Selamat datang di BLOGnya Pak Boedi

Tuesday, 24 May 2011

ANALISIS MATERI PKN DI SD/MI

BAB I
PENDAHULUAN

LATAR BELKANG ANALISIS MATERI PKn
Pendidikan kewarganegaraan adalah bidan kajian yang bersifat multifaset dengan konteks lintas bidang keilmuan yan bersifat interdisipliner multidisipliner dan multidimensional . Namun secara filsafat keilmuan bidan studi ini memilikiobjek kajianpokok ilmu politik (political democrazy) untuk aspek hak dan kewajiban ( duties and rights of citizen0 dari objek kajian pokok inilah berkembang konsep civics yang secara harfiah di ambil dari bahasa latin civicus, yang artinya warga Negara pada jaman yunani kuno. Kemudian secara akademisi diakui sebagai embrio civics education. Selanjutnya di Indonesia di adaptasi menjadi pembelajaran kewaganearaan
Materi Pkn di madrasah ibtidaiyah memerlukan analisis agar dalam penyampaian materi ke peserta didik tercapai tujuan intruksionalnya. Berikut akan di paparkan :
1. Bagaimana menentukan materi PKN dan analisi materi tersebut?
2. Bagaimana contoh kongkrit analisis materi PKN di buku BSE SD/MI?








BAB II
PEMBAHASAN

KRITERIA PENENTUAN MATERI AJAR PKn
Yaitu Kriteria Tujuan Intruksional, Materi Pelajaran Supaya tersebar, Materi Pelajaran harus relevan dengan Kebutuhan Peserta didik, Materi Pelajaran harus sesuai dengan kondisi Masyarakat, Materi Pelajaran harus mengandung segi-segi etik, Materi Pelajaran harus sistematis dan Materi pelajaran harus bersumber dari buku sumber yang baku, Pribadi pendidik dan Masyarakat.
a. Hal yang perlu diperhatikan dalam menetapkan materi pelajaran:
b. Materi pelajaran hendaknya sesuai dengan/ mejunjang tercapainya tujuan Intruksional.
c. Materi Pelajaran hendaknya sesuai dengan tingkat pendidikan/ perkembangan siswa pada umunya.
d. Materi pelajaran hendaknya terorganisasi secara sistematik dan berkesinambungan.
e. Materi pelajaran hendaknya mencakup hal-hal yang bersifat faktual maupun konseptual.
f. Adapun langkah untuk menganalisis bahan ajar adalah dengan mengevaluasi komponen-komponen materi yang mencakup:
kelayakan isi, kebahasaan, sajian, dan kegrafikan

1) Komponen kelayakan isi mencakup, antara lain:
i. Kesesuaian dengan SK, KD
ii. Kesesuaian dengan perkembangan anak
iii. Kesesuaian dengan kebutuhan bahan ajar
iv. Kebenaran substansi materi pembelajaran
v. Manfaat untuk penambahan wawasan
vi. Kesesuaian dengan nilai moral, dan nilai-nilai sosial
Komponen Kebahasaan antara lain mencakup:
a) Keterbacaan
b) Kejelasan informasi
c) Kesesuaian dengan kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar
d) Pemanfaatan bahasa secara efektif dan efisien (jelas dan singkat)
b) mencermati kembali hasil analisis kompetensi dasar
c) mendaftar pokok-pokok materi, dan
d) membuat deskripsi materi.

Komponen Penyajian antara lain mencakup:
a) Kejelasan tujuan (indikator) yang ingin dicapai
b) Urutan sajian
c) Pemberian motivasi, daya tarik
d) Interaksi (pemberian stimulus dan respond)
e) Kelengkapan informasi
Komponen Kegrafikan antara lain mencakup:
 Penggunaan font; jenis dan ukuran
 Lay out atau tata letak
 Ilustrasi, gambar, foto
 Desain tampilan


BAB III
PENUTUP

CONTOH ANALISIS MATERI PKN
ANALISIS BUKU/ MATERI
PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN SD/MI KELAS VI
PENERBIT: BSE (BUKU SEKOLAH ELEKTRONIK)
PENGARANG: SETIATI WIDIHASTUTI DAN FAJAR RAHAYUNINGSIH



BAB I
NILAI-NILAI PERJUANGAN DALAM PERUMUSAN PANCASILA
Standar kompetensi : 1. Nilai-nilai perjuangan dalam perumusan Pancasila
Kompetensi dasar : 1.1 Pancasila sebagai dasar negara
1.2 Nilai-nilai juang dan kebersamaan
1.3 Proses Perumusan Pancasila
1.4 Meneladani nilai-nilai juang dan kebersamaan tokoh
1.5 Mengamalkan nilai-nilai Pancasila
Analisis
A. Standar Isi
Dalam standar isi, Standar kompetensi untuk PKN kelas VI/1 sebagai berikut :
Menghargai nilai-nilai juang dalam proses perumusan Pancasila sebagai Dasar Negara.
Analisis :
Standar Kompetensi dengan buku sudah sesuai dengan standar isi. Masing-masing materi telah dijabarkan secara mendalam.
Kompetensi Dasar
Antara Kompetensi Dasar dalam Standar Isi dan dalam Buku sudah sesuai. Namun dibeberapa kompetensi dasar di bahas tiap-tiap materi. Sehingga pemahaman siswa mengenai materi lebih mendalam. Dan berikut analisisnya menurut standar isi:
1.1 Mendeskripsikan nilai-nilai juang dalam proses perumusan pancasila sebagai dasar negara
Dalam buku text BSE ini kompetensi dasar 1.1 menurut standar isi dibagi menjadi dua bab. Yaitu pada bab 1 yang berisi pancasila sebagai dasar negara dan pada bab 2 mengenai nilai-nilai juang dan kebersamaan dibalik perumusan pancasila serta bab 3 juga mengandung kompetensi dasar sesuai standar isi dalam buku tersebuttelah sesuai dengan standar isi.
1.2 Menceritakan secara singkat nilai kebersamaan dalam proses perumusan pancasila
Dalam buku text BSE ini kompetensi dasar 1.2 menurut standar isi digabung dengan Bab 2 yaitu mengenai nilai-nilai juang dan kebersamaan dibalik perumusan pancasila.
Namun meskipun digabung dengan bab 2 yang dianalisis di atas. Namun tidak mengurangi isi dalam materi bab 2 itu sendiri.
1.3 Meneladani nilai-nilai juang para tokoh yang berperan dalam proses perumusan
Pancasila sebagai Dasar Negara dalam kehidupan sehari-hari
Kompetensi dasar ini tercermin dalam bab 4 dan bab 5. Bab 4 yaitu mengenai meneladani nilai-nilai juang dan kebersamaan para tokoh. Dan bab 5 mengenai mengamalkan nilai-nilai pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut sesuai dengan kompetensi dasar dalam standar isi.
B. Civic Knowladge
Buku ajar BSE ini sudah mengembangkan civic knowladge karena dalam buku ini penjelaskan mengenai pengetahuan berdirinya bangsa Indonesia. Dan kebersamaan serta perjuangan rakyat Indonesia guna memperoleh kemerdekaan yang diakui oleh semua pihak. Dengan pengembangan civic knowladge ini siswa diharapkan mampu memahami mengapa pancasila dipilih sebagai dasar negara dan bagaimana proses perumusannya.
C. Civic Skill
Pada Bab I ini belum mengembangkan civic skill. Sehingga kemungkinan dapat mengakibatkan ketidakpahaman pada siswa.
D. Civic Disposition
Buku ajar BSE ini sudah mengembangkan civic disposition karena dalam buku ini siswa diajak untuk mengamalkan dan menerapkan nilai-nilai kebersamaan yang telah dicontohkan oleh pejuang dalam perumusan serta pencapaian mufakat dalam musyawarah menentukan dasar negara yang tepat. Serta mengamalkan pancasila dalam kehidupan sehari-hari sehingga dapat tercermin siswa yang sesuai dengan tujuan mata pelajaran PKn.
E. Kegrafikan dalam buku ajar
Kegrafikan sudah sesuai gender perempuan dan laki-laki dalam buku sudah adil dan seimbang atau tidak bias gender. Pada buku ini banyak menjelaskan tokoh dalam perjuangan bangsa. Namun gambar atau foto mengenai masing-masing tokoh masih kurang.



BAB II
SISTEM PEMERINTAHAN INDONESIA

Standar Isi
Standar kompetensi
Memahami Sistem Pemerintahan Republik Indonesia.
Kompetensi Dasar
2.1 Menjelaskan proses pemilu dan pilkada.
2.2 Mendeskripsikan lembaga-lembaga Negara sesuai UUD 1945 hasil amandemen.
2.3 Mendeskripsikan tugas dan fungsi pemerintahan pusat dan daerah.
Analisis:
A. Standar Isi
1. Standar Kompetensi yang tercantum dalam buku “Pendidikan Kewarganaan SD/MI Kelas VI” materi Sistem Pemerintahan Republik Indonesia sudah sesuai dengan standar isi yaitu Memahami Sistem Pemerintahan Republik Indonesia.
2. Kompetensi dasar yang tercantum dalam buku “Pendidikan Kewarganaan SD/MI Kelas VI” materi Sistem Pemerintahan Republik Indonesia sudah sesuai dengan standar isi yaitu:
2.1 Menjelaskan proses pemilu dan pilkada.
2.2 Mendeskripsikan lembaga-lembaga Negara sesuai UUD 1945 hasil amandemen.
2.3 Mendeskripsikan tugas dan fungsi pemerintahan pusat dan daerah.
B. Civic Knowledge
Dalam buku “Pendidikan Kewarganaan SD/MI Kelas VI” Bab II materi Sistem Pemerintahan Indonesia sudah mengarah pada pengembangan pendidikan kewarganegaraan menjadi good citizen aspek civic knowledge, yaitu tentang:
1. Menjelaskan lembaga-lembaga Negara sesuai amandemen UUD 1945, yaitu:
a. Mengenal pelaksanaan demokrasi melalui Pemilu dan Pilkada
b. Menyebutkan lembaga-lembaga negara di Indonesia
c. Membedakan lembaga legislative, eksekutif dan Yudikatif
d. Mengenal sistem pemerintahan pusat dan daerah
2. Menjelaskan tentang pemerintah pusat dan pemerintah daerah.
Dalam buku tersebut juga tertulis beberapa istilah-istilah penting, kuis, pengetahuan tambahan dalam konsep “Tahukah Kalian?”, dan kegiatan yang mengasah pengetahuan siswa. Contohnya:
a. Istilah
- Otonomi daerah adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah untuk mengatur pemerintahannya sendiri sesuai dengan peraturan perundang-indangan yang berlaku.
b. Kuis
“Perbedaan Pemilu dan Pilkada?”
“Persyaratan pemilih dalam Pemilu?”
“Sebutkan tugas yang diemban oleh Majelis Permusyawaratan rakyat”
C. Civic Skill
Dalam buku “Pendidikan Kewarganaan SD/MI Kelas VI” Bab II materi Sistem Pemeritahan Republik Indonesia sudah mengarah pada pengembangan pendidikan kewarganegaraan menjadi good citizen aspek civic skill, dimana dalam buku tersebut dituliskan beberapa kegiatan yang mengasah kemampuan psikomotor siswa, sebagai contohnya:
“lakukan kegiatan berikut. Tujuannya mengembangkan wawasan kontekstual dan keterampilan social kalian. Ajaklah 3 orang teman kalian untuk berdiskusi. Diskusikan perihal hubungan antarlembaga di Negara kita. Tuliskan hasil diskusi kelompok kalian dalam lembar tugas. Setelah selesai, bacakan hasil diskusi tersebut di depan kelas. Berikan kesempatan kepada teman kalian untuk bertanya ataupun mengomentari hasil diskusi kelompok kalian. Mintalah pula pendapat dari guru terhadap hasil diskusi kalian”.
Dalam kegiatan yang tertulis tersebut siswa dilatih untuk mengembangkan kemampuan psikomotornya untuk berdiskusi dalam kelompok, dan hasil diskusi dibacakan di depan kelas dihadapan guru dan teman-temannya.
D. Civic Dispotition
Dalam buku “Pendidikan Kewarganaan SD/MI Kelas VI” Bab II materi Sistem Pemeritahan Republik Indonesia sudah mengarah pada pengembangan pendidikan kewarganegaraan menjadi good citizen aspek civic dispotiton.
E. Kegrafikaan:
gambar-gambar yang ada di buku cukup menarik, tapi memang bias gender, mungkin hal ini dikarenakan materi berkaitan dengan sejarah jadi gambar tokoh-tokoh memeng seharusnya seperti kenyataannya.
Menurut kami, sebaiknya gambar- gambar yang dicantumkan berwarna sehingga menarik bagi siswa.

BAB III
PERAN INDONESIA DI KAWASAN ASIA TENGGARA

Standar Isi
Standar Kompetensi:
3. Memahami peran Indonesia dalam lingkungan negara-negara di Asia Tenggara.

Kompetensi Dasar
3.1. Menjelaskan pengertian kerjasama negara-negara Asia Tenggara.
3.2. Memberikan contoh peran Indonesia dalam lingkungan negara-
negara di Asia Tenggara.
Analisis:
A. Standar Isi
1. Standar Kompetensi yang tercantum dalam buku “Pendidikan Kewarganaan SD/MI Kelas VI” bab III materi “Peran Indonesia di Kawasan Asia Tenggara” sudah sesuai dengan standar isi yaitu Memahami peranan politik luar negeri Indonesia dalam era globalisasi.
2. Kompetensi dasar yang tercantum dalam buku “Pendidikan Kewarganaan SD/MI Kelas VI” bab III materi “Peran Indonesia di Kawasan Asia Tenggara” sudah sesuai dengan Standar Isi yaitu:
3.1. Menjelaskan pengertian kerjasama negara-negara Asia Tenggara.
3.2. Memberikan contoh peran Indonesia dalam lingkungan negara-
negara di Asia Tenggara.
Yang dijabarkan menjadi 4 tujuan pembelajaran, yaitu:
• Mejelaskan peran Indonesia melalui ASEAN
• Menyebutkan tujuan pendirian dan bentuk-bentuk kerja sama.
• Menjelaskan Peranan Indonesia di Asia Tenggara.
• Menyebutkan bentuk-bentuk kerja sama Indonesia dengan negara-negara lain di Asia Tenggara.
B. Civic Knowledge
Dalam buku “Pendidikan Kewarganaan SD/MI Kelas VI” Bab III materi “Peran Indonesia di Kawasan Asia Tenggara” sudah mengarah pada pengembangan Pendidikan Kewarganegaraan menjadi good citizen aspek civic knowledge, yaitu tentang:
a. Istilah
a. Deklarasi yaitu pernyataan yang
b. Netral artinya tidak memihak.
b. Kuis
c. Manakah negara yang Kawasan Asia Tenggara memiliki wilayahnya paling luas
d. Mengapa terjadi kemiripan kebudayaan di antara bangsa-bangsa di Asia Tenggara?
e. Siapakah orang yang menjabat Sekjen ASEAN pertama?
c. Tahukah kalian? Lambang ASEAN dan maknanya? KTT ASEAN terakhir dan Sekjen terbaru?
d. Materi:
• Hubungan Indonesia dengan Asia Tenggara dari masa ke masa.
• Kerjasama Indonesia dengan negara-negara di asia Tenggara sebagai anggota Asean.
i. Proses Pembentukan ASEAN
ii. Maksud dan tujuan ASEAN
Bentuk-bentuk kerja sama ASEAN dalam bidang ekonomi dan sosial budaya.
Peran Indonesia di ASEAN
C. Civic Skill
Dalam buku “Pendidikan Kewarganaan SD/MI Kelas VI” Bab III materi “Peran Indonesia di Kawasan Asia Tenggara” sudah mengarah pada pengembangan pendidikan kewarganegaraan menjadi good citizen aspek civic skill, dimana dalam buku tersebut dituliskan beberapa kegiatan yang mengasah kemampuan psikomotor siswa, sebagai contohnya:
1. “Carilah informasi tentang kejayaan kerajaan Majapahit dan peranannya di wilayah Asia Tenggara. Ringkaslah informasi yang kalian dapatkan itu dalam sebuah tulisan satu halaman. Setelah itu serahkan pada guru untuk dinilai! Selamat mengerjakan.”
2. “Selain Indonesia, ada sembilan negara Asia Tenggara yang menjadi anggota ASEAN. Negara-negara tersebut adalah Filipina, Malaysia, Singapura, Thailand, Brunei Darussalam, Vietnam, Laos, Myanmar, dan Kamboja. Pilihlah satu dari sembilan negara tersebut. Carilah data tentang negara yang telah kalian pilih di buku, majalah, atau internet. Tuliskan data tersebut dalam selembar kertas untuk dikumpulkan kepada guru. Selamat mengerjakan.”
D. Civic Dispotition
Dalam buku “Pendidikan Kewarganaan SD/MI Kelas VI” Bab III materi sudah mengarah pada pengembangan pendidikan kewarganegaraan menjadi good citizen aspek civic dispotition. Karena ada:
1) pembiasaan:
• Belajar dengan tekun
• Menjaga kelestarian lingkungan sekitar
• Menghargai perbedaan pendapat
• Bersikap ramah kepada siapa saja
• Menaati peraturan yang berlaku
E. Kegrafikaan
Dalam buku “Pendidikan Kewarganaan SD/MI Kelas VI” Bab III materi “Peran Indonesia di Kawasan Asia Tenggara” pada unsur kegrafikaan tidak ada bias gender.
BAB III
PENUTUP

Berdasarkan uraian pembahasan tersebut untuk menganaliss materi ajar PKN di SD/MI maka diperlukan buku ajar yang :
1. Untuk meningkatkan pemahaman peserta didik terhadap konsep generalisasi PPKn yang esensial dan aplikatif, serta dalam rangka meningkatkan kemampuan dan keterampilan klarifikasi nilai peserta didik melalui peluasan susmber belajar dan akomodasi isu-isu dan konflik nilai aktual di masyarakat lokal, regional, dan nasional, maka penyusunan buku ajar ini merupakan langkah yang sangat enovatif-strategis bagi pemberdayaan pembelajaran PPKn sebagai media strategis pendidikan dan pelatihan warga negara.
2. Perlunya dirancang model pembelajaarn PPKn yang dalam upaya meningkatkan kemampuan dan keterampilan klarifikasi nilai peserta didik, dan sekaligus dapat menjadi pendukung implementasi buku ajar PPKn . Aplikasi dari model pembelajaran yang dihasilkan dalam penelitian ini. hendaknya dirancang dengan mempertimbangkan latar sosial dan psikologis peserta didik, serta mengandung tahapan-tahapan yang mampu memfasilitasi peserta didik untuk terlibat secara dini dan optimal selama berlangsungnya pembelajaran, sehingga nantinya dapat meningkatkan pemahaman dan kemampuan serta keterampilan klarifikasi nilai peserta didik.







DAFTAR PUSTAKA

Andi H. Nasution. 1991. Kurikulum Pendidikan Dasar dan Struktur Pendidikan Dasar Lanjutan.
Surabaya
setiati widihastuti dan fajar rahayuningsih, 2009. Pendidikan kewarganegaraan sd/mi kelas VI Penerbit: bse (buku sekolah elektronik)

PENDEKATAN KONTEKSTUAL (CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING) DALAM PEMBELAJARAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

PENDEKATAN KONTEKSTUAL (CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING)
DALAM PEMBELAJARAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

MAKALAH



KATA PENGANTAR


Alhamdulillahirabbil alamin segala puji saya haturkan kehadirat allah swt,karena berkat petunjuk dan rahmatnya penulisan makalah inidapat terselesaikan dan sampai dihadapan para pembaca yang budiman semoga makalah ini membawa manfaat yang sebesar-besarnya dan memberikan sumbangan pengetahuan bagi para pembaca.

Shalawat salam mudah-mudahan tetap tercurahkan atas beliau junjungan kita nabi besar Muhammad saw yang telah membawa manusia dari alam kejahilan menuju alam yang penuh dengan ilmu pengetahuan seperti apa yang kita jumpai sekarang ini.

Dengan terselesaikannya penulisan makalah ini penulis tidak lupa mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berpartisipasi didalamnya.perlu diketahui didalam makalah ini tentunya banyak kekurangan dan kelemahan,maka dari itu penulis ucapkan mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Tegur sapa serta saran.dalam rangka penyempurnaan makalah ini senantiasa penulis harapkan.namun penulis berharap mudah-mudahan kekurangan yang terdapat dalam makalah ini tidak mengurangi nilai manfaat yang akan diberikan kepada para pembaca.akhirnya penulis ucapkan assalamu alaikum wr.wb.



Surabaya 10 Mei 2011
Penyusun










DAFTAR ISI

Kata pengantar ……………………………………………………….............................…..i

Daftar isi ………………………………………………………..........................…........ii

BAB 1 PENDAHULUAN……………………………...........................………..…..1

BAB 2 PEMBAHASAN…………………………...........................……………..…..2

BAB 3 KESIMPULAN……………………………………………...............................12

DAFTAR PUSTAKA……………………………………................................13

















BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang

Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan fakta dalam kehidupan siswa. CTL lebih menekankan pada rencana kegiatan kelas yang dirancang guru. Rencana kegiatan tersebut berisi skenario tahap demi tahap tentang apa yang akan dilakukan bersama siswanya sehubungan dengan topik yang akan dipelajari. Pembelajaran kontekstual lebih mementingkan strategi belajar bukan hasil belajar. Pembelajaran kontekstual mengharapkan siswa untuk memperoleh materi pelajaran meskipun sedikit tetapi mendalam bukan banyak tetapi dangkal.
Pembelajaran kontekstual mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapan dalam kehidupan sehari-hari. Komponen dalam pembelajaran kontekstual adalah konstruktivisme, inkuiri, bertanya, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi, dan penilaian yang sebenarnya. Apabila sebuah kelas menerapkan ketujuh komponen di atas dalam proses pembelajaran, maka kelas tersebut telah menggunakan model pembelajaran kontekstual. Penggunaan CTL dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia di kelas dapat menarik perhatian siswa karena CTL memiliki berbagai komponen sehingga pembelajaran tidak membosankan. Menurut Suyanto (2003:1) CTL dapat membuat siswa terlibat dalam kegiatan yang bermakna yang diharapkan dapat membantu mereka mampu menghubungkan pengetahuan yang diperoleh di kelas dengan konteks situasi kehidupan nyata. Pembelajaran dengan peran serta lingkungan secara alami akan memantapkan pengetahuan yang dimiliki siswa. Belajar akan lebih bermanfaat dan bermakna jika seorang siswa mengalami apa yang dipelajarinya bukan hanya sekedar mengetahui. Belajar tidak hanya sekedar menghafal tetapi siswa harus dapat mengonstruksikan pengetahuan yang dimiliki dengan cara mengaplikasikan pengetahuan yang dimiliki pada realita kehidupan sehari-hari. Dengan demikian pengembangan CTL dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia pada aspek mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis baik dari segi berbahasa maupun bersastra akan membuat pembelajaran lebih bervariasi.

Dalam proses belajar di kelas, siswa dibiasakan untuk saling membantu dan berbagi pengalaman dalam kelompok masyarakat belajar (learning community). Dalam proses belajar, guru perlu membiasakan anak untuk mengalami proses belajar dengan melakukan penemuan dengan melakukan pengamatan, bertanya, mengajukan hipotesis, mengumpulkan data analisis data, dan menarik kesimpulan (inquiry). Seluruh proses dan hasil belajar diukur dengan berbagai cara dan diamati dengan indikator yang jelas (outhentic assessment). Setiap selesai pembelajaran guru wajib melakukan refleksi terhadap proses dan hasil pembelajaran (refleksion).
Berdasarkan paparan di atas CTL merupakan salah satu model pembelajaran yang efektif diterapkan pada proses pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia di
kelas. Oleh karena itu, topik penerapan CTL dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia perlu dipaparkan lebih lanjut.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut.
(1) Apa pengertian pendekatan kontekstual (CTL)?
(2) Apa karakteristik Contextual Teaching and Learning?
(3) Apa saja komponen Contextual Teaching and Learning?
(4) Bagaimana penerapan Contextual Teaching and Learning dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia?

C. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut.
(1) Menjelaskan pengertian pendekatan kontekstual (CTL).
(2) Menjelaskan karakteristik Contextual Teaching and Learning.
(3) Menjelaskan komponen-komponen Contextual Teaching and Learning.
(4) Menjelaskan penerapan Contextual Teaching and Learning dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia.



BAB II
PEMBAHASAN
PENDEKATAN KONTEKSTUAL
(CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING)

Pendekatan kontekstual merupakan suatu pendekatan yang membantu guru mengaitkan isi materi pelajaran dengan keadaan dunia nyata. Pembelajaran ini memotivasi siswa untuk menghubungkan pengetahuan yang diperoleh di kelas, dan penerapannya dalam kehidupan siswa sebagai anggota keluarga, serta sebagai anggota masyarakat.

A. Pengertian Pendekatan Kontekstual (CTL)

CTL adalah salah satu strategi pembelajaran yang dikembangkan oleh The Washington State Consortium for Contextual Teaching and Learning, yang melibatkan 11 perguruan tinggi, 20 sekolah, dan lembaga-lembaga yang bergerak di bidang pendidikan di Amerika Serikat. Salah satu kegiatan dari konsorsium tersebut adalah melatih dan memberi kesempatan kepada para guru dari enam propinsi di Indonesia untuk mempelajari pendekatan kontekstual di Amerika Serikat (Priyatni, 2002:1).
Pendekatan kontekstual (CTL) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran afektif, yaitu konstruktivisme, bertanya, menemukan, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi, dan penilaian yang sebenarnya (Nurhadi, 2002:5).
Johnson (dalam Nurhadi, 2002:12) merumuskan pengertian CTL sebagai suatu proses pendidikan yang bertujuan membantu siswa melihat makna dalam bahan pelajaran yang mereka pelajari dengan cara menghubungkannya dengan konteks kehidupan sehari-hari, yaitu dengan konteks lingkungan pribadinya, sosialnya, dan budayanya. Untuk mencapai tujuan tersebut, sistem CTL, akan menuntun siswa ke semua komponen utama CTL, yaitu melakukan hubungan yang bermakna, mengerjakan pekerjaan yang berarti, mengatur cara belajar sendiri, bekerja sama, berpikir kritis dan kreatif, memelihara atau merawat pribadi siswa, mencapai standar yang tinggi, dan menggunakan penilaian sebenarnya.
Pendekatan CTL menurut Suyanto (2003:2) merupakan suatu pendekatan yang memungkinkan siswa untuk menguatkan, memperluas, dan menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang mereka peroleh dalam berbagai macam mata pelajaran baik di sekolah maupun di luar sekolah.
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kontekstual adalah konsep belajar pada saat guru menghadirkan dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, sementara siswa memperoleh pengetahuan dan keterampilan dari konteks yang terbatas, sedikit demi sedikit, dan dari proses mengonstruksi sendiri, sebagai bekal untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya sehari-hari.

B. Karakteristik Contextual Teaching and Learning
Menurut Johnson (dalam Nurhadi, 2002:14) terdapat delapan utama yang menjadi karakteristik pembelajaran kontekstual, yaitu (1) melakukan hubungan yang bermakna, (2) mengerjakan pekerjaan yang berarti, (3) mengatur cara belajar sendiri, (4) bekerja sama, (5) berpikir kritis dan kreatif, (6) mengasuh atau memelihara pribadi siswa, (7) mencapai standar yang tinggi, dan (8) menggunakan penilaian sebenarnya.
Nurhadi (2003:20) menyebutkan dalam kontekstual mempunyai sebelas karakteristik antara lain yaitu (1) kerja sama, (2) saling menunjang, (3) menyenangkan, (4) belajar dengan bergairah, (5) pembelajaran terintegrasi, (6) menggunakan berbagai sumber, (7) siswa aktif, (8) sharing dengan teman, (9) siswa aktif, guru kreatif, (10) dinding kelas dan lorong-lorong penuh dengan hasil karya siswa, peta-peta, gambar, artikel, humor, dan lain-lain, serta (11) laporan kepada orang tua bukan hanya rapor, tetapi hasil karya siswa, laporan hasil praktikum, karangan siswa, dan lain-lain.
Priyatni (2002:2) menyatakan bahwa pembelajaran yang dilaksanakan dengan CTL memiliki karakteristik sebagai berikut.
(1) Pembelajaran dilaksanakan dalam konteks yang autentik, artinya pembelajaran diarahkan agar siswa memiliki keterampilan dalam memecahkan masalah dalam
konteks nyata atau pembelajaran diupayakan dilaksanakan dalam lingkungan yang alamiah (learning in real life setting).
(2) Pembelajaran memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengerjakan tugas-tugas yang bermakna (meaningful learning).
(3) Pembelajaran dilaksanakan dengan memberikan pengalaman bermakna kepada siswa melalui proses mengalami (learning by doing).
(4) Pembelajaran dilaksanakan melalui kerja kelompok, berdiskusi, saling mengoreksi (learning in a group).
(5) Kebersamaan, kerja sama saling memahami dengan yang lain secara mendalam merupakan aspek penting untuk menciptakan pembelajaran yang menyenangkan (learning to knot each other deeply).
(6) Pembelajaran dilaksanakan secara aktif, kreatif, kreatif, dan mementingkan kerja sama (learning to ask, to inquiry, to York together).
(7) Pembelajaran dilaksanakan dengan cara yang menyenangkan (learning as an enjoy activity).

C. Komponen Contextual Teaching and Learning
Pembelajaran kontekstual (CTL) memiliki tujuh komponen utama, yaitu sebagai berikut.
(1) Konstruktivisme (construktivism)
Konstruktivisme merupakan landasan filosofi pendekatan CTL yang menyatakan bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit dan tidak sekonyong-konyong). Strategi pemerolehan pengetahuan lebih diutamakan dibandingkan dengan seberapa banyak siswa mengingat pengetahuan. Konsep konstruktivisme menuntut siswa untuk dapat membangun arti dari pengalaman baru pada pengetahuan tertentu.
Priyatni (2002:2) menyebutkan bahwa pembelajaran yang berciri konstruktivisme menekankan terbangunnya pemahaman sendiri secara aktif, kreatif, dan produktif dari pengalaman atau pengetahuan terdahulu dan dari pengalaman belajar yang bermakna. Siswa perlu dibiasakan untuk memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ide-ide. Siswa harus mengonstruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri.

(2) Inkuiri (inquiry)
Menemukan merupakan strategi belajar dari kegiatan pembelajaran kontekstual. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri. Guru harus selalu merancang kegiatan yang merujuk pada kegiatan menemukan, apa pun materinya.
Inkuiri adalah siklus proses dalam membangun pengetahuan yang bermula dari melakukan observasi, bertanya, investigasi, analisis, kemudian membangun teori atau konsep. Inkuiri diawali dengan pengamatan untuk memahami konsep atau fenomena dan dilanjutkan dengan melaksanakan kegiatan bermakna untuk menghasilkan temuan. Priyatni (2002:2) menjelaskan bahwa inkiri dimulai dari kegiatan mengamati, bertanya, mengajukan dugaan sementara (hipotesis), mengumpulkan data, dan merumuskan teori sebagai kegiatan terakhir.

(3) Bertanya (questioning)
Bertanya merupakan keahlian dasar yang dikembangkan dalam pembelajaran CTL. Bertanya dalam pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berpikir siswa. Bagi siswa, kegiatan bertanya merupakan bagian penting dalam melaksanakan pembelajaran yang berbasis inkuiri, yaitu menggali informasi, mengonfirmasikan apa yang sudah diketahuinya, dan mengarahkan perhatian pada aspek yang belum diketahui.
Konsep ini berhubungan dengan kegiatan tanya jawab yang dilakukan baik oleh guru maupun oleh siswa. Pertanyaan sebagai wujud pengetahuan yang dimiliki. Tanya jawab dapat diterapkan antara siswa dengan siswa, guru dengan siswa, siswa dengan guru, atau siswa dengan orang lain yang didatangkan ke kelas.

(4) Masyarakat belajar (learning commnunity)
Masyarakat belajar merupakan penciptaan lingkungan belajar dalam pembelajaran kontekstual (CTL). Masyarakat belajar adalah kelompok belajar yang berfungsi sebagai wadah komunikasi untuk berbagi pengalaman dan gagasan. Aplikasinya dapat berwujud dalam pembentukan kelompok kecil atau kelompok besar serta mendatangkan ahli ke kelas, atau belajar dengan teman-teman lainnya. Belajar bersama dengan orang lain lebih baik dibandingkan dengan belajar sendiri.
Konsep masyarakat belajar menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerja sama dengan orang lain. Hasil belajar diperoleh dari berbagi pengalaman antarteman, antarkelompok, dan antara yang tahu ke yang tidak tahu. Pembelajaran kontekstual dilaksanakan dalam kelompok-kelompok belajar yang anggotanya heterogen sehingga sehingga akan terjadi kerja sama antara siswa yang pandai dengan siswa yang lambat. Kegiatan masyarakat belajar difokuskan pada aktivitas berbicara dan berbagai pengalaman dengan orang lain. Priyatni (2002:3) menyebutkan bahwa aspek kerja sama dengan orang lain untuk menciptakan pembelajaran yang lebih baik adalah tujuan pembelajaran yang menerapkan learning community.

(5) Pemodelan (modelling)
Model merupakan acuan pencapaian kompetensi dalam pembelajaran kontekstual. Konsep ini berhubungan dengan kegiatan mendemonstrasikan suatu materi pelajaran agar siswa dapat mencontoh atau agar dapat ditiru, belajar atau melakukan dengan model yang diberikan. Dalam pembelajaran kontekstual, guru bukan satu-satunya model, siswa juga dapat berperan aktif dalam mencoba menghasilkan model.
Priyatni (2002:3) menyatakan bahwa kegiatan pemberian model bertujuan untuk membahasakan gagasan yang kita pikirkan, mendemonstrasikan bagaimana kita menginginkan para siswa untuk belajar, atau melakukan apa yang kita inginkan agar siswa melakukannya.

(6) Refleksi (reflction)
Refleksi merupakan langkah akhir dari belajar dalam pembelajaran kontruktivisme. Konsep ini merupakan proses berpikir tentang apa yang telah dipelajari. Proses telaah terhadap kejadian, aktivitas, dan pengalaman yang dihubungkan dengan apa yang telah dipelajari siswa, dan memotivasi munculnya ide-ide baru. Refleksi berarti melihat kembali suatu kejadian, kegiatan dan pengalaman dengan tujuan untuk mengidentifikasi hal yang telah diketahui, dan hal yang belum diketahui. Realisasinya adalah pertanyaan langsung tentang apa-apa yang
diperolehnya hari itu, catatan di buku siswa, kesan dan saran siswa mengenai pembelajaran pada hari itu.
Priyatni (2002:3) menjelaskan bahwa kegiatan refleksi adalah kegiatan memikirkan apa yang telah kita pelajari, menelaah, dan merespons semua kejadian, aktivitas, atau pengalaman yang terjadi dalam pembelajaran, dan memberikan masukan-masukan perbaikan jika diperlukan.

(7) Penilaian yang sebenarnya (authentic assessment)
Penilaian yang sebenarnya merupakan proses pengumpulan berbagai data dan informasi yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Dalam pembelajaran kontekstual, penilaian ditekankan pada proses pembelajarannya, maka data dan informasi yang dikumpulkan harus diperoleh dari kegiatan nyata yang dikerjakan siswa pada saat melakukan proses pembelajarannya.
Penilaian yang sebenarnya merupakan tindakan menilai kompetensi siswa secara nyata dengan menggunakan berbagai alat dan berbagai teknik tes, portofolio, lembar observasi, unjuk kerja, dan sebagainya. Prosedur penilaian yang menunjukkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap siswa secara nyata. Penilaian yang sebenarnya ditekankan pada pembelajaran yang seharusnya membantu siswa agara mamapu mempelajari sesuatu, bukan hanya memperoleh informasi pada akhir periode. Kemajuan belajar siswa dinilai bukan hanya yang berkaitan dengan nilai tetapi lebih pada proses belajarnya.

D. Penerapan Contextual Teaching and Learning dalam Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia
Pembelajaran bahasa Indonesia bertujuan menanamkan bekal keterampilan berbahasa dan bersastra Indonesia bukan hanya memberikan pengetahuan. Pembelajaran bahasa Indonesia harus dibuat semenarik mungkin agar siswa antusias mengikuti proses belajar mengajar. Pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia menghendaki sebuah proses pragmatik, bukan teoritik belaka. Pembelajaran yang memanfaatkan CTL sangat diperlukan.
Menurut Endraswara (2003:58) pendekatan kontekstual memang cukup strategis karena menghendaki (1) terhayati fakta yang dipelajari, (2) permasalahan yang akan dipelajari harus jelas, terarah, rinci, (3) pragmatika materi harus mengacu pada kebermanfaatan secara konkret, dan (4) memerlukan belajar kooperatif dan mandiri.
Penerapan CTL dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia pada aspek membaca, berbicara, mendengarkan, dan menulis baik dari segi berbahasa maupun bersastra dipaparkan sebagai berikut.
(1) Penerapan CTL dalam Pembelajaran Membaca
Membaca menurut Komaruddin (2005:21) adalah mengeja atau melafalkan apa yang tertulis atau melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis (dengan melisankan atau hanya dalam hati). Membaca merupakan salah satu kemampuan berbahasa yang harus dikuasai oleh siswa. Kegiatan membaca tersusun dari empat komponen, yaitu strategi, kelancaran, pembaca, dan teks.
Dalam pembelajaran membaca, guru dapat menciptakan masyarakat belajar di kelas. Masyarakat belajar berfungsi sebagai wadah bertukar pikiran, bertukar informasi, tanya jawab tentang berbagai permasalahan belajar yang dihadapi, dan pada akhirnya dicari solusi tentang permasalahan tersebut.
Guru seharusnya menjadi model yang mendemonstrasikan teknik membaca yang baik di kelas. Guru juga harus memonitor pemahaman siswa. Memonitor pemahaman penting untuk mencapai sukses membaca. Salah satu hal yang terkait dalam proses memonitor ini adalah kemampuan siswa dalam mencapai kompetensi dasar yang telah ditetapkan guru. Guru harus seimbang baik posisinya sebagai pendamping siswa maupun pengembang keterampilan siswa dalam pemahaman bacaan.
(2) Penerapan CTL dalam Pembelajaran Berbicara
Berbicara merupakan salah satu kompetensi dasar yang berusaha mengungkapkan gagasan melalui bahasa lisan. Berbicara merupakan kegiatan menghubungkan antara semata dengan kepercayaan diri untuk tampil mengungkapkan gagasan. Suasana kelas memiliki peran dalam pembelajaran berbicara.
Pembelajaran di kelas dapat menggunakan teknik belajar dalam konteks interaksi kelompok (cooperating). Guru membuat suatu kelompok belajara (learning community). Dalam komunitas tersebut siswa berusaha untuk mengutarakan pikirannya, berdiskusi dengan teman. Konsep dasar dalam teknik ini adalah menyatukan pengalaman-pengalamn dari masing-masing individu. Teknik ini memacu siswa untuk berkomentar, mengungkapkan gagasannya dalam komunitas belajar. Tahap pertama, siswa diberikan peluang untuk berbicara. Apabila terdapat
kesalahan penggunaan bahasa, guru dapat memberikan pembenaran selanjutnya. Menumbuhkan keterampilan berbicara, dimulai dengan menumbuhkan kepercayaan diri pada diri siswa.
Prinsip CTL memuat konsep kesalingbergantungan para pendidik, siswa, masyarakat, dan lingkungan. Prinsip tersebut memacu siswa untuk turut mengutarakan pendapat dalam memecahkan masalah. Prinsip diferensiasi dalam CTL membebaskan siswa untuk menjelajahi bakat pribadi, membebaskan siswa untuk belajar dengan cara mereka sendiri. CTL merupakan salah satu alternatif pembelajaran inovatif, kreatif, dan efektif.
Keterampilan berbicara menggunakan bentuk penilaian berupa unjuk kerja. Siswa diberikan instrumen yang dapat membuatnya berbicara atau berkomentar. Berpidato, menceritakan kembali, berkomentar, bertanya merupakan salah satu kegiatan dalam berbicara. Penilaian yang dilakukan guru harus sesuai dengan fakta di kelas. Siswa yang pandai berbicara layak mendapatkan nilai tinggi dalam kompetensi berbicara dibandingkan siswa yang frekuensi berbicaranya rendah.
(3) Penerapan CTL dalam Pembelajaran Mendengarkan
Mendengarkan adalah proses menangkap pesan atau gagasan yang disampaikan melalui ujaran. Keterampilan mendengarkan membutuhkan daya konsentrasi lebih tinggi dibanding membaca, berbicara, dan menulis. Ciri-ciri mendengarkan adalah aktif reseptif, konsentratif, kreatif, dan kritis. Pembelajaran mendengarkan dalam CTL mengharuskan guru untuk membiasakan siswanya untuk mendengarkan. Mendengarkan dapat melalui tuturan langsung maupun rekaman. Kemudian siswa diberikan instrumen untuk menjawab beberapa pertanyaan.
Teknik-teknik penilaian yang digunakan untuk mengetahui perkembangan siswa pada keterampilan mendengarkan dapat menggunakan teknik observasi. Observasi dilakukan guru dengan melihat dan mencatat hal-hal yang berkaitan dengan perkembangan menyimak siswa. Proses perekaman dapat dilakukan guru menggunakan buku atau lembar observasi untuk siswa. Rekaman observasi ini berisi perilaku siswa saat pembelajaran menyimak berlangsung dan pembelajaran keterampilan yang lain.
Teknik kedua adalah dengan portofolio merupakan kumpulan hasil karya siswa dalam satu periode waktu tertentu, misalnya satu semester yang menggambarkan perkembangan siswa dalam keterampilan menyimak. Data yang didapat dari portofolio digunakan untuk mengetahui perkembangan belajar menyimak siswa.
Teknik ketiga adalah jurnal dalam mendengarkan. Jurnal digunakan untuk merekam atau meringkas aspek-aspek yang berhubungan dengan topik-topik kunci yang dipahami, perasaan siswa terhadap pembelajaran menyimak, kesulitan yang dialami atau keberhasilan siswa dalam mencapai kompetensi yang dipelajari. Jurnal dapat berupa diary, atau catatan siswa yang lain.
(4) Penerapan CTL dalam Pembelajaran Menulis
Menulis merupakan penyampaian gagasan dalam bentuk bahasa tulis. Salah satu keterampilan pembelajaran menulis adalah pembelajaran menulis kreatif.
Keterampilan menulis kreatif bukan hanya berpusat pada guru sebagai informan melainkan siswa sendiri yang harus berperan aktif dalam pembelajaran. Guru hanya memberikan instruksi kepada siswa untuk membuat karangan kreatif tanpa ada penguatan sebelumnya.
Salah satu tujuan pembelajaran kontekstual adalah mempertemukan konsep-konsep yang dipelajari di dalam ruang kelas dengan kenyataan aktual yang dapat dipahami dengan konsep-konsep teoretis itu dalam kenyataan lingkungan terdekatnya. Guru seharusnya dapat memberikan ruang bebas untuk siswa agar dapat mengungkapkan gagasannya, tanpa perlu dibatasi. Komponen CTL berwujud refleksi adalah berusaha untuk menghubungkan apa yang telah dipelajari dengan realitas sehari-hari siswa. Instrumen yang diberikan guru dapat berupa pemberian tugas menuliskan kegiatan sehari-hari dalam sebuah diary yang pada nantinya dapat dijadikan sebuah dokumen portofolio. Isi diary adalah tentang apa yang dipelajari hari itu, permasalahan apa yang dihadapi, serta proses pencarian jawaban tentang permasalahan tersebut. Setelah siswa menulis diary dalam periode tertentu, guru dapat melakukan penilaian tentang tulisan siswa tersebut dan pada akhirnya ditentukan keputusan siswa tersebut telah dapat memenuhi kompetensi atau belum.
Seorang guru yang memiliki kompetensi memadai seharusnya dapat melakukan penilaian secara autentik tentang kegiatan menulis siswanya. Penilaian yang sebenarnya adalah penilaian berbasis siswa. Penilaian guru tentang kegiatan menulis siswa harus sesuai dengan kompetensi siswa yang sesungguhnya. Guru harus membuat rubrik penilaian yang dapat mencakup semua aspek yang akan dinilai. Sebelum membuat rubrik, guru harus dapat membuat instrumen yang mudah dimengerti oleh siswa, dan instrumen yang dapat membuat siswa berpikir kritis dan kreatif. Instrumen menulis yang dibuat guru harus dapat memfasilitasi siwa untuk menulis kreatif.

















BAB III
PENUTUP

Contextual Teaching and Learning (CTL) atau pembelajaran kontekstual merupakan konsep belajar yang mengaitkan materi yang diajarkan dengan realitas dunia siswa sehingga siswa dapat membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapannya. Pembelajaran bahasa bukan hanya memberikan pemahaman berupa definisi melainkan siswa dituntut untuk dapat menemukan pengetahuannya sendiri. Guru harus memiliki strategi yang memacu siswa untuk dapat berpikir kritis dan kreatif.
Implementasi CTL pada pembelajaran membaca, berbicara, menulis, dan mendengarkan dapat membuat pembelajaran lebih kreatif, dan menuntut siswa untuk lebih berpikir kritis. Artinya siswa dipacu untuk menghubungkan antara materi yang diajarkan dengan kehidupan sehari-hari. Guru harus dapat menjadi model pada kompetensi tertentu, sehingga siswa mendapatkan contoh atau model untuk mengambangkan konsep yang didapat.
Pembelajaran bahasa Indonesia dengan metode CTL akan membuat pembelajaran semakin menarik dan kreatif tanpa menghilangkan tujuan pembelajaran. Guru seharusnya dapat menciptakan berbagai strategi pembelajaran yang inovatif sehingga siswa semakin berantusias mengikuti pembelajaran. Kerja sama yang baik antara para pelaksana pendidikan dengan masyarakat akan memperlancar proses pendidikan.














DAFTAR PUSTAKA

Endraswara, Suwardi. 2003. Membaca, Menulis, mengajarkan Sastra. Yogyakarta: Kota Kembang.
Komaruddin, Erien. 2005. Panduan Kreatif Bahasa Indonesia. Bogor: Yudhistira.
Nurhadi, dkk. 2002. Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning/CTL) dan Penerapannya dalam KBK. Malang: Universitas Negeri Malang.
Priyatni, Endah Tri. 2002. Kurikulum Berbasis Kompetensi dan Pembelajaran Konteksual. Makalah disajikan dalam Semlok KBK dan Pembelajarannya di SMAN 2 Jombang. Malang: Universitas Negeri Malang.
Priyatni, Endah Tri. 2002. Penerapan Konsep dan Prinsip Pengajaran dan Pembelajaran dan Pembelajaran Kontekstual dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia. Kumpulan Materi TOT CTL Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Sekolah Lanjutan Tingkat pertama. Jakarta: Depdiknas.
Suyanto, Kasihani E. 2003. Pengajaran dan Pembelajaran Kontekstual. Makalah disajikan dalam Penataran Terintegrasi, AA dalam CTL. Malang: Universitas Negeri Malang

AleXa Rank

pak-boedi.blogspot.com-Google pagerank,alexa rank,Competitor

IP Adrress....KaMu...

ip-location

Protected by News3Best

Get this widget

boedis@2012. Powered by Blogger.

Adsense

 
Support : Copyright © 2011. MAKALAH PENDIDIKAN INDONESIA - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger