Selamat datang di BLOGnya Pak Boedi

Sunday, 20 May 2012

MUSEUM TROWULAN MOJOKERTO

Seorang Bupati Mojokerto yang bernama R.A.A. Kromodjojo Adinegoro memiliki jasa besar atas pendirian Museum Trowulan. Diawali atas prakarsanya dan seorang arsitek Belanda bernama Henry Maclaine Pont mendirikan Oudheeidkundige Vereebeging Majapahit (OVM) pada tanggal 24 April 1924 yaitu suatu perkumpulan yang bertujuan meneliti peninggalan-peninggalan Majapahit. OVM menempati sebuah bangunan di Trowulan yang terletak di Jalan Raya antara Mojokerto dan Jombang (sekarang Kantor BP3 Trowulan).
Seiring dengan perkembangan waktu maka OVM memiliki jumlah koleksi yang melimpah bahkan beberapa temuan berasal dari luar Situs Trowulan. Semakin banyaknya jumlah koleksi tersebut maka pada tahun 1926 para pemrakarsa OVM berniat mendirikan Museum yang bernama Museum Trowulan. Museum ini terbuka untuk umum dan didirikan bangunan khusus untuk ruang pamernya.
Pada masa pendudukan Jepang (1942), museum sempat ditutup untuk umum karena Henry Maclaine Pont ditawan oleh Jepang. Guna menjaga aset museum tersebut maka pemerintah mengambil alih pengelolaannya. 
Semenjak Indonesia merdeka maka pengelolaan dilakukan oleh bangsa sendiri melalui lembaga Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala (SPSP) yang sekarang bernama Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Timur. Kantor tersebut selain mengelola museum juga melakukan perlindungan benda purbakala di seluruh wilayah Jawa Timur sehingga Museum Trowulan pada akhirnya menampung benda cagar budaya yang rawan rusak atau hilang di tempat aslinya. Museum akhirnya berpindah ke arah selatan berganti nama menjadi Balai Penyelamatan Arca. Penamaan tersebut didasarkan atas fungsinya yaitu lokasi penyelamatan arca dan sejenisnya. Walaupun nama tersebut sudah berubah tetapi masyarakat masih mengenal dengan nama Museum Trowulan.
Jumlah koleksi Museum Trowulan semakin bertambah banyak pada tahun 1999 karena adanya pemindahan dan penggabungan koleksi Gedung Arca Mojokerto dengan Museum Trowulan. Penembahan koleksi tersebut terutama berasal dari koleksi R.A.A. Kromodjojo Adinegoro pada masa sebelumnya yang disimpan di Gedung Arca Mojokerto tersebut.
Mulai tanggal 3 November 2008 secara resmi nama Balai Penyelamatan Arca atau Museum Trowulan berganti nama menjadi Pusat Informasi Majapahit (PIM) yang diresmikan langsung oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Jero Wacik. Penamaan tersebut didasarkan atas peningkatan kebutuhan masyarakat akan informasi tentang Majapahit baik oleh peneliti maupun masyarakat umum. Sebuah informasi terpadu baik berupa data tertulis, digital, gambar maupun peninggalan pada zaman Majapahit nantinya dapat diakses secara lengkap di Pusat Informasi Majapahit tersebut. 
Walaupun nama dan bentuk kegiatannya sudah mengalami perubahan dan perkembangan, tetapi fungsi dan tujuan dasarnya tidak berubah yaitu tetap sebagai museum dan Balai Penyelamatan Benda Cagar Budaya di Jawa Timur. Bahkan sekarang beragam bentuk kegiatan mampu dilaksanakan di Pusat Informasi Majapahit tersebut, sebagai contoh kegiatan outbond yang mampu menampung sekitar 800 orang. Bertambahnya nilai penyajian dan bentuk kegiatan di PIM mampu mendongkrak pula nilai museum bukan hanya sekedar tempat mengumpulkan benda-benda antik tetapi juga sebagai sarana hiburan keluarga dan kelompok masyarakat. Bahkan siswa-siswa di sekitar Mojokerto hampir setiap akhir pekan selalu mengadakan kegiatan kunjungan atau hanya sekedar melaksanakan kegiatan outbond di kompleks PIM tersebut.
Koleksi PIMDominasi koleksi di PIM (Museum Trowulan) adalah benda-benda cagar budaya yang ditemukan di sekitar Situs Trowulan atau peninggalan pada zaman Majapahit. Melalui peninggalan tersebut kita dapat mengetahui aspek budaya yang pernah terjadi pada zaman Majapahit seperti bidang pertanian, irigasi, arsitektur, perdagangan, perindustrian, agama dan kesenian. Koleksi tersebut dipajang di gedung atau ruang terbuka berbentuk pendopo atau halaman museum.
Berdasarkan bahannya, maka koleksi PIM yag dipamerkan dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kelompok yaitu sebagai berikut.
1.Koleksi tanah liat (terakota)Koleksi ini mencakup terakota manusia (figurin), alat-alat produksi, alat-alat rumah tangga, dan arsitektur.2.Koleksi keramikKoleksi keramik beragam bentuk antara lain guci, teko, piring, mangkok, sendok, dan vas bunga. Koleksi tersebut dapat diketahui umur relatifnya dan asal negaranya antara lain berasal dari Cina, Thailand, dan Vietnam.3.Koleksi logamKoleksi logam dapat diklasifikasikan berdasarkan bentuknya dan fungsinya antara lain uang kuno, alat-alat seperti bokor, pedupaan, lampu, guci, cermin, genta, dan alat musik.4.Koleksi batuKoleksi berbahan batu dapat diklasifikasi menjadi koleksi miniatur dan komponen candi, koleksi arca, koleksi relief, dan koleksi prasasti. Selain itu juga terdapat koleksi lain yang berbahan batu yaitu alat-alat dan fosil binatang.


Tebar Pesona a la Trowulan: Megapolitan di Pedalaman Majapahit






“SIRA ta dhinarmeng Kapopongan, bhiseka ring Crnggapura pratista ring Antawulan”

KALIMAT di atas diambil dari Serat Pararaton yang berisi kisah Raja-Raja Tumapel dan Majapahit yang mengabarkan wafatnya Raja Jayanegara pada tahun 1328 Saka. Menurut Dr. N.J. Krom, Crnggapura dalam Pararaton sama dengan Cri Ranggapura dalam Nagarakrtagama, sedang Antawulan dalam Pararaton sama dengan Antarsasi dalam Nagarakrtagama.
Jadi dapat disimpulkan bahwa dharma (tempat suci) Raja Jayanegara berada di Kapopongan atau Crnggapura atau Cri Ranggapura. Pratista (bangunan suci)-nya berada di Antawulan atau Trowulan. Sedangkan Kapopongan atau Crnggapura atau Cri Ranggapura sekarang ini lebih dikenal dengan sebutan Gapura Bajangratu, sebuah bangunan pintu gerbang yang memiliki atap (paduraksa), bahan utamanya terbuat dari bata merah sedangkan lantai tangga dan ambang pintu terbuat dari batu andesit.
Tujuan pembuatan bangunan tersebut diduga sebagai pintu masuk ke sebuah bangunan suci untuk memperingati wafatnya Jayanegara (dalam Nagarakrtagama disebut kembali ke dunia Wisnu 1328 Saka), yang diperkuat dengan adanya relief Sri Tanjung dan Sayap Gapura yang mempunyai arti sebagai lambang “pelepasan”.
Gapura Bajangratu terletak di Dukuh Kraton, Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, 65 km arah barat dari Kota Surabaya atau 20 km timur Jombang. Dari Jalan Raya Jombang - Mojokerto ke arah selatan, sampai di perempatan Dukuh Ngliguk belok ke timur sekitar 3 km. Anda bisa mencapainya dengan jalan kaki atau naik becak yang biasa mangkal di sekitar perempatan ibukota Majapahit tersebut.
Apabila anda naik becak dan keasyikan ngobrol dengan abang becak, dalam beberapa menit telah muncul di samping kiri anda kolam renang besar purba dengan sebuah candi kecil pada bagian tengahnya bersosok gunung merangkap pancuran - yang oleh masyarakat sekitar disebut Candi Tikus, setelah anda melewati belokan ke selatan.
Pada tahun 1924, Ir. H. Maclaine Pont membuat sketsa rekonstruksi ibukota Majapahit berdasarkan Nagarakrtagama dan beberapa usaha penggalian yang dilakukan bersama timnya. Ibukota Majapahit terlihat teratur, indah dan ditata dengan megah.
Dalam Nagarakrtagama disebutkan, penduduk ibukota Majapahit terdiri dari dua ratus sampai tiga ratus ribu keluarga, kota itu dikelilingi dinding tebal dan tinggi yang terbuat dari batu bata. Apabila ada yang masuk ke kota harus melewati pintu gerbang. Di kota itu terdapat alun-alun yang dikelilingi pohon beringin yang rindang, di tengahnya terdapat kolam yang besar. Di selatan alun-alun ada dataran untuk gelanggang. Di samping gelanggang terdapat sitinggil, suatu pelataran yang diberi atap.
Di sitinggil itulah raja duduk sambil menikmati tontonan atau permainan yang diadakan di gelanggang. Gelanggang tersebut dikelilingi komplek perumahan pendeta dan beberapa candi. Di selatan gelanggang terletak istana raja, yang tidak boleh dikunjungi rakyat. Tidak jauh dari istana terdapat bangunan untuk kediaman para pangeran.
Kecuali gedung-gedung suci (candi) dan pintu gerbang, semua bangunan terbuat dari kayu. Bangunan tersebut indah-indah semua dan bentuknyapun tidak ada yang sama antara satu dengan lainnya. Lagi pula semua dihiasi dengan lukisan dan barang dari tanah liat.

Kolam besar yang terdapat di tengah alun-alun tersebut dinamakan segaran yang berarti laut, atau telaga dalam Nagarakrtagama.
Menurut berita Cina dan cerita rakyat, kolam seluas 6,5 hektar tersebut digunakan untuk rekreasi dan menjamu tamu dari luar negeri, mungkin semacam pesta kebun atau standing party yang dilakukan di pinggir kolam.
Hidangan yang disajikan beraneka macam dan sangat lezat, sedangkan peralatan makan yang digunakan dalam pesta tersebut terbuat dari emas dan perak.
Setelah menyantap hidangan para tamu diperkenankan “membuang” piring atau peralatan makan/minum ke dalam kolam! Menunjukkan betapa kaya dan makmurnya negeri Majapahit…
Tak lama setelah tamu beranjak pulang, para petugas kerajaan datang memungut kembali “sampah” tersebut dengan cara mengangkat jala atau jaring-jaring yang menutupi sepanjang permukaan kolam - yang tentu saja ada lecet-lecet di sana-sini, ndak masalah, toh perhelatan serupa masih tiga purnama lagi.
Ehm, suatu entertaint dengan teknik orisinal untuk sebuah building image yang di-organized para pakar pi-ar mbah kita, atau mungkin lebih tepatnya mbah-mbahnya pakar pi-ar.
Dan malampun segera larut, para tamupun meneruskan mimpinya di ranjang-ranjang mewah keraton Trowulan. Ssst…lebih dari enam abad yang lalu praktek tebar pesona sudah dilakoni moyang kita!

BUKTI MEGAHNYA MAJAPAHIT DI BAJANG RATU

Candi Bajangratu terletah di Dukuh Kraton, Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, sekitar 3,5 km dari Candi Wringinlawang dan sekitar 600 m dari Candi Tikus. Candi ini masih menyimpan banyak hal yang belum diketahui secara pasti, baik mengenai tahun pembuatannya, raja yang memerintahkan pembangunannya, fungsinya, maupun segi-segi lainnya.
Nama Bajangratu pertama kali disebut dalam Oudheidkunding Verslag (OV) tahun 1915. Arkeolog Sri Soeyatmi Satari menduga nama Bajangratu ada hubungannya dengan Raja Jayanegara dari Majapahit, karena kata 'bajang' berarti kerdil. Menurut Kitab Pararaton dan cerita rakyat, Jayanegara dinobatkan tatkala masih berusia bajang atau masih kecil, sehingga gelar Ratu Bajang atau Bajangratu melekat padanya.Mengenai fungsi candi, diperkirakan bahwa Candi Bajangratu didirikan untuk menghormati Jayanegara. Dasar perkiraan ini adalah adanya relief Sri Tanjung di bagian kaki gapura yang menggambarkan cerita peruwatan. Relief yang memuat cerita peruwatan ditemukan juga, antara lain, di Candi Surawana. Candi Surawana diduga dibangun sehubungan dengan wafatnya Bhre Wengker (akhir abad ke-7).Dalam Kitab Pararaton dijelaskan bahwa Jayanegara wafat tahun 1328 ('sira ta dhinar meng Kapopongan, bhiseka ring csrenggapura pratista ring Antarawulan'). Disebutkan juga bahwa Raja Jayanegara, yang kembali ke alam Wisnu (wafat) pada tahun 1328, dibuatkan tempat sucinya di dalam kedaton, dibuatkan arcanya dalam bentuk Wisnu di Shila Petak dan Bubat, serta dibuatkan arcanya dalam bentuk Amoghasidhi di Sukalila. Menurut Krom, Csrenggapura dalam Pararaton sama dengan Antarasasi (Antarawulan) dalam Negarakertagama, sehingga dapat disimpulkan bahwa 'dharma' (tempat suci) Raja Jayanegara berada di Kapopongan alias Csrenggapura alias Crirangga Pura alias Antarawulan, yang kini disebut Trowulan. Arca perwujudan sang raja dalam bentuk Wisnu juga terdapat di Bubat (Trowulan). Hanya lokasi Shila Petak (Selapethak) yang belum diketahui.Di samping pendapat di atas, ada pendapat lain mengenai fungsi Candi Bajangratu. Mengingat bentuknya yang merupakan gapura paduraksa atau gapura beratap dengan tangga naik dan turun, Bajangratu diduga merupakan salah satu pintu gerbang Keraton Majapahit. Perkiraan ini didukung oleh letaknya yang tidak jauh dari lokasi bekas istana Majapahit.
Bajangratu diperkirakan didirikan antara abad ke-13 dan ke-14, mengingat: 1) Prakiraan fungsinya sebagai candi peruwatan Prabu Jayanegara yang wafat tahun 1328 M ; 2) Bentuk gapura yang mirip dengan candi berangka tahun di Panataran Blitar; 3) Relief penghias bingkai pintu yang mirip dengan relief Ramayana di Candi Panataran; 4) Bentuk relief naga yang menunjukkan pengaruh Dinasti Yuan. J.L.A. Brandes memperkirakan bahwa Bajangratu dibangun pada masa yang sama dengan pembangunan Candi Jago di Tumpang, Malang, ditilik dari adanya relief singa yang mengapit sisi kiri dan kanan kepala Kala, yang juga terdapat di Candi Jago. Candi Jago sendiri diperkirakan dibangun pada abad ke-13.
 
Candi Bajangratu menempati area yang cukup luas. Seluruh bangunan candi dibuat dari batu bata merah, kecuali anak tangga dan bagian dalam atapnya. Sehubungan dengan bentuknya yang merupakan gapura beratap, Candi Bajangratu menghadap ke dua arah, yaitu timur-barat. Ketinggian candi sampai pada puncak atap adalah 16,1 m dan panjangnya 6,74 m. Gapura Bajangratu mempunyai sayap di sisi kanan dan kiri. Pada masing-masing sisi yang mengapit anak tangga terdapat hiasan singa dan binatang bertelinga panjang. Pada dinding kaki candi, mengapit tangga, terdapat relief Sri Tanjung, sedangkan di kiri dan kanan dinding bagian depan, mengapit pintu, terdapat relief Ramayana. Pintu candi dihiasi dengan relief kepala kala yang terletak tepat di atas ambangnya. Di kaki ambang pintu masih terlihat lubang bekas tempat menancapkan kusen. Mungkin dahulu pintu tersebut dilengkapi dengan daun pintu.Bagian dalam candi membentuk lorong yang membujur dari barat ke timur. Anak tangga dan lantai lorong terbuat dari batu. Bagian dalam atap candi juga terbuat dari balok batu yang disusun membujur utara-selatan, membentuk ruang yang menyempit di bagian atas.
Atap candi berbentuk meru (gunung), mirip limas bersusun, dengan puncak persegi. Setiap lapisan dihiasi dengan ukiran dengan pola limas terbalik dan pola tanaman. Pada bagian tengah lapis ke-3 terdapat relief matahari, yang konon merupakan simbol kerajaan Majapahit. Walaupun candi ini menghadap timur-barat, namun bentuk dan hiasan di sisi utara dan selatan dibuat mirip dengan kedua sisi lainnya. Di sisi utara dan selatan dibuat relung yang menyerupai bentuk pintu. Di bagian atas tubuh candi terdapat ukiran kepala garuda dan matahari diapit naga.Candi Bajangratu telah mengalami pemugaran pada zaman Belanda, namun tidak didapatkan data mengenai kapan tepatnya pemugaran tersebut dilaksanakan. Perbaikan yang telah dilakukan mencakup penguatan pada bagian sudut dengan cara mengisikan adonan pengeras ke dalam nat-nat yang renggang dan mengganti balok-balok kayu dengan semen cor. Beberapa batu yang hilang dari susunan anak tangga anak tangga juga sudah diganti.

MENGENAL SEJARAH CANDI TIKUS TROWULAN, MOJOKERTO


CANDI TIKUS TROWULAN MOJOKERTO




Candi Tikus terletak di dukuh Dinuk Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Candi ini berukuran 29,5X28,25 meter dan tinggi keseluruhan 5,2 meter. Nama candi tikus diambil dari sejarah penemuannya yang ketika itu pertama kali ditemukan di sana ditemukan banyak sekali tikus, dan hama tikus ini menyerang pertanian desa di sekitarnya. Pertama kali ditemukan pada tahun 1914 kemudian baru dilakukan pemugaran pada tahun 1983-1986. 


Menurut beberapa sumber menyebutkan bahwa Candi 

Tikus merupakan replika atau lambang Mahameru. Candi

 ini disebut Candi Tikus karena sewaktu ditemukan 

merupakan tempat bersarangnya tikus yang memangsa 

padi petani


Di tengah Candi Tikus terdapat miniatur empat buah candi kecil yang dianggap melambangkan Gunung Mahameru tempat para dewa bersemayam dan sumber segala kehidupan yang diwujudkan dalam bentuk air mengalir dari pancuran-pancuran/jaladwara yang terdapat di sepanjang kaki candi. Air ini dianggap sebagai air suci amrta, yaitu sumber segala kehidupan.Arsitektur bangunan melambangkan kesucian Gunung Mahameru sebagai tempat bersemayamnya para dewa. Menurut kepercayaan Hindu, Gunung Mahameru merupakan tempat sumber air Tirta Amerta atau air kehidupan, yang dipercaya mempunyai kekuatan magis dan dapat memberikan kesejahteraan, dari mitos air yang mengalir di Candi Tikus dianggap bersumber dari Gunung Mahameru.Gunung meru merupakan gunung suci yang dianggap sebagai pusat alam semesta yang mempunyai suatu landasan kosmogoni yaitu kepercayaan akan harus adanya suatu keserasian antara dunia dunia (mikrokosmos) dan alam semesta (makrokosmos). Menurut konsepsi Hindu, alam semesta terdiri atas suatu benua pusat yang bernama Jambudwipa yang dikelilingi oleh tujuh lautan dan tujuh daratan dan semuanya dibatasi oleh suatu pegunungan tinggi. Jadi Sangat mungkin Candi Tikus merupakan sebuah petirtaan yang disucikan oleh pemeluk Hindu dan Budha, dan juga sebagai pengatur debit air di jaman Majapahi



Wednesday, 2 May 2012

pengujian hipotesis


Pengujian Hipotesis
Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendapatkan pengalaman hidup, dari pengalaman hidup tersebut kita bisa mengambil beberapa kesimpulan. Misalnya setiap kali kita ke kantor kita sering menemukan lebih banyak orang yang menggunakan angkutan umum sehingga kita bisa menyimpulkan bahwa lebih banyak orang yang menggunakan angkutan umum daripada kendaraan pribadi. Akan tetapi kesimpulan tersebut belum tentu benar karena hanya didasarkan pada apa yang kita saksikan sehari-hari. Selain itu kita juga tidak tahu seberapa banyak orang yang menggunakan angkutan umum dari pada kendaraan pribadi.

Dugaan kita bahwa ada sesuatu dibalik peristiwa yang kita saksikan biasanya disebut hipotesis. Dalam pengertian statistik, hipotesis adalah Asumsi atau Dugaan atau Anggapan mengenai sesuai hal yang dibuat berdasarkan TEORI, PENGALAMAN atau KETAJAMAN BERFIKIR dan menjelaskan hal itu melalui sebuah pengecekan atau pembuktian. Untuk membuktikan bahwa asumsi atau dugaan atau anggapan tersebut benar maka kita harus mengujinya. Langkah-langkah dalam melakukan pengujian tersebut biasa dikenal dengan pengujian hipotesis.

Untuk melakukan pengujian hipotesis beda dua rata-rata yang saling berhubungan digunakan Paired Sample T Test. Proses pengujian dengan menggunakan program SPSS adalah sebagai berikut:

Masukkan data yang dimiliki ke dalam program SPSS sebagai berikut:

http://1.bp.blogspot.com/_lKlbyrdPRCo/R-maUCc9wpI/AAAAAAAAABs/YjEcHNP2E1o/s320/data.bmp

Setelah itu klik ANALYZE > COMPARE MEANS > PAIRED SAMPLE T TEST sehingga kota dialog Paired Sample T Test muncul:

http://2.bp.blogspot.com/_lKlbyrdPRCo/R-ma3Sc9wqI/AAAAAAAAAB0/7tO963Im6SY/s320/data2.bmp

Setelah kotak dialog muncul, masukkan variable sebelum dan sesudah secara berurutan ke dalam kotak Paired Variabels.
http://4.bp.blogspot.com/_lKlbyrdPRCo/R-mbXyc9wrI/AAAAAAAAAB8/pCbs28N9C9c/s320/dialog+1.bmp

Setelah itu klik OK hingga output SPSS menampilkan hasil sebagai berikut:

http://1.bp.blogspot.com/_lKlbyrdPRCo/R-mbtCc9wsI/AAAAAAAAACE/6dV9vTvEg5k/s320/output1.bmp

Tabel Paired Samples Statistics menunjukkan bahwa sekor yang diperoleh siswa mengalami kenaikan dari 63,00 menjadi 67,71. Sedangkan korelasi antara kemampuan siswa sebelum dan sesudah mengikuti les sebesar 0,906 sehingga ada hubungan yang signifikan kemampuan siswa sebelum dan sesudah mengikuti les.

http://4.bp.blogspot.com/_lKlbyrdPRCo/R-mcRyc9wtI/AAAAAAAAACM/zEWNLp6_O0s/s320/output2.bmp

Output selanjutnya adalah paired sample test dimana dipaparkan hasil analisis SPSS terhadap perbedaan rata-rata.

http://2.bp.blogspot.com/_lKlbyrdPRCo/R-mcnSc9wuI/AAAAAAAAACU/6uMlixWRn-E/s320/paired+sample+t+test.bmp

Pada tabel di atas terlihat bahwa mean sebesar -4,714 dengan standar deviasi sebesar 5,648. Nilai thitung sebesar -2,208. Sedangkan nilai Sig (2-tailed) sebesar 0,069 > 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa H0 diterima sehingga dapat dikatakan bahwa tidak ada perbedaan nilai siswa sebelum ataupun sesudah mengikuti les.

AleXa Rank

pak-boedi.blogspot.com-Google pagerank,alexa rank,Competitor

IP Adrress....KaMu...

ip-location

Protected by News3Best

Get this widget

boedis@2012. Powered by Blogger.

Adsense

 
Support : Copyright © 2011. MAKALAH PENDIDIKAN INDONESIA - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger