dendam. Baibar pergi ke Syria dan Abaga mampu memulihkan Anatolia. Sultan Mamluk meninggal pada 1 Juli 1277.
Di bawah Paus Gregorius X (1274) dan juga setelah jatuhnya Konstantinopel (1453), perang salib pernah diserukan kembali, namun tak pernah dimulai. Sejak perang salib keempat, perang ini sudah jatuh popularitasnya.
Sementara itu, tanpa di bawah lambang pasukan salib, pada 1236 Cordoba pusat Daulah Islam di Andalusia direbut kembali oleh pasukan Katolik Kastilia. Pada 1258 Bagdad –pusat Khilafah– dihancurkan oleh Mongol-Tartar.11 Kedua serangan ini juga punya akibat yang sangat fatal pada sejarah umat Islam selanjutnya.
Bagi Eropa, hasil positif perang salib yang utama adalah motivasi yang dalam banyak hal ikut memajukan Eropa. Ini karena perang salib mempertemukan bangsa Eropa dengan peradaban yang lebih tinggi.
Dampak Perang Salib
Bangsa Eropa belajar berbagai disiplin ilmu yang saat itu berkembang di dunia Islam lalu mengarangnya dalam buku-buku yang bagi dunia Barat tetap terasa mencerahkan. Mereka juga mentransfer industri dan teknologi konstruksi dari kaum muslimin, sehingga pasca perang salib terjadi pembangunan yang besar-besaran di Eropa. Gustav Lebon berkata: “Jika dikaji hasil perang salib dengan lebih mendalam, maka didapati banyak hal yang sangat positif dan urgen. Interaksi bangsa Eropa selama dua abad masa keberadaan pasukan salib di dunia Islam boleh dikatakan faktor dominan terhadap kemajuan peradaban di Eropa. Perang salib membuahkan hasil gemilang yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.”
Efek negatifnya adalah secara teologis Eropa makin terpolarisasi. Dunia Kristen Barat makin membentengi diri dan bersikap memusuhi terhadap segala yang berasal dari luar. Dan ini berjalan hingga abad 20. Mentalitas perang salib ini juga pernah digunakan beberapa penguasa Barat untuk menekan kaum protestan. Dan pada Perang Dunia II, Hitler memotivasi pasukannya dalam melawan Rusia sebagai “Perang salib melawan Atheisme”.
Sedangkan umat Islam tidak mendapatkan apapun. Umat Islam tak bisa mengambil apa-apa dari satu pasukan yang bermoral bejat, yang sebagian besar berasal dari para penganggur dan penjahat. Perang salib menghabiskan aset umat Islam baik sumber daya alam maupun manusia. Kemiskinan terjadi karena seluruh kekayaan negara dialokasikan untuk perang. Dekadensi moral terjadi karena perang memakan habis kaum laki-laki dan pemuda. Kemunduran ilmu pengetahuan terjadi karena umat menghabiskan seluruh waktunya untuk memikirkan perang sehingga para ulama tidak punya waktu untuk mengadakan penemuan-penemuan dan karya-karya baru kecuali yang berhubungan dengan dunia perang.
Perang salib merupakan salah satu titik balik dari sejarah keemasan umat Islam. Perang salib yang melelahkan telah ikut berkontribusi atas proses hancurnya Khilafah Abbasiyah, sehingga serangan Tartar atas Bagdad pada 1258 hanya sekedar finalisasi dari proses tersebut.
Salahuddin al-Ayyubi Peletak Dasar Nilai Kemanusiaan dalam Perang Islam
Banyak hal yang dapat dipelajari dari akhlak Salahuddin al-Ayyubi selama masa Perang Salib. Ketika tentara Kristen, Jerman, Yahudi membantai orang Islam di jalan-jalan, hal ini berbalik 180 derajat dengan perlakuan pasukan Islam terhadap pasukan Kristen. Sebagaimana dituturkan oleh Raymond, salah satu serdadu Perang Salib yang pengakuannya didokumentasikan oleh August C Krey, dalam buku ‘The First Crusade: The Accounts of Eye-Witnesses and Praticipants’ (Princeton & London: 1991) bahwa: “Pemandangan mengagumkan akan terlihat. Beberapa orang lelaki kami memenggal kepala-kepala musuh; lainnya menembaki mereka dengan panah-panah, sehingga mereka berjatuhan dari menara-menara; lainnya menyiksa mereka lebih lama dengan memasukkannya ke dalam api menyala. Tumpukan kepala, tangan, dan kaki terlihat di jalan-jalan kota. Kami berjalan di atas mayat-mayat manusia dan kuda. Tapi ini hanya masalah kecil jika dibandingkan dengan apa yang terjadi di Biara Sulaiman, tempat dimana ibadah keagamaan kini dinyanyikan kembali. Di sana, para pria berdarah-darah disuruh berlutut dan dibelenggu lehernya.”
Selain itu, untuk membangkitkan semangat para tentara Muslim yang menyertainya, yang saat itu perilakunya lemah, tidak memiliki semangat jihad, dan tidak memiliki nilai-nilai luhur yang dimiliki para pemimpin perang terdahulu; Salahuddin melakukan berbagai upaya untuk merekrut kaum Muslim agar mau turut bertempur merebut Palestina, seperti menggelar peringatan Maulid Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam selama dua bulan berturut-turut dengan membahas sirah nabawiyah (sejarahnabi) dan atsar (perkataan) sahabat, terutama yang berkaitan dengan nilai-nilai jihad. Salahuddin berhasil menghimpun pasukan yang terdiri atas para pemuda dari berbagai negeri Islam.
Poin lain adalah ketika Shalahuddin dan tentaranya memasuki Baitul Maqdis (setelah berhasil merebutnya dalam pertempuran 8 hari) sebagai penakluk yang berpegang teguhpada ajaran Islam yang mulia. Tidak ada dendam untuk membalas pembantaian tahun 1099, seperti yang dianjurkan Al-Qur`an dalam surat An-Nahl ayat 127: “Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaran itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan.”
Permusuhan dihentikan dan Shalahuddin menghentikan pembunuhan. Ini sesuai dengan firman dalam Al-Qur`an: “Dan perangilah mereka sehingga tidak ada fitnah lagi dan agama itu hanya untuk Allah. Jika mereka berhenti (memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan lagi, kecuali terhadap orang-orang yang zhalim.” (Al-Baqarah: 193)
Tak ada satu orang Kristen pun yang dibunuh dan tidak ada perampasan. Jumlah tebusan pun disengaja sangat rendah. Shalahuddin bahkan menangis tersedu-sedu karena keadaan mengenaskan keluarga-keluarga yang hancur terpecah-belah. Ia membebaskan banyak tawanan, meskipun menyebabkan keputusasaan bendaharawan negaranya yang telah lama menderita. Saudara lelakinya, Al-Malik Al-Adil bin Ayyub, juga sedih melihat penderitaan para tawanan sehingga dia meminta Salahuddin untuk membawa seribu orang di antara mereka dan membebaskannya saat itu juga.
Beberapa pemimpin Muslim sempat tersinggung karena orang-orang Kristen kaya melarikan diri dengan membawa harta benda, yang sebenarnya bisa digunakan untuk menebus semua tawanan. [Uskup] Heraclius membayar tebusan dirinya sebesar sepuluh dinar seperti halnya tawanan lain, dan bahkan diberi pengawal pribadi untuk mempertahankan keselamatan harta bendanya selama perjalanan ke Tyre (Libanon).
Shalahuddin meminta agar semua orang Nasrani Latin (Katolik) meninggalkan Baitul Maqdis. Sementara kalangan Nasrani Ortodoks—bukan bagian dari Tentara Salib—tetap dibiarkan tinggal dan beribadah di kawasan itu.
Pada tahun 1194, Richard yang digambarkan sebagai seorang pahlawan dalam sejarah Inggris, memerintahkan untuk menghukum mati 3000 orang Islam, yang kebanyakan di antaranya wanita-wanita dan anak-anak. Tragedi ini berlangsung di Kastil Acre. Meskipun orang-orang Islam menyaksikan kekejaman ini, mereka tidak pernah memilih cara yang sama.
Suatu hari, Richard sakit keras. Mendengar kabar itu, Shalahuddin secara sembunyi-sembunyi berusaha mendatanginya. Ia mengendap-endap ke tenda Richard. Begitu tiba, bukannya membunuh, malah dengan ilmu kedokteran yang hebat Shalahudin mengobati Richard hingga akhirnya sembuh.
Richard terkesan dengan kebesaran hati Shalahuddin. Ia pun menawarkan damai dan berjanji akan menarik mundur pasukan Kristen pulang ke Eropa. Mereka pun menandatangani perjanjian damai (1197). Dalam perjanjian itu, Shalahuddin membebaskan orang Kristen untuk mengunjungi Palestina, asal mereka datang dengan damai dan tidak membawa senjata. Selama delapan abad berikutnya, Palestina berada di bawah kendali kaum Muslimin.12
Perang Salib dan Kaitannya dengan ‘Perang Salib’ modern
Pada saat ini maupun pada abad pertengahan, Perang Salib sering dianggap sebagai perang pembebasan. Sebagaimana Paus Urban II dulu sering meneriakan pembebasan, dalam pengertian membebaskan tanah kaum Kristen di Timur dari pendudukan Muslim. Saat ini pun Presiden Amerika Serikat, George W. Bush, melegitimasi serangannya ke Irak bukan sebagai intervensi politik, namun sebagai ‘crusade’ untuk membebaskan rakyat Irak dari pemerintahan tirani Saddam Hussein –meskipun sebagaimana ‘bebas’ perasaan warga Fallujah masih dipertanyakan. Tentu saja tindakan Amerika ini bukan dimotivasi oleh agama; melainkan keamanan dan kendali atas sumber daya minyak. Dan sekali lagi Bush menyerukan bahwa menyebarkan kebebasan adalah tujuan ideologis kegiatannya.
Sebagaimana dituturkan oleh Jonathan Riley-Smith dalam ‘The First Crusade and the Idea of Crusading: A Short History’ yang mengkaitkan berbagai fenomena dalam Perang Salib dengan kejadian-kejadian saat ini, bahwa ketika Paus Leo IX (1049-54) memerangi kaum Normandia Italia selatan, dia menjanjikan pengampunan dosa bagi yang berperang, ini sangat serupa dengan perintah Paus yang menjanjikan surga bagi yang berangkat Perang Salib. Justifikasi teologis terdapat dalam Perjanjian Lama mengenai perang untuk Tuhan, meskipun Perjanjian Lama tidak mencantumkan kekerasan yang disucikan, inilah mengapa melakukan perang suci menjadi anatema bagi Protestan seperti Martin Luther.
Paus Gregorius VII, dalam reaksinya terhadap kemenangan Turki di pertempuran di Manzikert pada tahun 1071, berseru kepada umat Katolik untuk membebaskan saudara-saudaranya di Timur, terutama Jerusalem. Urban II kemudian dipengaruhi oleh kemenangan umat Katolik di Spanyol dan Sisilia. Sehingga kata pembebasan bagi para neo-cons berarti kebebasan di bawah dominasi Amerika Serikat– paralel dengan Urban, yang mana pembebasannya berarti kebebasan di bawah kepausan.
Pemebebasan gereja-gereja di Timur juga paralel dengan Bush yang dipengaruhi oleh sekte di dalam Protestan Evangelis yang bernama ‘Dispensational Premillenialism’, leluhur dari ‘Zionisme Kristen’, yang dicirikan oleh orang-orang seperti Pat Robertson dan Franklin Graham, Graham termasuk rasis anti-Arab dan komentator Islamophobis. Salah satu kegagalan para komentator Muslim adalah dalam membedakan Protestantisme dari Katoliksisme dalam penerapan mereka atas Perang Salib, dan untuk mengakui bahwa tidak seluruh Evangelis adalah Zionis Kristen. Seperti para Zionis Kristen pasukan Perang Salib menganggap tindakan mereka sebagai pembuktian ramalan dan tulisan mengenai pengepungan Jerusalem oleh Roma pada tahun 70, Luke 21:24 (Jerusalem will be trampled by the Gentiles until the times of the Gentiles are fulfilled’, ‘Gentiles’ dalam hal ini adalah orang-orang Roma), mendukung pandangan ini, tulisan yang sering kali diterapkan di luar konteksnya oleh Zionis Kristen modern.
Persamaan lain adalah klaim Bush bahwa dia memerangi teror dimana dia tidak membedakan antara HAMAS dan Hezbollah di satu sisi dan Al-Qaida di sisi lain (meskipun dia tidak pernah mengecualikan Anggota Kongres Republik New York Peter King, yang merupakan komentator Islamophobis dan mendukung Sinn Fein), sehingga Urban tidak melihat perbedaan utama antara membebaskan orang-orang di Spanyol dengan di Palestina: ‘pada hari ini Tuhan telah berperang melalui umat Kristen di Asia melawan Turki dan di Eropa melawan kaum Moor’.
Terdapat pula keterkaitan dengan jihad gerilya Islamis modern– konsep baraka (kekuatan supernatural) dalam senjata. Pembunuhan Sadat dikatakan dilakukan oleh Bismillah Al-Muntaqim (atas nama Tuhan sang Penghukum) sebagaimana tertulis pada senjatanya. Demikian pula degan kepercayaan umum Katolik Abad Pertengahan bahwa Jerusalem dan lingkungannya telah ‘menyerap kebaikan, kekuasaan suci, dari para nabi dan Kristus sendiri’. Tidak ada dasar Injil atas paham tersebut, dimana kaum Evangelis sendiri menolaknya, namun ternyata memenuhi imajinasi para pasukan Perang Salib itu sendiri. Para pasukan yang terkepung di Antakiyah mendapat inspirasi untuk menang dengan menemukan Tombak Suci yang membunuh Kristus di Salib; fenomena ajaib yang memenuhi pikiran para pasikan Perang Salib dengan mimpi akan Krsitus dan orang-orang suci, serta fenomena surgawi– yang banyak diantaranya juga diklaim oleh kaum Zionis Kristen.
Sementara itu Thomas Asbridge dengan bukunya ‘The First Crusade: A New History’, menjelaskan dengan baik mengenai pengepungan Antakiyah oleh pasukan Perang Salib dan pengepungan oleh Muslim itu sendiri. Disini diperlihatkan bagaimana kesetiaan pasukan Perang Salib terhadap kepercayaan mereka bahkan ketika dihadapkan pada kelaparan, tekanan penguasa, diberi pilihan oleh pemimpin Muslim Kerbogha untuk memeluk Islam atau dibunuh atau dijadikan budak; pasukan Perang Salib lebih memilih untuk melawan.
Keterkaitannya dengan saat ini adalah ketika Komisi Pelaporan 9/11 mengklaim bahwa dalam sudut pandang Al-Qaida, satu-satunya yang dapat dilakukan Amerika untuk mengakhiri jihad adalah memeluk agama Islam, sementara Perdana Menteri Blair bahwa ideology di balik Al-Qaida hanyalah dipuaskan dengan ‘eliminasi fisik’ orang-orang Barat. Suatu studi elementer tentang komunike Al-Qaida menganggapnya tidak benar. Apakah mungkin sumber besar dari pemerintah Amerika Serikat dan Inggris salah paham dengan komunike tersebut? Atau apakah bahwa kedua pemerintahan tersebut menyadari bahwa dengan menyatakan klaim tersebut, penduduk Amerika dan Inggris akan setuju –seperti orang-orang Barat yang dikepung di Antakiyah –bahwa mereka tidak memiliki pilihan selain berperang untuk melawan? Perbedaannya adalah bahwa permintaan Kerbogha adalah asli, dan merupakan suatu kesalahan tragis taktis yang menyebabkan kekalahannya.
Dalam buku Asbridge juga dijelaskan permusuhan internal antar pasukan Perang Salib, terutama antara Bohemond dan Raymond dari Toulouse, yang melemahkan kekuatan pasukan Perang Salib dan menunda perjalanan ke Jerusalem. Juga mengenai kekejaman Marrat, dimana pasukan Perang Salib menerapkan senjata pemusnah massal mereka sendiri, dengan menggunakan ‘api dan bubuk sulfur’ untuk mengasapi orang-orang Muslim yang bersembunyi di gua, kemudian menyiksa mereka hingga meninggal, serta ketika kemenangan kaum Frank menyebabkan kelaparan dan kanibalisme. Jatuhnya Jerusalem dicirikan dengan pembantaian massal populasi Muslim dan Yahudi, termasuk anak-anak dan wanita, di hadapan umum. Polisi militer Koalisi Irak menggambarkan hal yang serupa, dengan pembantaian ratusan warga Fallujah, pembunuhan oleh The Lancet dimana sekitar 100,000 warga Irak dibunuh, dan pencurian minyak Irak oleh perusahaan Amerika Serikat yang terkait erat dengan pemerintahan Bush.
Namun seperti digambarkan dalam buku Asbridge, baik kaum Kristen maupun Muslim memiliki perilaku yang pragmatis satu sama lain. Pasukan Perang Salib bukan merupakan petani yang brutal, melainkan dipimpin oleh ksatria mereka untuk menyerang komunitas Yahudi Eropa, ketika benteng berada di tengah-tengah mereka. Kaum Muslim Barat menderita karena dianggap bertanggung jawab atas berbagai penyerangan setelah 9/11 yang mana menggambarkan masa lalu. Sementara itu komunitas Kristen Timur Tengah juga membantu pasukan Perang Salib, setelah mendapat perlakuan buruk dari pemimpin Muslim mereka. Di Afghanistan Amerika mampu merekrut bantuan dari kaum non-Pashtun dan Syiah, Syiah sebelumnya diperlakukan dengan buruk oleh Taliban, dan di Irak mereka dibantu oleh kaum Kurdi yang tertindas. Ini menggambarkan kebutuhan negara-negara Muslim menghindari seluruh bentuk diskriminasi komunal, karena dapat menyebabkan pasukan Perang Salib modern untuk meniru para leluhur mereka. Asbrige menyatakan bahwa: ‘Sejak tahun 1300, ingatan akan perang salib sebagai perang yang diperkuat oleh kebencian fanatik telah mengakar dalam persepsi kolektif masyarakat barat dan timur. Kristen dan Islam telah ditempatkan pada jalan menuju konflik yang tiada akhir’.13
DAFTAR PUSTAKA
1 Angeliki E. Laiou and Roy Parviz Mottahedeh. The Crusades from the Perspective of Byzantium and the Muslim World. Downloaded from: www.doaks.org/etexts.html.
2 Fahmi Amhar. Kilas Balik Perang Salib. Downloaded from: Swaramuslim_net For Izzatul Islam Wal Muslimin wal Mu'minat.htm.
3 Fahmi Amhar. Kilas Balik Perang Salib. Downloaded from: Swaramuslim_net For Izzatul Islam Wal Muslimin wal Mu'minat.htm.
4 Fahmi Amhar. Kilas Balik Perang Salib. Downloaded from: Swaramuslim_net For Izzatul Islam Wal Muslimin wal Mu'minat.htm.
5 Dr. A. Zahoor from 'For Christ's Sake' by A. Thomson and M. 'Ata'ur-Rahim. A Brief Account of the Crusades. http://cyberistan.org/islamic/crusades1.htm.
6 Latar Belakang Perang Salib. Downloaded from: perang.coconia.net.
7 The Crusades and The Rise of Islam. Downloaded from: http://www.mrdowling.com/606islam.html.
8 Karen Armstrong. Perang Suci: Dari Perang Salib hingga Perang Teluk. 2001. Serambi.
9 www.atheism
10 Agung Pribadi, Pambudi. Latar Belakang Perang Salib. Sumber: Majalah Hidayatullah edisi Desember 2004.
11 Miyuki bin Afsha. The Crusaders. Downloaded from: http://miyukibinafsha.blogdrive.com.
12 Agung Pribadi, Pambudi. Latar Belakang Perang Salib. Sumber: Majalah Hidayatullah edisi Desember 2004.
13 Dr. Anthony McRoy. Crusades of ‘Liberation’ – From Urban II to Bush. Downloaded from: www.mpacuk.com.

No comments:

Post a Comment

 
Support : Copyright © 2011. MAKALAH PENDIDIKAN INDONESIA - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger